Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 26-05-2010 | 21:31:08
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “BAGAIMANA MENGHASILKAN BUAH”
Mrk 11:11-26,Jumat, 28 Mei 2010

Adalah wajar bila yang menanam mengharapkan apa yang ditanam memberi hasil dan yang bekerja mendambakan kerjanya memberi sesuatu. Tetapi hal ini bisa saja tidak diperoleh karena berbagai alasan entah itu karena kelalaian kita, karena perubahan musim atau karena pengaruh luar lainnya yang mungkin saja tidak diperhitungkan sebelumnya. Hal yang sama kita temukan pada diri mereka yang mencintai keindahan; segala sesuatu mesti ditata rapih dan tiap benda yang ditempatkan dalam ruang mesti punya daya tarik dan harus menimbulkan kesan tersendiri bagi yang memandangnya. Bagi mereka, kerapihan dan tata ruang yang menarik dapat memberi ataupun melahirkan ide-ide baru berhubungan dengan keindahan dan hidup dan dapat mempengaruhi hidup manusia dan relasinya dengan yang lain. Dan menurut Feng Sui (pandangan Cina); tata ruang dan tempat benda-benda dalam ruang punya pengaruh bagi penghuninya. Kesalahan dalam menata ruang dan menempatkan benda-benda dalam ruang dapat berakibat fatal bagi pemi-liknya. Hidup dan mimpi kita tentang hidup yang lebih baikpun bergantung dari rapih tidaknya ruang hati kita, serius tidaknya kita berusaha. Ruang hati yang teratur, tertata rapih mempengaruhi penampilan kita dan berefek pada semangat kita untuk berjuang. Sebaliknya, hati yang sarat dengan aneka keinginan membuat orang dapat kehilangan fokus dan orientasi hidup. Kita dibingungkan oleh keinginan-keinginan kita yang tidak bisa dipenuhi dalam satu kesatuan waktu. Akibatnya relasinya dengan sesamapun turut dipengaruhi. Hatinya ibarat sebuah ruang dengan tumpukan aneka barang tanpa klasifikasi yang jelas.

Hari ini kita mendengar Yesus mengutuk pohon ara, beraksi membersihkan Bait Allah bukan dari rajutan laba-laba atau debu yang dibawa angin musim menutupi bangku-bangku Bait Allah tetapi dari penyalahgunaan tempat doa ini dan menasehati para muridNya untuk senantiasa berdoa. Pohon Ara ditanam dan dipelihara untuk menghasil-kan buah. Bait Allah dibangun sebagaimana tempat di mana orang bisa bertemu dengan Tuhannya dan mempererat relasinya dengan sesamanya. Pohon Ara yang tidak berbuah menyalahi takdirnya. Orang-orang Yahudi menyalahfungsikan bangunan doa sebagai tempat untuk berdagang, menyalahi fungsi bangunan itu dan para murid tidak mendapatkan apa yang mereka doakan karena mereka tidak melibatkan hatinya saat berdoa. Mestinya saat mendengar kisah ini, ada beberapa hal yang perlu kita evaluasi. Kita diciptakan dengan aneka potensi untuk memenuhi kebutuhan kita dan membangun satu kebersamaan yang lestari; sudahkah semua potensi yang ada kita gunakan secara maksimal demi merubah kisah hidup kita? Tidak berubahnya kita hidup kita boleh jadi karena potensi yang kita miliki tidak kita sadari atau tidak kita gunakan secara maksimal. Lalu lewat kisah ini kita juga ditanya; sudah sejauh mana rumah-rumah doa kita difungsikan secara baik untuk membangun relasi kita dengan Tuhan, diri sendiri, sesama dan alam; masihkah tempat-tempat doa kita difungsikan sesuai dengan maksud tempat-tempat itu dibangun? Di saat yang sama, kita diundang untuk melihat ke dalam diri dan menyadari bahwa diri kita sendiri merupakan satu rumah doa; dari mana doa-doa kita berasal dan ke mana doa-doa kita bermuara. Diri, hati kitalah yang menentukan segalanya. Hati yang baik melahirkan pribadi yang baik yang selalu memberi yang baik demi kebaikan diri dan sesama. Dan kebaikan ini akan menempatkan rumah doa pada tempat dan fungsinya yang sebenarnya dan kita akan melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Diulangnya kisah ini, mes-tinya mendorong kita untuk serius memanfaatkan semua potensi yang ada secara baik, mengartikan kehadiran rumah-rumah doa, membiarkan hati kita berperan merubah ceri-tera hidup ini ke arah yang lebih baik. ‘Apakah kita juga butuh kehadiran Yesus untuk membersihkan dan mengembalikan fungsi rumah-rumah ibadat kita, peran hati kita dalam hidup?’ Seandainya Dia hadir di jaman kita saat ini, mungkin juga tindakan yang sama akan Dia lakukan. Disadari atau tidak rumah-rumah doa kita telah berubah menjadi ruang pameran, tempat dipertajamnya perbedaan. Hati kita yang mestinya dipenuhi rasa cinta yang mempersatukan telah berubah menjadi ladang tumbuh rasa-rasa yang lain yang menceraiberaikan. Inilah yang membuat agama kita kehilangan daya tarik, hidup keagamaan kita dipertanyakan dan kehadiran kita kehilangan pesona.

Allah menciptakan semuanya baik adanya dan Ia menghendaki semua orang yang percaya beroleh selamat dan menjadi orang-orang baik. Hidup yang tidak bersahabat ini telah merubah segalanya, rumah doa jadi ajang pamer dan hati jadi ladang tumbuh rasa yang merusak. Untuk mengembalikan semuanya pada tempat dan fungsinya yang sebenarnya, hanya satu jalan yang mesti kita lakukan; bersihkan dan baharui ruang hati kita. Bila hati telah kembali menjadi tempat kasih bersemi dan rumah doa telah kembali menjadi rumah di mana segala perbedaan dipersatukan, hidup ini akan lebih mudah dijalani dan banyak soal dalam hidup ini dapat kita hindari. Kitapun mesti merasa terpanggil untuk merubah kisah hidup ini. Diri kita mesti menjadi sarana perpanjangan kasih Allah bukannya penjara rahmat Allah. Kita masih punya waktu untuk berbenah diri, hanya apakah kita bersedia untuk itu?

“Yang ada pada kita bila diartikan dan difungsikan secara sungguh-sungguh akan banyak berarti”
[ back ]
footer2.jpg