Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 03-06-2010 | 01:56:56
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “HUBUNGAN DARAH, MENGAPA JADI SOAL?”
Mrk 12:35-37,Jumat, 4 Juni 2010

Saya tidak tahu bagaimana eratnya hubungan anda dengan keluarga atau relasi anda dengan para kerabat anda. Yang saya tahu kehadiran kita dalam kebersamaan tidak dapat dilepaskan begitu saja dari ikatan keluarga; pertama karena budaya kita sangat menjunjung tinggi asas kekeluargaan dan kedua dari sanalah kita berasal dan dibekali dengan segala hal untuk menjelajahi rimba kehidupan ini. Karena itu tidak mengherankan kalau segala sesuatu selalu dihubungkan dengan keluarga dan memang harus diakui keluarga punya peran penting dan pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan pribadi seseorang. Tetapi ini tidak berarti nasib orang itu ditentukan oleh keluarga atau bergantung dari hubungan darah; nasib setiap orang ada di tangannya sendiri bergantung dari bagaimana pribadi ini mengola apa yang diwariskan keluarganya dan apa yang diterimanya dari orang-orang di sekitarnya. Kita juga tentu ingat apa kata orang, “buah menunjukkan pohonnya”. Keluarga diharapkan dapat memberi pendidikan dasar yang kokoh agar setiap pribadi dapat berkembang dewasa dan mandiri; menjadi dirinya sendiri dan menemukan dunianya tanpa harus melepaskan diri dari norma-norma yang berlaku. Di sisi lain, pribadi itu diharapkan dapat menumbuhkembangkan apa yang positif yang diwariskan oleh keluarga dalam relasinya dengan dunia dan sesama. Karena buah menunjukkan pohonnya, bagaimanapun juga keluarga akan terimbas dampak perilaku pribadi tersebut baik langsung maupun tidak. Kenyataan ini memaparkan bahwa ikatan kekeluargaan dapat berdampak positif, dapat pula berdampak negatif; dapat mempermudah segala urusan dapat pula menjadi biang gagalnya sebuah impian. Karena itu membangun relasi dengan kelompok ini perlu diwaspadai.

Mengapa kita perlu mewaspadai relasi dengan kelompok ini? Ikatan kekeluargaaan dan hubungan darah, dampaknya telah dipersoalkan juga di jaman Yesus. Saat dikatakan bahwa Ia adalah keturunan Daud; Yesus menjelaskan bahwa mereka yang mendengarnya ataupun yang mengatakan hal itu perlu memahami secara baik bagaimana relasi Yesus dengan Daud dan apa dampak dari mengangkat relasi kekeluargaan dalam hubungan dengan karyaNya. Di sini Yesus hendak men-jernihkan pikiran para pendengarNya bahwa relasi kekeluargaan memang penting dalam membangun kebersamaan bila setiap orang saling bertemu sebagai saudara dan saudari. Tetapi ikatan ini perlu diwaspadai bila dihubungan dengan karya kita. Karena ikatan kekeluargaan atau hubungan darah dapat berpengaruh negatif bagi hidup dan pengabdian seseorang. Pengaruh ikatan darah yang begitu kuat akan membuat pengabdian kita lebih berorientasi pada keluarga yang akan bermuara pada nepotisme; penyakit sosial yang sedang menjamur dan merusak kebersamaan kita. Lebih dari itu, keluarga dapat melemahkan sikap kenabian kita; membuat kita berlaku tidak adil terhadap sesama dan melahirkan pengkotak-kotakan dalam kebersamaan; menduduki posisi tertentu orang bisa saja memanipulasi posisi untuk mensejahterakan keluarganya. Banyak soal yang muncul karena ikatan keluarga selalu di-dahulukan dan tidak sedikit masalah yang sulit diselesaikan karena hubungan darah menjadi prioritas pengabdian kita. Di sini obyektivitas dalam bertindak ditukar dengan sikap subyektif; melihat siapa yang sedang kita hadapi dan melayani berdasarkan suka tidak suka. Yesus mengatakan dan menjelaskan hal ini karena Dia tahu penyakit ini sedang dan akan mewabah di tiap generasi manusia dan sulit diberantas. Penyakit inilah yang menjadi sebab mengapa kebahagiaan bersama yang kita impikan sulit menjadi kenyataan dan banyak orang gagal mempertahankan posisinya. Ini tidak berarti kita harus melepaskan ikatan kekeluargaan tetapi tidak juga menyetujui bahwa kita mesti berorientasi pada keluarga karena kita dipanggil untuk melayani siapa saja yang kita temui dalam hidup melampaui hubungan darah. Kita hanya diminta untuk mewaspadai pengaruh negatif ikatan ini. Kita mesti menyadari bahwa iman kita melampaui batas, suku, bahasa, budaya dan bangsa, mengatasi hubungan darah dan ikatan kekeluargaan.

Berbicara tentang keluarga, kita tentu teringat akan kelompok kecil dari mana kita berasal. Menjalin selasi yang erat dengan kelompok ini bukan satu kesalahan. Tetapi membiarkan diri dikendalikan oleh kelompok ini dan berorientasi hanya pada kelompok ini adalah penyakit yang mesti diberantas. Keluarga dapat memberi pengaruh yang positif, tongkat penopang bagi karya kita, tetapi di saat yang sama keluarga dapat menjadi sebab keruntuhan dan keterpurukan sebuah karya besar, mengabdi kepada kepentingan umum. Karena itu, waspadalah terhadap ikatan kekeluargaan.

“Kita tidak dapat melepaskan diri dari ikatan berdasarkan hubungan darah tetapi kita tidak boleh membiarkan hubungan darah mempengaruhi segala urusan kita”.
[ back ]
footer2.jpg