Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 22-09-2010 | 21:33:16
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : TEMPATKAN PELITAMU PADA TEMPATNYA
Lukas 8:16-18,Senin, 20 September 2010

Mungkin saja anda baru bangun tidur, dan merasa bahwa hanya anda yang berada ditempat itu. Tetapi ketahui bahwa anda tidak pernah sendiri karena pada saat anda merasa sendiri di saat yang sama sebenarnya anda mengungkapkan bahwa ada orang lain di sekitar anda. Lalu pernahkah anda berpikir tentang betapa berartinya nilai kebersamaan bagi sebuah kehidupan? Ada bersama merupakan satu kewajiban karena manusia tidak dapat hidup sendirian; sebelum anda sudah ada yang lain dan sesudah anda masih ada yang lain. Hal ini tidak dapat kita hindari, bahkan ketika kita menyendiri kita disadarkan bahwa kita tidak dapat mengasingkan diri dari kebersamaan. Kita hanya mungkin ada kalau ada orang lain; kita ada karena mereka ada, tanpa mereka kita tidak ada dan kita bukan siapa-siapa; sebelum kita sudah ada orang lain dan sesudah kita masih akna ada orang lain. Ich werde am du, kata Martin Buber, saya hanya ada dan menjadi dalam dan melalui engkau. Di sini kita melihat betapa berartinya kehadiran orang lain, kehadiran anda bagi mereka yang lain. Dalam kebersamaan ini ada kesalingan; ada benang tak kelihatan yang menghubungkan anda dengan saya, kita dengan mereka. Kesalingan ini sudah seharusnya disadari dan hidupi. Di hadapan cermin kesalingan itu, manusia mesti melihat sesamanya sebagai kembaran dirinya sendiri, rekan seperjalanannya yang mesti saling berbagi dan memperkaya bukannya sebagai musuh, saingan yang mesti ditaklukan. Dalam kesalingan itu kita mesti tahu bagaimana seharusnya hidup bersama, bagaimana melestarikan kebersamaan itu, di sana kita dapat belajar untuk saling melengkapi dan saling memperkaya.

Bila saja hari masih gelap, tataplah pelita anda yang sedang dipermainkan angin ataupun bola lampu anda yang sebentar suram sebentar terang karena aliran arus yang tidak stabil. Tanpa cahaya, anda akan duduk dalam kegelapan dan anda bukan siapa-siapa. Suatu saat entah kapan dua tahun silam, demikian kisah Lukas, ketika berbicara tentang kerajaan Allah dalam bentuk perumpamaan, Yesus melihat bahwa paling kurang ada dua alasan mengapa kesalingan ini semakin hilang gaungnya atau semakin sulit dipertahankan dan bagaimana membiarkan kerajaan Allah tumbuh dalam kebersamaan itu. Yesus berkata “taruhlah pelitamu pada tempatnya”. Pelita yang penuh berisi minyak hanya berarti bila dinyalakan. Syair yang indah dapat menjadi lagu kalau dinyanyikan, kehadiran kita hanya mungkin berarti kalau siap melakukan apa yang menjadi tugas kita di sana, memberi nilai tambah bagi kebersamaan di mana kita ada dan mengais hidup dan kerajaan Allah hanya mungkin dirasakan kehadirannya bila kita bersedia membiarkan nilai-nilai kerajaan yang satu ini hidup dan mempengaruhi hidup dan relasi kita dengan yang lain. Pelita berfungsi untuk menerangi seisi rumah. Dampak kehadiran pelita itu bersifat universal, ia menerangi seisi ruangan tanpa menciptakan pengkotakan dan tempat di mana ia diletakan menentukan luas jangkauan cahaya pelita itu. Mengusir kegelapan, ia rela menghanguskan dirinya, dia menerangi seluruh ruangan tanpa harus membakar ruangan itu. Hanya salah dalam menempatkan pelita itu akan menimbulkan berbagai soal, apalagi di musim angin seperti sekarang ini, dalam waktu singkat apa yang kita kumpulkan bertahun-tahun bisa habis dalam hidungan detik. Dan bila pelita itu di sejajarkan dengan apa yang kita miliki maka setiap orang harus mampu menggunakan apa yang ada padanya untuk membantu sesama menemukan terang. Yang kita miliki harus menjadi jembatan yang mempertemukan kita dengan kita bukannya menciptakan kotak-kotak tak kelihatan yang memisahkan kita dengan kita. Bila kita adalah pelita itu sendiri maka di manapun kita berada, di sana teranglah yang harus kita bawa. Peringatan Yesus disampaikan karena Dia melihat bahwa apa yang kita miliki belum dijadikan jembatan yang mempertemukan dan mempersatukan tetapi sebaliknya dijadikan penyebab hancurnya kebersamaan. Kita tidak lagi menjadi pembawa terang, saat kita berlomba-lomba memenuhi kepentingan diri lalu lupa apa yang seharusnya kita lakukan bagi kebersamaan. Potensi yang kita miliki, pelita hidup kita bila dinyalakan pada waktu yang tepat dan ditempatkan pada tempat yang seharusnya, akan banyak manfaatnya. Dalam hubungan dengan kerajaan Allah, iman kita mesti hadir sebagai pelita yang menerangi dan menjiwai seluruh hidup dan relasi kita dengan dunia. Karena pelita menerangi segala, maka dalam kebersamaan, kita mesti berusaha untuk tidak mempertajam perbedaan dengan membuat perbandingan-perbandingan. Perbedaan mesti dilihat sebagai kekayaan sebuah kebersamaan. Bila ini kita lakukan, pelangi kehidupan dapat selalu kita saksikan tanpa harus menanti meredanya hujan.

Kita selalu ada dalam kebersamaan dan kita menghendaki agar kebersamaan kita tetap lestari sehingga dengan demikian kehadiran kerajaan Allah dapat dirasakan. Dan ini hanya mungkin bila kehadiran kita membawa terang dan terang yang kita bawa tidak menciptakan pengkotak-kotakan dan mempertajaman perbedaan. Sebaliknya terang kehadiran kita mesti mempersatukan dan meruntuhkan tembok tembok pemisah seperti kehadiran sebuah pelita yang mampu menghalau kegelapan sebuah ruangan. Untuk itu, kita perlu membakar diri, punya kerelaan untuk berkorban. Hanya dengan kesediaan untuk berkorban, kita dimungkinkan untuk mengurangi korban-korban yang tidak perlu.

“Seperti pelita yang menerangi ruangan tanpa harus membakar ruang itu, kehadiran kita mesti membantu sesama mengubah kisah hidupnya tanpa harus menjadi sama seperti kita”.
[ back ]
footer2.jpg