Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 24-05-2010 | 22:46:40
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “JADILAH PELAYAN”
Mrk 10:32-45,Rabu, 26 Mei 2010

Pelayanan adalah satu aksi yang luhur sifatnya tetapi sudah begitu sering kata dan aksi ini dimanipulasi demi keuntungan diri. Atas nama pelayanan; banyak orang berlomba-lomba merebut posisi penting dalam kebersamaan dan dalam nama pelayanan orang menyangka bahwa posisilah yang menentukan besar tidaknya seseorang atau ada tidaknya peluang untuk bisa melayani orang lain. Padahal menjadi pelayan dan melakukan karya pelayanan orang bisa dilakukan pada posisi mana saja karena setiap kita adalah pelayan, kalau bukan untuk orang lain untuk diri sendiri. Gambaran ini dapat kita temukan secara jelas di berbagai halaman harian lokal yang menjadi sarapan pagi kita. Heran bahwa pelayanan menjadi rebutan. Benarkah orang berjuang bukan hanya mengorbankan tenaga dan materi hanya demi melayani? Ataukah pelayanan hanyalah lebel yang digunakan untuk menutupi motivasi lain dalam hati? Hal ini akan terlihat jelas sesudah orang mendapatkan apa yang diperjuangkan. Karena saat itulah akan terlihat jelas motivasi apa yang melatarbelakangi usaha orang dalam merebut posisi penting yang ada; entah itu menjadi kesempatan mewujudkan ide pelayanan yang dikoar-koar ataukah yang akan kita saksikan adalah apa yang sebenarnya dibalut oleh ide pelayanan yang dikoar-koarkan se-lama kampanye. Di sini kita diingatkan bahwa untuk melayani kita tidak butuh posisi tertentu dan posisi yang kita tempati dalam kebersamaan haruslah memberikan kita peluang untuk bisa melayani sebanyak mungkin orang. Bukankah semakin tinggi keduduk-an seseorang semakin besar tanggung jawabnya? Kenyataan ini mestinya membuat orang berpikir dua kali bahkan lebih untuk mengajukan diri sebagai pelayan. Ramainya perlombaan membuat kita bertanya, ‘ada apa di balik itu?’ ‘pelayanan atau prestise dan uang?’

Ada kecenderungan dalam diri masing-masing kita untuk bisa menduduki posisi tertentu dalam kebersamaan. Kecenderungan ini kadang didasarkan pada kemampuan pribadi; orang merasa punya kesanggupan untuk itu tetapi begitu sering hanya karena prestise tanpa memperhitungkan kemampuan yang dimiliki. Kecenderungan yang samapun ada di kalangan para murid Yesus yang diwakili dua bersaudara Yakobus dan Yohanes. Tanpa malu, mereka meminta kalau boleh merekalah yang mendampingi Yesus, mereka siap meminum piala yang akan diminumNya. Tetapi Yesus mengingatkan bahwa siapa saja yang ingin menjadi besar/terdahulu harus siap melayani. Impian kedua bersaudara ini adalah impian bahkan ambisi setiap kita. Sering tanpa malu kita berusaha merebut apa yang bukan menjadi hak kita. Kata orang, dunia modern telah memungkinkan kita memiliki segalanya tetapi juga telah menyebabkan kita kehilangan/ketiadaan rasa malu. Awas-an yang diberikan Yesus, ditujukan juga kepada kita. Kita harus menjadi besar bukan karena kedudukan yang kita miliki tetapi karena kualitas pelayanan yang kita berikan kepada sesama, kepada siapa saja. Semakin strategisnya posisi yang kita miliki, mesti memungkinkan kita melayani sebanyak mungkin orang. Berada di atas sebuah puncak gunung memungkinkan kita melihat ke segala penjuru mata angin, demikian juga di saat kita berada pada posisi penting, pelayanan kita mesti menyentuh aneka lapisan masya-rakat. Yang kita hadapi dewasa ini justeru sebaliknya. Kita merebut posisi puncak bukan untuk melayani sebanyak mungkin orang tetapi untuk didewakan sebanyak mungkin orang. Kita berada pada posisi puncak buka untuk melihat ke segala penjuru mata angin tetapi untuk memperjuangkan kepentingan kelompok yang terkadang menjadi pemicuh rusaknya kebersamaan dan lunturnya nilai pengabdian kita. Masihkah iman kristen yang kita miliki berperan di saat kita berada pada posisi sentral?

Memiliki impian menjadi besar, menduduki posisi penting bukanlah dosa. Bukankah kita diciptakan untuk menjadi raja atas alam semesta? Motivasi untuk berada di sanalah yang menentukan besar tidaknya kita. Pola kepemimpinan kristen adalah pola pelayanan; kita mesti menjadi besar dalam dan melalui pelayanan yang kita berikan kepada sesama. Semakin tinggi posisi yang kita tempati mestinya memberikan kita semakin besar peluang untuk melayani sebanyak mungkin orang bukannya semakin mempersempit wawasan kita tentang pengabdian. Jangan pernah berceritera tentang kebesaran anda, biarlah pengabdian dan pelayanan anda terhadap sesama bersaksi tentang betapa berartinya nilai kehadiran anda bagi yang lain.

“Kita menjadi besar bukan karena posisi yang kita tempati tetapi karena dari posisi yang kita tempati banyak orang menadapat pelayanan kita”.
[ back ]
footer2.jpg