Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 22-09-2010 | 21:36:48
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “ANDA SIAP UNTUK BERUBAH”
Mat 9:9-13,Selasa, 21 September 2010

Apakah anda pernah mengalami beratnya meninggalkan satu tempat yng sudah anda akrabi bertahun-tahun? Tahun 1999, setelah jajak pendapat dan kerusuhan mulai menjalar hampir di seluruh Timor Timur, demi keselamatan, kami terpaksa meninggalkan tempat dan orang-orang yang tidak pernah kami benci; mereka yang telah bersama kami menyaksikan suka dan duka hidup di daerah konflik. Setelah bertahun-tahun meninggalkan daerah misi itu, mendengar ceritera ataupun bertemu dengan orang-orang yang pernah menghirup udara tanah impian itu, kami selalu melewatkan waktu bersama bernostalgia tentang manisnya kenangan. Dan di saat itu, film dokumentar kenangan diputar kembali. Saya tidak pernah menyesal meninggalkan tempat itu, sebaliknya saya bersyukur karena saya diberi kesempatan untuk bisa belajar bagaimana hidup sebagai seorang misionaris di tengah masyarakat yang impiannya seperti nyala pelita yang dipermainkan angin; bertemu dengan orang-orang yang selalu tersenyum ramah walaupun hatinya tengah gelisah karena sewaktu-waktu nasibnya bisa berubah. Di sini saya melihat nilai lain dari pertemuan dan perpisahan itu; bila antara kita dan keber-samaan ada saling pengaruh maka kemungknan besar ada rasa gelisah saat hendak melepaskan sesuatu ataupun meninggalkan kebersamaan itu tempat di mana hati kita telah terpaut. Banyak orang frustrasi karena kehilangan pekerjaan yang telah digeluti bertahun-tahun, atau perginya seseorang yang berarti dalam hidup mereka. Saat itu, seperti ada sesuatu yang hilang dari kehidupan anda, rongga dada anda se-pertinya terdapat ruang kosong. Detik-detik perpisahan itu sepertinya begitu berarti dan mesti dinikmati sebisa mungkin; kita tidak ingin kehilangan momen karena bila dibiarkan berlalu begitu saja dia tak pernah akan kembali. Di satu sisi, kenyataan ini melukiskan betapa sulitnya kita meninggalkan sesuatu yang telah kita kenal dan kita hidupi bukan hanya sehari dua tetapi bertahun-tahun. Dan di sisi lain, kadang walaupun pahit tetapi kita mesti membuat keputusan untuk meninggalkan melepaskan sesuatu bila kita menghendaki sejarah hidup ini berubah. Boleh kita katakan bahwa hal ini menjadi satu titik balik. Di sini perjuangan dibutuhkan, pengorbanan adalah keharusan. Sadarkah anda bahwa merubah jalan hidup berarti bersedia kehilangan yang lain. Sanggupkah anda menghadapinya?

Kalau kita membolak-balik lembaran harian kita, kita akan menemukan kenyataan bahwa sudah ada banyak orang yang datang dan pergi dari hidup kita. Pertemuan dengan mereka; ada yang begitu berkesan, ada yang biasa-biasa saja dan ada lagi yang luar biasa; kehadirannya merubah seluruh irama hidup kita-seluruh hari kita sepertinya dipenuhi oleh keha-dirannya. Demikian pula pertemuan dengan Yesus. Bila kita jeli mengamati apa yang dikisahkan Kitab Suci, kita dapat menyimpilkan bahwa bertemu dengan Yesus berarti siap berubah haluan; manusia diberi kesempatan untuk memutuskan; menekuni hidup lama atau meninggalkannya dan menjalani hidup baru. Berhadapan denganNya kesejatian kita dipertaruhkan, kekerasan hati kita ditantang. Ia selalu datang; bertemu dengan manusia dalam segala situasi hidupnya. Ia datang dengan tawaran untuk berbalik, ambil bagian dalam karya keselamatan di mana manusia bebas memilih. Seperti seorang pemukat, undanganNya selalu ditujukan kepada siapa saja, jawaban manusia pun beragam bergantung apakah ia siap menerima tawaran itu atau tidak. Seperti biasa sikap manusia selalu diwakili oleh dua ekstrim; sikap seorang Matius yang siap meninggalkan segalanya dan mengikuti Dia tanpa banyak pertanyaan dan sikap kaum Farisi yang merasa diri jauh lebih baik dari para pendosa. Ingat pada saat kita menganggap diri jauh lebih baik dari orang lain, di saat itu kekurangan kita mulai nampak. Siapakah kita dia hadapan Yesus dan sesama? Pesta dan kisah injil hari ini mengajarkan kita beberapa hal; pertama, mengikuti Yesus kita mesti bersedia meninggalkan segalanya; Yesus tidak melihat masa lalu kita, Dia menilai kesediaan kita untuk beralih dari hidup lama ke hidup baru; hidup yang dijiwai oleh keharian dan pengaruhNya. Kedua, mengikuti Yesus kita mesti menjauhkan sikap dan mental kaum Farisi yang menganggap diri jauh lebih baik dari orang lain. Menilai bahwa dipilih untuk mengikuti Yesus merupakan peluang emas, saat berahmat untuk membaharui diri. Di era teknologi ini, begitu banyak orang berlagak seperti kaum farisi; mereka telah kehilangan/ketiadaan rasa malu; menganggap mereka jauh lebih baik dari orang lain sehingga mereka coba mengangkat kepada hendak melebihi puncak gunung dan berteriak hendak melebihi deru ombak samudera padahal jiwanya masih terpenjara dalam gua yang paling gelap. Sikap Yesus jelas; tawaran diberikan kepada semua orang; siapkah kita menerimanya? Adakah sesama berubah jauh lebih baik saat bertemu dengan kita? Kita tidak perlu menulis injil-injil baru seperti Mateus yang menuangkan segala pengalamannya bersama Yesus dalam Injilnya. Cukup kita berusaha agar lewat hidup dan karya kita orang bisa memahami dan menghidupi apa yang ditulis Mateus. Kita mesti menjadi injil-injil yang hidup yang sedang ditulis jaman ini.

Yesus selalu hadir dalam keseharian kita; apakah kita menyadarinya atau tidak. Bertemu denganNya berarti siap berubah haluan/jalan hidup. Siapakah kita dalam kehidupan bersama; Matius yang siap beralih status ataukah orang Farisi yang suka mengeritik tanpa usaha untuk memperbaiki. Dunia kita dewasa ini telah mengalami kelangkaan orang-orang seperti Matius karena tempat mereka telah diambil alih oleh kaum Farisi modern; kitalah yang mesti merasa terpanggil untuk merubah garis hidup mereka? Apakah seperti Yesus, kehadiran kita selalu membawa sesama berubah ke arah yang jauh lebih baik atau jauh lebih buruk dari kaum Farisi di jaman Yesus? Siapapun anda dan apapun yang sedang anda lakukan; anda dan saya sedang diundang untuk mengikuti Dia; bersediakah kita?

“Hidup baru hanya mungkin kita alami kalau kita siap meninggalkan hidup kita yang lama dan menjadikan hidup dan misi Yesus, hidup dan misi kita”.
[ back ]
footer2.jpg