Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 23-09-2010 | 20:15:27
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “HIKMAH SEBUAH PENDERITAAN”
Luk 9:43b-45,Sabtu, 25 September 2010

Dalam pidato di hadapan peserta sidang majelis umum PBB, Kofi Annan, mantan sekertaris jenderal PBB mengecam negara-negara yang sudah berjanji untuk memberi bantuan kepada negara-negara miskin tetapi sampai saat ini belum merealisasikan janjinya itu. Selain itu dia juga meminta para pemimpin dunia untuk menyadarkan masyarakatnya agar peka terhadap situasi orang-orang di sekitarnya, waspada karena perbedaan tingkat kehidupan bisa menimbulkan konflik. Dan setiap kita bertugas untuk membantu sesama keluar dari penderitaan mereka. Seperti yang lain semua kita mengimpikan kebahagiaan. Untuk itu segala jalan kita tempuh, semua tenaga kita kerahkan. Tetapi ceritera keseharian kita justeru jauh berbeda dari apa yang kita impikan. Yang kita saksikan justeru situasi sebaliknya. Hampir setiap hari kita mendengar, membaca ataupun menyaksikan wajah suram hidup ini; kesengsaraan dan penderitaan di ber-bagai belahan dunia bahkan mungkin kita sendiri sedang mengalaminya. Reaksi kitapun beragam terhadap siutasi yang satu ini. Ada yang pasrah karena menurut mereka itulah garisan hidupnya, ada yang menolak karena memang mereka ada bukan untuk menderita dan yang mereka usahakan adalah kebahagiaan. Ada lagi yang coba bersikap bijak; menerima sambil belajar bagaimana bisa menghindarinya; “yang pahit jangan cepat dibuang dan yang manis jangan cepat ditelan”. Ada yang melihat penderitaan sebagai harga yang mesti dibayar dan ada lagi yang melihat bahwa penderitaan merupakan batu uji perjuangan yang sedang dijalankan; apakah orang tabah atau tidak dan orang disadarkan bahwa memperoleh kebahagiaan tidak mudah. Ada lagi yang melihat bahwa kadang kita perlu menderita demi kebaikan orang lain. Apapun pandangan kita tentang penderitaan, satu hal yang mesti kita catat; kadang kita perlu menderita supaya kita memahami betapa berartinya kebahagiaan.

Saya tidak tahu bagaimana situasi anda saat ini tetapi yang saya tahu pasti andapun merasa tidak enak bila kita berdiskusi tentang penderitaan. Karena hal ini boleh jadi membuat luka lama anda kembali berdarah. Hal yang sama terjadi di antara para murid ketika Yesus memberitakan tentang penderitaanNya dan nasib yang akan menimpahNya. Para murid tidak mengerti karena seorang Yesus, pembuat mukjizat harus menderita. Pernyataan Yesus membuyarkan mimpi mereka tentang kebahagiaan mengikuti Dia dan membangun kesan menakut-nakuti mereka, menciutkan nyali mereka untuk terus mengikuti Diaapakah inilah yang dimaksudkan Yesus? Lewat pernyataan ini, Yesus hendak mengingatkan para muridNya bahwa mengikuti Dia tidak mudah. Memilih mengikuti Dia bukanlah jaminan bebas dari perlakuan tidak adil. Justeru sebaliknya mereka akan mengalami nasib dan perlakuan yang sama; kalau Ia dibenci mereka juga akan dibenci. Kebaikan yang mereka lakukan tidak akan selalu mendatangkan tanggapan positif ataupun sanjungan. Dengan pernyataan ini, pertama-tama Yesus sebenarnya hendak memurnikan motivasi para muridNya. Mereka jangan terlalu berpikir yang muluk-muluk, sebaliknya mereka perlu siap batin untuk menghadapi kenyataan. Ini satu awasan bagi mereka. Kedua, mereka diberi waktu untuk memutuskan apakah harus terus mengikuti Dia atau kembali ke hidup yang lama. Karena mengikuti Dia, seorang murid tidak saja akan menyaksikan peristiwa perbanyakan roti atau perubahan air menjadi anggur, tetapi juga siap untuk ditolak dan dianiaya, mengahdapi saat Getzemani. Memilih mengikuti Dia berarti harus siap untuk menderita. Di sini tahan terhadap penderitaan menjadi bukti kemuridan dan sejatinya seorang pengikut. Kalau emas diuji dalam tanur api, kesetiaan seorang murid diuji dalam tanur kehidupan. Seorang murid mesti berani untuk menderita, siap untuk berkorban karena boleh jadi seperti Yesus kebaikan yang diwartakan akan menjadi senjata penbunuh dirinya. Penderitaan dan penolakan mesti melahirkan sikap tahan uji dan tidak boleh mematikan semangat mereka untuk tetap berbuat baik. Penderitaan, rintangan, tanggapan negatif harus membuat mereka kreatif. Mereka mesti melakukan hal-hal kecil yang berpengaruh besar. Lebih dari itu, mereka disadarkan untuk tahu menempatkan diri karena tidak semua orang yang mereka hadapi punya pandangan dan sikap yang sama. Kalau dunia mau dilayani mereka harus siap melayani karena ini bukti lain dari kemuridan.

Anda dan saya, kita adalah pengikut-pengikut Kristus di era di mana orang mengkultuskan posisi dan kedudukan agar bisa mendapatkan pelayanan yang special. Dalam dunia semacam ini, kemuridan kita dipertaruhkan dan keputusan kita untuk mengikuti Dia diuji. Di sini iman kita justeru diuji oleh keinginan kita sendiri; mengikuti Yesus atau mengikuti dunia. Mengikuti Yesus memang tidak mudah dan menderita bukanlah impian kita. Setiap pilihan punya konsekuensi, memilih mengikuti Dia berarti kita mesti berhadapan dan menempuh jalan yang tidak mudah ini, kita harus siap menderita, punya kerelaan untuk berkorban. Penderitaan dan penolakan harus dijadikan peluang untuk bersaksi, mematangkan iman kita, meneguhkan langkah kita untuk tetap mengikuti Dia. Karena itu jangan takut menderita. Takutlah bila kehadiran anda menghadirkan penderitaan bagi sesama.

“Penderitaan punya hikmah bagi kita; dari sana kita belajar menghargai kebahagia dan diuji untuk menemukan jalan baru bagaimana mewujudkan impian kita tentang hari esok yang lebih baik”.
[ back ]
footer2.jpg