Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 17-09-2010 | 19:59:13
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : MODEL HATI MENENTUKAN
Lukas 8:4-15, Sabtu, 18 September 2010

Pergantian musim sudah tidak seperti dulu lagi dan kemarau yang lebih panjang dari musim hujan mengubah segalanya. Kalau dulu para petani sudah bisa memperhitungkan berapa banyak yang akan mereka panen sebelum musim panen tiba, sekarang sudah sulit melakukan hal yang sama. Lalu kita coba bertanya, “salah siapa?” Rumput cuma bergoyang dan kicau burung semakin jarang terdengar. Keserakahan kita menjadi biang segala soal. Mungkin kita bukan petani tetapi ini tidak berarti kita buta sama sekali tentang dunia pertanian apalagi masyarakat sekitar kita pada umumnya hidup dari bertani. Setiap petani selalu menabur dengan harapan apa yang ditaburnya dapat menghasilkan buah. Ini berarti kegagalan panen merupakan malapetaka. Dan menghadapi kenyataan ini, banyak alasan bisa lahir. Boleh jadi kita mempersalahkan hujan yang datangnya sudah tidak lagi beraturan seperti musim-musim masa kecil kita. Selain itu ada kenyataan lain yang mesti dipahami; baik buruknya hasil panen tidak saja bergantung dari unggul tidaknya benih yang ditaburkan tetapi juga bergantung dari jenis tanah tempat benih itu ditaburkan dan pada musim yang bagaimana benih itu ditaburkan. Dengan ini hendak dikatakan bahwa benih dan tanah walaupun keduanya berbeda tetapi tidak harus dipisahan karena dalam perbedaan itu keduanya saling menentukan, saling mempengaruhi dan pada relasi keduanya hidup kita diberi jiwa. Unggulnya benih tidak akan bernilai bila tanah tempat ia ditaburkan bukanlah tempat ideal baginya. Sebaliknya baik tidaknya tanah tidak akan banyak berpengaruh bila benih yang ditaburkan bukanlah benih pilihan. Lalu musim menjadi penentu. Melimpah tidaknya panenan ternyata bergantung pada jenis benih, jenis tanah tempat tumbuhnya dan musim yang memanyungi keduanya.

Dari benih dan tanah kita masuk ke soal hati. Tanah dan hati adalah dua hal yang jauh berbeda tetapi keduanya bisa disejajarkan bila dilihat dari fungsinya atau yang satu dianalogikan dengan yang lain. Bila tanah menjadi arena tumbuhnya benih yang diharapkan dapat memberi buah ataupun menghadirkan nuansa lain bagi kehidupan, hati dapat merupakan tempat tumbuh; kebaikan yang mempersatukan ataupun sumber kejahatan mengalir memisahkan dua sahabat, di sana cinta dan kebencian saling menaklukan, kelembutan dan kekerasan berhadapan, kerendahan hati dan keangguhan saling mendominasi dan masih banyak lagi wajah rasa yang bisa ditemukan di sana. Yang menguasai ruang hati adalah rasa yang paling banyak diberi makan. Dan model hati yang kita miliki menentukan model relasi kita dengan yang lain dan siapa kita dalam kebersamaan. Bila ada begitu banyak jenis tanah yang kita jumpai di lahan-lahan pertanian kita, gambaran yang sama dapat kita gunakan untuk melukiskan keadaan sebuah hati. Bila jenis tanah menentukan melimpah tidaknya panenan, demikian juga jenis hati yang kita miliki menentukan siapa kita dalam ladang kebersamaan. Ketika menyampaikan perumpamaan tentang penabur, Yesus mengemukan beberapa jenis tanah tempat jatuhnya benih yang ditaburkan; pertama, tanah di pinggir jalan, melambangkan hati seorang petualangan, orang yang tidak menetap, hati yang selalu ingin mencoba tanpa mau menentukan sikap, tidak mau diikat. Hati model ini adalah hati yang mudah mengikuti arus dan gampang terbawa arus; suka pamer tanpa penghayatan. Kedua, tanah berbatu-batu, hati yang keras; bisa menerima tetapi sulit merubah sikap. Mereka yang memiliki hati model ini adalah mereka yang mempunyai impian tentang hidup baru tetapi enggan meninggalkan hidupnya yang lama, mereka adalah orang-orang beriman tetapi tidak bersedia membiarkan iman mempengaruhi hidupnya sehingga mereka gampang beralih bila ada tantangan. Mereka dibaptis dalam nama Allah Tritunggal, nama mereka adalah nama para santo dan santa tetapi hidup mereka jauh dari nama yang mereka kenakan. Nama mereka tidak jauh dari lebel yang diberi pada hasil keluaran pabrik. Ketiga, tanah bersemak duri, hati yang telah dipenuhi dengan aneka kekuatiran sehingga benih kebaikan sulit mendapat tempat untuk bertumbuh. Mereka lebih melihat apa yang harus dimiliki ketimbang menghargai hidup yang sedang mereka jalani. Mereka lebih melihat dunia sebagai tujuan mereka ketimbang menjadikan dunia sebagai jembatan yang dapat menghantar mereka kepada kehidupan yang akan dating. Keempat, tanah yang subur, hati yang baik tempat benih kebaikan yang ditaburkan, tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah; iman mempengaruhi hidup mereka dan hidup mereka menjadi duta apa yang mereka imani; apa yang mereka hidupi itulah yang mereka katakana dan apa yang mereka katakana itulah yang mereka hidupi. Sampai di sini, hati macam manakah yang sedang kita miliki?

Benih yang ditaburkan dapat tumbuh subur dan menghasilkan buah bila benih itu jatuh dan tumbuh di tanah yang baik. Tetapi seperti kita ketahui tidak semua tanah tempat benih dita-burkan adalah tanah yang ideal. Hati yang kita milikipun demikian halnya. Kebaikan, iman yang kita miliki dapat tumbuh, berkembang dan menghasilkan buah bila hati kita punya tempat baginya. Kebaikan akan tumbuh baik bila punya tempat khusus di hati kita. Sebagaimana setiap petani mengharapkan panenan yang melimpah, demikian juga Allah menghendaki iman kita bertumbuh dalam hati kita, mempengaruhi hidup kita dan menghasilkan buah-buah kebaikan. Panenan bergantung pada jenis tanah dan kebaikan yang menghasilkan buah bergantung dari jenis hati yang kita miliki. Allah tidak menghendaki panenan yang melimpah, Dia hanya mengharapkan apa yang ditaburkanNya dalam hati kita menghasilkan buah. Hati macam mana yang sedang berdenyut dalam rongga dada kita?

“Model hati kita menjadi penentu segalanya; orang bisa tahu siapa kita dan bagaimana relasi kita dengan yang lain”.
[ back ]
footer2.jpg