Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 03-06-2010 | 21:34:47
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “BUKAN SOAL TEMPAT”
Mrk 12:38-44,Sabtu, 5 Juni 2010

Setiap orang ingin dikatakan baik apapun yang ia lakukan entah memang yang dilakukan itu baik ataupun karena alasan yang kita berikan dapat diterima akal sehat. Apapun yang kita buat, kita mau dinilai baik, mau dipercaya walaupun kadang kebaikan yang kita lakukan hanyalah siasat untuk memunculkan kesan bahwa kita orangnya baik atau yang baik itu kita gunakan untuk menutup kelemahan dan kekurangan kita. Sesuatu dikatakan baik karena memang dia baik dan juga karena motivasi yang melatarbelakanginya juga baik. Hal baik dilakukan dengan motivasi yang kurang baik, menghilangkan kebaikan itu sendiri. Dan sebetulnya tanpa kita sadari hidup ini sebenarnya merupakan satu rangkaian perjuangan mengalahkan kelemahan diri dan kesempatan untuk berbuat baik. Kebaikan itu baik bila ia mendatangkan kebaikan bagi sesama dan diri kita; sesama menjadi jauh lebih baik dan bisa berbuat baik kepada orang lain. Kebaikan itu tidak baik bila ia hanya mendatangkan keuntungan bagi diri sendiri dan merugikan sesama. Karena itu kita bisa saja menjadi orang baik dan bisa juga menjadi orang jahat. Yang menjadi soal adalah apakah kita jeli melihat peluang dan punya kemauan untuk menjadi baik ataukah kita lebih suka berbuat baik bagi diri sendiri tanpa peduli bila perbuatan kita berakibat buruk bagi orang lain. Di sini terletak peran sentral hati kita. Baik atau buruk yang kita lakukan bergantung dari hati model apa yang kita miliki. Hatilah yang menentukan arti dari apa yang kita lakukan bagi kebersamaan. Dalam hubungan dengan kebaikan; pernahkah kita bertanya diri, “siapakah saya dalam kebersamaan” Apa yang saya bawa kebaikan bagi sesama atau tidak?

Seperti sebuah sandiwara, dalam hidup ini masing-masing kita punya posisi dengan peran yang khas. Posisi dan peran ini memberi warna khas bagi kebersamaan dan arti khusus bagi kehadiran kita di sana. Terdorong oleh kenyataan yang sedang dihadapi ataupun sebagai persiapan menghadapi berbagai kemungkinan masa datang, Yesus mengingatkan para muridNya untuk berhati-hati menempatkan diri dalam kebersamaan karena kehadiran mereka bisa berdampak positif, bisa juga membawa pengaruh negatif. Hal ini dilakukan Yesus karena Ia menghendaki kehadiran mereka membawa pengaruh positif di mana saja mereka berada dan ke mana saja mereka pergi. Dia berharap dan menghendaki supaya seperti Dia, di mana mereka hadir di sana kebaikan mereka membawa kebaikan bagi orang-orang yang mereka layani. Mereka tidak boleh dihormati karena posisi yang mereka tempati tetapi karena apa yang mereka lakukan kepada sesamanya. Di mana mereka hadir di sana apa yang mereka lakukan ataupun apa yang mereka katakan haruslah apa yang keluar dari hatinya bukan sekedar basa-basi. Mereka harus mem-biarkan apa yang mereka lakukan menempatkan mereka pada posisi di mana seharusnya mereka berada. Hal ini menghindarkan mereka dari ambisi buta dan sikap arogan, suka pamer kekuatan ataupun kuasa. Apapun situasinya, kehadiran mereka mesti bernilai positif, membangun, membawa kebaikan bagi sesama dan menjadi cermin bagi sesama dalam menata hidup mereka sendiri, membiarkan orang lain memutuskan apa yang baik bagi dirinya. Untuk itu para murid diminta untuk menjauhi kecenderungan mengikuti jejak para ahli Taurat dan kaum Farisi yang lebih suka pamer dan melakukan kebaikan hanya untuk menarik keuntungan bagi dirinya. Bila tiap not menentukan enak tidaknya sebuah lagu maka setiap kita menentukan warna dari kebersamaan itu. Kehadiran kita mempengaruhi kebersamaan itu, demikian pula sebaliknya. Dalam hal memberi, pemberian kita dapat mendatangkan kebaikan bagi sesama bila kita mencontohi apa yang dilakukan oleh si janda miskin. Memberi dengan melibatkan seluruh hati dan hidup tanpa banyak perhitungan. Ia tahu bahwa kebaikan yang diberi dengan hati selalu bernilai lebih seperti mata air yang tak pernah kering walaupun seribu tangan menimbah darinya. Di sini kebaikan punya hubungan dengan kesediaan untuk berkorban. Kebaikan kita hanya akan mendatangkan kebaikan bagi diri dan sesama bila kita punya semangat berkorban.

Kita ada dan hidup di antara kebaikan dan kejahatan. Kita punya peluang untuk menjadi baik, kita punya potensi untuk jadi jahat; bergantung dari hati macam mana yang sedang kita miliki. Dunia tempat kita mengais hidup sangat membutuhkan kesaksian kita. Kalau selama ini kita sepertinya tidak jauh berbeda dari para ahli taurat, sudah saatnya kita menjadi lain dari mereka; kita punya hati yang selalu mau merasakan apa yang sedang dirasakan sesama. Bila selama hidup kebersamaan kita dirusakan oleh sikap mengada-ada, sudah saatnya kita menghidupi spiritualitas janda miskin; memberi dengan seluruh hati tanpa mengada-ada. Bila selama ini kita lebih suka pamer, sudah saatnya kita merubah motivasi kita, menghidupkan kembali nilai-nilai luhur kekristenan kita; bekerja dengan cinta yang mengabdi, berlaku dengan penuh penghargaan dan berkata dengan penuh hormat demi kebaikan kita, kebahagiaan sesama dan kemuliaan Tuhan.....

“Kebesaran, kehormatan tidak ditentukan oleh posisi yang kita tempati tetapi bergantung dari apa yang kita lakukan bagi orang-orang di sekitar kita dari tempat di mana kita berada”.
[ back ]
footer2.jpg