Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 26-05-2010 | 22:03:38
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “MEREKA BUKAN MUSUH”
Mrk 11:27-33, Sabtu, 29 Mei 2010

Saya kira kita sependapat bahwa kita tidak lahir di perkampungan musuh dan kita tidak lahir untuk saling memusuhi. Kita lahir dalam lingkungan orang-orang yang saling mengenal, lahir karena cinta dan dibekali dengan hati untuk mencintai. Ada pertanyaan lagi; pernahkah saudara mengikuti satu lomba; entah itu lomba ketangkasan ataupun lomba daya nalar? Masuk dalam perlombaan itu secara sadar berarti anda memahami bahwa di sana ketrampilan dan intelektualitas anda diuji. Dan untuk itu, anda mesti berusaha mengungguli peserta lain secara wajar dan jujur, tidak dengan menghalalkan segala cara karena ada aturan main yang mesti dipenuhi. Di sana kesejatian diri anda sebagai peserta diuji dan diberi kredit. Dari cara anda menampilkan diri, orang menilai siapa sebenarnya anda. Sampai di sini, disadari ataupun tidak, kita sedang hidup dalam satu arena perlombaan karena hidup inipun merupakan satu perlombaan, kita berlomba mengejar apa yang kita impikan. Hanya sayang, perlombaan ini meninggalkan dua hal yang mesti dicatat; pertama ia memungkinkan orang menghalalkan segala cara; mengkhianati aturan yang berlaku. Kedua, orang melihat peserta yang lain sebagai saingan, musuh yang harus ditaklukkan dengan cara apapun lalu orang lupa bahwa sebenarnya masuk dalam arena itu mereka sedang masuk satu proses pembelajaran menjadi jauh lebih baik. Karena dari mereka yang lain orang bisa menimbah hal-hal positif, belajar bagaimana mewujudkan impian kita sambil tidak mengkhianati aturan yang berlaku. Lalu cara mana yang sedang anda gunakan untuk meraihkan impian anda?

Berhadapan dengan kekuasaan, kita punya banyak cerita tentang orang-orang yang berkuasa; keunggulan dan kelemahannya dan bagaimana perjalanan mereka sampai ke sana. Ada yang berkuasa karena diberi mandat; mereka mampu memenuhi tuntutan yang diminta. Ada yang berkuasa karena mereka berhasil merebutnya sehingga yang dianggap sebagai saingan mesti dikikis habis/disingkirkan. Ada pula yang meraihnya dengan menitinya mulai dari tangga yang paling bawah; melalui proses perjuangan yang panjang; dengan melibatkan tidak sedikit orang yang dilihat sebagai rekan yang punya sumbangan khusus untuk itu. Apapun ceritanya, kekuasaan tidak luput dari isu persaingan; ada yang bersaing secara wajar dan apa pula yang bersaing dengan menggunakan segala cara, orang lain dilihat sebagai musuh yang harus ditaklukan dengan cara apapun. Kisah ini pun sudah jadi di jaman Yesus; kehadiranNya, oleh pemuka Yahudi dianggap sebagai penyebab runtuhnya pengaruh mereka terhadap masyarakat Yahudi. Dia adalah saingan yang mesti disingkirkan, musuh yang harus ditaklukkan. Karena itu kuasaNya dipertanyakan. Satu hal yang perly dicatat; melhat orang lain sebagai saingan sebenarnya kita menutup peluang untuk bisa belajar dari sesama karena yang ada dalam pikiran kita adalah bagaimana bisa mengalahkan mereka dan di sini peluang untuk berbuat curang terbuka. Jawaban Yesus menempatkan mereka pada posisi dilematis. Dari kisah ini hendak ditegaskan Yesus bahwa pertanyaan mereka mestinya ditujukan kepada diri mereka sendiri; mengapa pengaruh Yesus lebih besar dari pada pengaruh mereka? Mengapa sampai jadi demikian? Mestinya di hadapan Yesus mereka bercermin dan melihat di mana keunggulan dan kelemahan mereka, apa yang perlu mereka tata supaya pengaruh mereka bisa menyamai pengaruh Yesus. Mereka mestinya rendah hati untuk belajar dari keunggulan orang lain. Kisah inipun menjadi kisah kita, kita lebih suka melihat sesama sebagai saingan yang harus disingkirkan ketimbang dengan rendah hati mengakui kekurangan kita dan belajar dari mereka bagaimana mengatasi kekurangan ini.

Kita diciptakan dengan talenta yang aneka. Keanekaan ini mestinya memungkinkan kita untuk rendah hati dan siap belajar dari keunggulan sesama. Kita diciptakan menjadi sahabat bagi lain dan dipanggil untuk menjadikan hidup ini guratan pelangi dengan aneka warna yang mempesona? Kita yang dilahirkan untuk menjadi musuh bagi yang lain, mengapa kita mesti melihat sesama sebagai musuh, saingan yang mesti disingkirkan? Siapakah anda di hadapan sesamamu? Orang-orang yang punya ambisi besar untuk ber-kuasa tetapi tidak mau belajar dari sesama ataukah orang-orang yang mau berkuasa dengan siap belajar dari keunggulan sesama? Pengaruh tidak lahir dari kekerasan dan tipu daya, pengaruh adalah hidup dan tutur katamu yang membangun jaringan tak kelihatan dengan dan dalam diri sesamamu.

“Memiliki kerandahan hati untuk belajar dari sesama memungkinkan kita menghindarkan diri dari banyak hal negatif”.
[ back ]
footer2.jpg