Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 10-09-2010 | 23:06:34
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘BANGUNLAH RUMAH DI ATAS KARANG’
Luk 6:43-49,Sabtu, 11 September 2010

Pernahkah anda menyaksikan satu pertandingan sepak bola? Di sana anda bukan saja bertindak sebagai penonton tetapi anda juga bertindak sebagai komentar dan pengamat. Anda tahu siapa yang bagus mainnya dan bagaimana wasit mesti bertindak. Bila diminta komentar anda; besar kemungkinan anda memberi komentar yang sangat detail. Lalu pernahkah kita menyadari bahwa kebersamaan itu merupakan arena di mana kehadiran kita bisa menimbulkan berbagai komentar dan penilaian? Hidup ini adalah arena di mana kita mengekspresikan siapa sebenarnya kita. Mungkin saja hal ini tidak pernah kita pikirkan karena kita hanya mengikuti irama yang ada. Karena hal ini tidak ada dalam pikiran kita maka begitu sering kita menemukan adanya perbedaan pandangan tentang orientasi hidup. Mungkin saja bagi kita nama dan posisi lebih mendapat perhatian tetapi bagi yang lain hidup dan apa yang dilakukan adalah di atas segalanya; kita dinilai bukan karena nama/posisi yang ditempatinya tetapi karena hidup dan apa yang dilakukan dari tempat di mana kita berada. Ini berarti, hidup bersama bukan soal nama-posisi tapi masalah hidup. Kita berpikir bahwa dengan menduduki posisi tertentu kita dengan sendirinya beroleh nama besar. Tetapi apa artinya posisi itu bila kita sendiri jadi boneka. Yang utama dalam hidup ini bukan nama-posisi melainkan hidup; tanpa hidup sebuah nama tak berarti tetapi tanpa nama hidup tetap bermakna. Hiduplah yang menentukan arti sebuah nama/posisi; bukan nama/posisi yang menentukan arti sebuah hidup. Nama seseorang melambung bukan karena nama itu begitu berarti tetapi karena apa yang dilakukan pribadi dengan nama tertentu itu membuat orang lain berarti. Socrates atau Plato menjadi tokoh terkemuka dalam dunia filosofis bukan karena mereka pribadi tertentu yang punya nama tertentu melainkan karena pribadi dengan nama-nama ini telah melakukan hal-hal besar yang punya pengaruh universal. Mungkin benar apa kata Khairil Anwar; ‘sekali hidup mesti berarti sesudah itu tiada’.

Mungkin saja saat ini wajah anda lagi cemberut lantaran ada orang tertentu yang kerjanya hanya mau cari nama; mengobral janji dan membual tentang dirinya padahal kenya-taannya ia jauh berbeda dari apa yang ia katakan; apa yang nampak tidak seperti dia yang sebenarnya; di depan dia berlaku begitu manis tetapi di belakang; anda sedang dihancurkan oleh komentar-komentar pedas yang keluar dari mulutnya. Di sini kita diingatkan kalau nama dan hidup punya hubungan yang khas, demikian halnya hidup dan iman dua hal berbeda yang tak terpisahkan. Sebagai orang-orang beriman, hidup kitalah yang menentukan apakah kita adalah orang-orang yang sungguh beriman ataukah kita adalah orang-orang yang tidak sungguh-sungguh beriman, apakah kita adalah orang-orang yang sungguh-sungguh ramah ataukah kita hanya nampak sungguh ramah tetapi kenyataannya jauh berbeda. Di sini kita disadarkan bahwa sikap dan pola hidup kita bisa dibaca, dinilai disadari ataupun tidak. Kalau buah menunjukkan pohonnya, hidup kita menjadi bukti beriman tidaknya kita. Ini berarti beriman saja tidak cukup, memeluk agama tertentu bukanlah jaminan hidup kekal. Situasi ini ibarat pelita yang penuh berisi minyak tanpa pernah dinyalakan. Iman kita mesti mempengaruhi, menjiwai dan menyata da-lam hidup, dan hidup kita mesti menjadi pewarta iman yang kita miliki. Yesus sendiri berkata bahwa keseringan menyebut nama Allah bukanlah jaminan hidup kekal, hidup kekal ditentukan oleh praktek iman kita; apa yang kita imani kita nyatakan dalam hidup dan apa yang kita hidupi adalah apa yang kita imani, kita mesti membiarkan iman kita mempengaruhi hidup kita, memberi warna yang khas bagi kehadiran kita dalam kebersamaan. Bagi kita, menganut salah satu agama sudah lebih dari cukup, bagi Yesus menganut agama tertentu adalah bagian dari proses menjadi orang-orang yang baik. Agama yang kita anut mesti mempengaruhi hidup dan relasi kita dengan yang lain. Semua orang bisa meneriakkan nama Allah kapan dan di mana saja tetapi tidak semua me-reka hidup sesuai dengan kehendak Allah yang namaNya diserukan. Setiap orang akan diadili bukan berdasarkan agama yang dianutnya melainkan berdasarkan apa yang dihidupinya. Di sana orang dapat melihat iman kita mengakar atau tidak rumah hidup kita didirikan di atas karang ataukah di atas pasir. Keseharian kita menunjukkan bahwa kita baru berada pada tahap beriman, kita belum sampai pada tahap hidup sebagai orang-orang beriman, kita belum membiarkan iman kita mempengaruhi hidup kita dan hidup kita menjadi duta apa yang kita imani. Kenyataan ini yang menjadi jawaban mengapa kita menemukan banyak soal dalam hidup, kita begitu mudah dipermainkan gelom-bang jaman karena hidup kita tidak berakar pada apa yang kita imani.

Nama tidak menentukan berarti tidaknya selembar hidup tetapi hiduplah yang menentukan besar tidaknya sebuah nama. Kita adalah orang-orang beriman, tetapi tidak semua kita hidup sesuai dengan apa yang kita imani. Keseringan menyebut nama Allah bukanlah jaminan hidup kekal tetapi hidup kitalah yang menentukan di mana tempat kita kelak. Kenyataan menunjukkan bahwa iman kita belum mempengaruhi hidup kita dan hidup kita belum mengekspresikan apa yang kita imani. Situasi inilah yang menjadi jawaban mengapa hidup kita dipenuhi aneka soal yang datangnya seperti berjadwal. Bila kita hendak membuat sejarah, merubah kisah hidup ini, kita mesti membiarkan iman kita menjiwai seluruh langkah laku kita dan seluruh hidup kita menjadi ekspresi apa yang kita imani. Hanya dengan cara ini, banyak soal dalam hidup dapat dihindari dan hidup kekal bukanlah sesuatu yang mustahil diraih.

“Dari hidup dan laku anda orang dapat menilai apakah iman anda dibiarkan mempengaruhi hiup anda atau tidak”.
[ back ]
footer2.jpg