Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 02-06-2010 | 22:44:45
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “BERKACA PADA MARIA
Luk 1:39-56, Senin, 31 Mei 2010

Boleh jadi anda baru meninggalkan tempat pembaringan anda atau mungkin juga anda lagi membereskan ruang tidur anda. Sudahkah anda melihat wajah anda di cermin sebelum meninggalkan kamar anda? Ternyata sepotong kaca pemantul ini punya peran penting dalam hidup kita karena kita yakin kerapihan dan penampilan penting dalam hidup. Karena penting untuk bercermin diri, setiap kita punya cermin dalam aneka ukuran bergantung dari sejauh mana penting hal itu bagi diri kita. Dan terkadang karena merasa begitu penting kerapihan dan penampilan, orang coba bercermin diri pada setiap benda yang mampu memantulkan diri kita bahkan sering pada genangan air. Pernahkah kita berpikir bahwa di hadapan sebuah cermin; kita bukan saja merapihkan diri tetapi juga kita dapat melihat siapa kita sebenarnya dan juga kita bisa saja menjadikan diri kita kelihatan tidak seperti biasanya. Sampai di sini, ada pertanyaan buat kita, ‘pernahkah kita berpikir bahwa kerapihan lahiriah perlu diimbangi dengan keapikan batiniah?’ Pernahkah kebiasaan bercermin pada sepotong kaca, menghantar kita untuk bercermin pada hidup sesama untuk menata hidup kita menjadi jauh lebih baik?

Mungkin saja anda baru saja selesai berdoa di putaran terakhir bulan rosario dan mungkin anda bersyukur karena kebiasaan yang membosankan ini sudah berakhir. Hari-hari begitu cepat berlalu, disadari ataupun tidak kebiasaan kita berpindah dari satu rumah ke rumah lain untuk berdoa bersama mengisi bulan Rosario telah mendekati kesudahannya. Bila kebiasaan ini, dihubungkan dengan kebiasaan kita melihat diri dalam cermin maka mestinya kebiasaan doa bergilir ini telah membawa banyak perubahan dalam hidup dam relasi kita dengan sesama. Kita berpindah dari satu rumah ke rumah lain bukan sekedar untuk berdoa tetapi di sana ada kesempatan untuk sosialisasi diri, saling mengenal lebih jauh, membangun jembatan yang dapat menyatukan segala perbedaan yang ada di antara kita. Sebagai mana kita membiarkan bunda Maria melihat, merasakan apa yang kita rasakan; harapan dan kecemasan kita, kita juga didorong untuk saling meneguhkan. Karena berdoa rosario tidak dimaksud untuk menambah kemuliaan bunda Maria, perulangan untaian doa yang sama dimaksudkan agar hati dan hidup kitapun bisa menyerupai hati dan hidupnya. Kita berdoa, ‘salam Maria penuh rahmat’, sudahkah doa selama sebulan ini menjadikan kita orang-orang berahmat, penyalur rahmat bagi sesama? Lalu ‘Tuhan sertamu’, apakah kehadiran kita membuat mereka yang berada di sekitar kita merasakan kehadiran Tuhan yang menyelamatkan’. Lebih lanjut kita berdoa ‘terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu’, apakah doa bersama telah mengu-bah kehadiran kita menjadi orang-orang yang terpuji bukan hanya karena kata-kata kita tetapi karena hidup dan karya kita? Lagi kita berdoa, ‘doakan kami yang berdosa ini’, apakah doa rosario yang kita jalankan selama sebulan ini telah menjadikan kita pendoa bagi diri dan sesama? Hari ini hari terakhir bulan rosario, adakah sedikit perubahan dalam hidup kita di saat-saat akhir ini? Mengapa bunda Maria memiliki tempat istimewa? Dia adalah seorang wanita yang memiliki sikap keibuan dan seorang ibu yang punya rasa seorang wanita. Dia lain karena banyak wanita yang telah kehilangan keibuannya dan banyak ibu yang tidak lagi memiliki rasa seorang wanita. Dia adalah wakil mereka yang punya kedudukan tetapi tidak lupa dari mana mereka berasal. Keterpilihannya sebagai bunda Tuhan tidak menghalanginya untuk turun ke bawah mengunjungi orang-orang ke-cil. Dia berbeda dari kita karna begitu sering predikat kita bukannya semakin mendekatkan kita dengan sesama tetapi menjadi penyebab melebarnya jurang pemisah antara kita. Dalam kesederhanaannya dia tampil sebagai sumber kegembiraan. Dia adalah con-toh orang yang percaya bukan hanya dalam kata tetapi dalam hidup; dia berbeda dari kita karena kata dan hidup kita jauh berbeda. Dia adalah duta mereka yang tahu bersyukur bahwa hidup mereka adalah anugerah yang mesti disyukuri. Hal ini nampak dalam nyanyian pujiannya. Di sini kita tidak dapat menyamainya karena kita cenderung mang-agungkan diri lalu lupa akan campur tangan Tuhan dan sesama.

Kebiasaan bercermin pada sepotong kaca mesti membantu kita untuk dapat ber-cermin pada hidup sesama, kerapihan lahiriah kita diimbangi dengan kerapihan batianiah sehingga kita tidak terlihat seperti kubur yang berlabur putih. Tidak dapat disangkal bahwa doa rosario sudah menjadi bagian keseharian kita tetapi apakah hidup kita sudah men-jadi satu untaian rosario yang hidup masih terus dipertanyakan; hati dan hidup bunda Maria belum menjadi hati dan hidup kita. Bulan doa rosario akan berakhir dengan bergantinya bulan tetapi panggilan untuk hidup seperti bunda Maria tidak akan berakhir; panggilan ini akan terus bergaung dalam setiap derap langkah yang kita pahatkan. Bila anda bercermin ingatlah bahwa kerapihan lahiriah mesti diimbangi dengan kerapihan batiniah; doa rosario kita mesti menjadi untaian rosario yang hidup karena hati dan hidup bunda Maria perlahan-lahan mulai menjadi hati dan hidup kita.

“Bila bulan rosario kita jadikan cermin untuk menata hidup dan relasi kita dengan sesama, di akhir bulan ini pasti sudah mulai nampak adanya perubahan dalam hidup dan relasi kita dengan mereka”.
[ back ]
footer2.jpg