Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 02-06-2010 | 22:47:50
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “JANGAN ABAIKAN YANG LAIN”
Mrk 12:13-17,Selasa, 1 Juni 2010

Mungkin kurang etis kalau saya meminta anda membuka dompet anda tetapi saya hanya ingin tahu apakah anda punya KTP atau tidak walaupun saya bukan petugas Dinas Kependudukan. Saya yakin setiap kita punya KTP, kartu tanda pengenal yang menyatakan bahwa kita adalah penduduk daerah tertentu, dengan nama tertentu dan punya agama tertentu. Ketertentuan ini menposisikan kita pada tempat tertentu dengan peran tertentu pula. Ini berati kehadiran kitapun mesti membawa misi tertentu, memberi warna yang khas bagi kebersamaan termpat di mana kita ada dan mengais hidup; bila diibaratkan, kehadiran kita seperti tali-tali pada sebuah gitar, masing-masing dengan nadanya sendiri walaupun lagu yang sama sedang menggetarkannya. Membayangkan hal ini, kehadiran kita dalam kebersamaan sudah seharusnya melahirkan satu hidup bersama yang harmonis di mana tiap orang berusaha menghayati ketunggalannya, menampilkan keunikannya tanpa harus membiarkan ketunggalan dan keunikan ini menghadirkan keanehan. Tetapi mengapa kita harus menghadapi aneka soal dalam hidup ini? Soal muncul dan masalah tercipta saat kehadiran kita tidak menampakkan kekhasan yang mesti kita bawa atau kita coba memaksakan kekhasan kita pada sesama dan peran yang harus kita mainkan kita abaikan atau kita terlalu memusatkan diri pada peran kita lalu kita lupa bahwa orang lainpun perlu diberi kesempatan melakonkan apa yang menjadi perannya. Sebagai warga masyarakat sekaligus umat beragama; kita lebih memperhatikan hidup bermasyarakat lalu kita lupa bahwa kita menganut agama tertentu; kita tidak menam-pakkan kekhasan kita sebagai orang beriman dalam hidup bermasyarakat.

‘Jangan abaikan yang lain’. Pernyataan ini sebenarnya mengisyaratkan adanya ketidakberesan dengan cara kita menghadirkan diri dalam kebersamaan. Bila dihubungkan dengan keberadaan kita sebagai warga masyarakan dan umat beragama, kata-kata ini sebenarnya mengisyaratkan kenyataan berikut; pertama, kita cenderung memperhatikan yang satu lalu mengabaikan yang lain atau kita masih terus memisahkan yang satu dari yang lainnya, tidak membiarkan yang satu mempengaruhi atau menjiwai yang lain padahal keduanya hidup dalam diri kita; kita bukan saja anggota masyarakat tetapi juga warga dari agama tertentu. Dan di sini bisa saja terjadi agama hanyalah pengisi kolom yang kosong, kita bukan orang yang menghidupi ajaran agama tertentu. Inilah yang men-jadi sebab mengapa kita harus menghadapi aneka soal dalam hidup dan banyak masalah yang belum terselesaikan. Kedua, pernyataan ini juga bisa tampil sebagai wanti-wanti, awasan bagi kita untuk menghindari apa yang sudah digambarkan, memberi kita peluang, jalan untuk menghindari aneka soal dalam hidup dan jalan yang dapat membawa kita kepada impian yang sedang kita usahakan jadi kenyataan. Markus berkisah, satu saat entah kapan, dua ribu tahun silam, datanglah orang-orang Yahudi dengan pertanyaan apakah mereka wajib membayar pajak; karena menurut mereka hanya orang asing saja yang harus melakukan hal ini. Perlu dicatat bahwa pertanyaan ini digunakan hanya untuk menjebak Yesus. Walaupun tahu akan maksud mereka Yesus justeru menggunakan kesempatan ini untuk mengoreksi hidup mereka; di hadapan aturan hidup bersama tidak ada warga kelas satu; semua orang sama di hadapan aturan. Hal yang sama pula mesti terlihat dalam kehidupan beragama; tidak ada umat yang istimewa; setiap orang sama di hadapan Tuhan. Dan karena hidup dalam masyarakat; kedua hal ini harus saling menjiwai; hidup bermasyarakat harus dijadikan peluang di mana iman kita ditampilkan dan karena setiap agama mengajarkan kebaikan; setiap orang mesti menjadi warga yang baik; yang satu harus diindahkan dan yang lain mesti diberi perhatian bukan sebaliknya. Soal muncul ketika kita mengutamakan yang satu lalu menganaktirikan yang lain.

Masyarakat dan agama dua hal yang berbeda tetapi tidak harus dipisahkan karena keduanya hidup dalam satu dunia yang sama diri kita ibarat dua sisi pada sebuah keping logam yang sama yang satu mempengaruhi dan menjiwai yang lain. Warga masyarakat yang baik menjadi ekspresi umat beragama yang baik dan umat beragama yang baik ha-rus nampak dalam kehidupan sebagai anggota masyrakat yang baik. Anda dan saya, kita adalah penggarap-penggarap di kebun anggur kita masing-masing. Seperti kepada kaum Yahudi, teguran yang sama disampaikan kepada kita. Apapun peran kita di kebun ang-gur yang sedang digarap itu, dari setiap kita akan diminta pertanggungjawaban. Bila kita tidak bisa menjadi pemilik kebun anggur yang menyiapkan segalanya bagi para peng-garap, biarlah kita menjadi orang-orang suruhan yang bertugas mengumpulkan hasil apa-pun resikonya. Bila kita tidak bisa menjadi orang-orang suruhan yang mengumpulkan hasil biarlah kita berperan sebagai Yesus yang siap mengungkapkan dan menegakkan kebenaran tanpa pandang bulu. Bila kita tidak bisa memainkan peran Yesus, janganlah kita memperpanjang barisan para penggarap yang tidak bertanggung jawab.

“Orang beriman yang baik akan menjadi warga masyarakat yang baik, warga masyarakat yang baik menjadi bukti bahwa iman mempengaruhi hidupnya”.
[ back ]
footer2.jpg