Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 17-09-2010 | 19:57:30
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘KEBERSAMAAN TANGGUNG JAWAB ANDA’
Lukas 8:1-3,Jumat, 17 September 2010

Kenyataan menunjukkan bahwa kita selalu ada dalam kebersamaan dan kemungkinan besar menjadi bagian dari kebersamaan. Mengapa saja mengatakan ‘kemungkinan’, karena ada orang yang hidup dalam kebersamaan tetapi titak tahu bagaimana seharusnya hidup di sana dan lebih dari itu tidak merasa diri atau berbuat seolah-olah dirinya terpisah dari kebersamaan atau menganggap diri berada di luar kebersamaan sehingga mereka tidak mau peduli dengan apa yang terjadi di dalam kebersamaan itu. D sisi lain, karena ada dalam dan menjadi bagian dari keber-samaan itu, maka jatuh bangunnya kebersamaan itu menjadi tanggung jawab semua kita yang ada dalam kebersamaan itu siapa dan apapun posisi kita di sana. Ini berarti kehadiran kita dalam kebersamaan itu mesti memberi dan membawa dampak tertentu bagi kebersamaan itu. Di sini diharapkan bahwa kehadiran kita berdampak positif bagi mereka yang ada di sekitar kita entah karena kehadiran kita membawa sesuatu yang baik bagi mereka ataupun karena apa yang kita lakukan dapat mengurangi soal yang ada di sana. Dengan berbekalkan segala potensi yang ada pada kita; baik secara fisik maupun psikis kita dituntut untuk bisa melakukan sesuatu yang berdampak melestarikan kebersamaan itu ataupun nilai-nilai positif yang sedang dihidupi di sana. Yang positif yang kita lakukan itu karena dituntut oleh situasi ataupun sebagai tanda terima kasih kita terhadap apa yang kita terima dari orang-orang yang ada dalam kebersamaan itu. Di sini boleh jadi muncul pertanyaan; ‘bagaimana dengan mereka yang tidak punya apa-apa?’. Perlu diingat bahwa kebaikan tidak harus muncul karena kita punya apa-apa, mungkin secara material kita tidak punya apa-apa tetapi secara fisik, kehadiran kita sendiri bisa memberi apa-apa bagi kebersamaan itu; materi mungkin kita tidak punya tetapi potensi diri kita dapat kita sumbangkan untuk kelestarian hidup bersama itu.

“Kebersamaan adalah tanggung jawab anda”, besar kemungkinan pernyataan ini mengejutkan kita karena hal ini tidak pernah terpikirkan oleh kita. Kita lebih memusatkan perhatian kita pada kepentingan diri; masing-masing orang berjuang untuk memenuhi tuntutan hidupnya bah-kan kadang kita justeru mengatasnamakan kebersamaan untuk pemenuhan kepentingan diri. Lebih buruk lagi, untuk memenuhi kebutuhan pribadi kita tidak segan-segan mengorbankan orang lain atau kepentingan umum. Inilah yang menjadi sebab mengapa kita menjumpai begitu banyak soal dalam hidup bersama atau kehadiran kita memunculkan aneka soal bagi keber-samaan dan lebih dari itu kita menjadi musuh publik. Kita tidak menyangka ataupun tidak menyadari bahwa bahwa karena ada dalam kebersamaan, apapun yang kita lakukan untuk diri sendiri sekalipun selalu punya dampak terhadap kehidupan bersama baik langsung maupun tidak. Karena itu ada baiknya kita belajar dari para wanita yang mengikuti Yesus. Mereka mengikuti Yesus dan menggunakan segala hartanya untuk menjawabi kebutuhan Yesus dan para muridnya. Lalu apa saja yang dapat kita pelajari dari tindakan mereka? Pertama, mereka melayani Yesus dan para murid karena mereka adalah pengikut Yesus. Mereka merasa mereka adalah bagian dari keluarga Yesus; kesejahteraan kelompok ini adalah kesejahteraan mereka sehingga yang mengumpulkan banyak tidak berkelimpahan dan yang mengumpulkan sedikit tidak berkekurangan. Kelestarian kelompok ini adalah tanggung jawab mereka juga. Sebagai orang-orang yang telah dibaptis dalam nama Yesus, sikap para wanita ini mestinya menjadi sikap kita juga. Mungkin cari segi materi kita tidak punya “apa-apa” tetapi dengan kehadiran kita apa adanya kita dapat memberi “apa-apa” bagi orang lain. Ingat, kebaikan tidak berhubungan dengan apa dan berapa banyak yang kita miliki tetapi lebih bergantung pada kesediaan kita untuk berbuat sesuatu pagi mereka yang ada di sekitar kita yang dapat membantu mereka merubah kisah hidupnya. Kedua, mereka melakukan semuanya itu sebagai bukti, tanda terima kasih mereka atas kebaikan yang sudah mereka terima dari Yesus; Yesus sudah mengubah kisah hidup mereka karena itu dengan apa yang mereka miliki mereka mau berbuat sesuatu untuk bisa mambantu sesamanya mengubah kisah hidup mereka. Di sini mereka mengajak kita untuk tahu berterima kasih; apa yang kita peroleh dengan cuma-cuma harus kita beri juga dengan cuma-cuma dan kebaikan akan berlipat ganda bila kita bersedia untuk membaginya. Sampai di sini bagaimana dengan kehadiran kita dalam kebersamaan?

Kita selalu ada dalam kebersamaan tetapi tidak semua kita menyadari bahwa nasib dan kelestarian kebersamaan itu menjadi tanggung jawab semua orang yang ada dalam kebersamaan itu. Kenyataan ini menyadarkan kita untuk tahu apa hak dan kewajiban kita dalam kebersamaan itu. Nasib kebersamaan adalah tanggung jawab kita; segala sesuatu yang kita lakukan lasung maupun tidak berdampak kepada kehidupan bersama. Karena kita menjadikan sikap para wanita yang mengikuti Yesus sebagai sikap kita sendiri adalah satu tuntutan yang mesti kita penuhi bila kita menghendaki kebersamaan kita lestari; hal ini sebagai bukti kita adalah pengikutNya dan juga sebagai tanda terima kasih kita atas semua yang baik yang telah kita terima. Jangan persoalkan apa yang kita miliki tetapi permasalahkan apakah kita bersedia berbuat sesuatu demi mengartikan kehadiran kita dalam kebersamaan di mana kita ada dan mengais hidup. Mungkin kita tidak punya “apa-apa” tetapi bila kita bersedia berbuat sesuatu, kehadiran kita yang sederhana bisa mendatangkan “apa-apa” yang baik bagi mereka di sekitar kita.

“Kita tidak dapat melepaskan diri dari kebersamaan karena itu nasib kebersamaan ada dalam tanggung jawab kita”.
[ back ]
footer2.jpg