Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 24-05-2010 | 22:03:47
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “KEKAYAAN BISA MEMISAHKAN”
Mrk 10:17-27,Senin, 24 Mei 2010

Menarik memang mengamati hidup ini. Hal ini akan semakin kita pahami bila kita sering mengikuti berita tentang dunia sekitar kita lewat koran, radio, televisi dan berbagai media komunikasi lainnya. Dari sana kita menemukan kenyataan bahwa perjuangan menyiasati hidup ini disengajakan ataupun tidak telah menciptakan dua dunia yang terkadang ataupun semakin sulit diseberangi; di satu sisi ada dunia orang-orang berada yang sering berpikir matahari tak akan pernah terbenam dalam hidupnya dan di sisi lain kita menjumpai lautan orang miskin, di mana semangat hidup ibarat kaktus di atas karang enggan hidup mati tak rela. Walaupun kedua dunia ini jauh berbeda tetapi dalam hal tertentu konsekuensi keduanya tidak jauh berbeda. Kemiskinan dapat membuat orang pasrah pada nasib tetapi bisa juga menjadikan orang sebuas serigala lapar. Kata orang kemiskinan yang dihidupi secara terpaksa menyimpan kerakusan yang maha dahsyat. Bolah jadi orang miskin karena terlahir dalam lingkungan miskin dan ini jadi suratan nasib tetapi kemiskinan juga bisa lahir karena kepolosan manusia menghadapi dunia yang sering tak berperasaan, di sini hal ini lebih dikenal dengan pemiskinan. Kemiskinan dapat mengugah hati dan melahirkan banyak dermawan, tetapi bisa juga mememunculkan tidak sedikit orang-orang kaya baru yang lihai memanipulasi kemalangan sesamanya. Kalau itu ceritera yang muncul dari dunia orang-orang miskin, ceritera tentang dunia orang-orang kayapun tidak jauh berbeda. Kekayaan, apa yang kita miliki dapat melahirkan banyak dermawan, tetapi bisa juga menghadirkan serigala-serigala lapar ibarat laut yang tak pernah penuh walau seribu satu anak sungai mengalir ke dalamnya. Ia dapat membuat orang prihatin atas nasib sesamanya, bisa juga jadi inspirasi bagaimana mengail keuntungan di air keruh. Tetapi semuanya ini bergantung dari hati macam mana yang kita miliki dan apa semangat yang menjiwai kita dalam memandang apa yang kita miliki.

Kita baru saja merayakan pesta pentakosta, kedatangan roh yang dijanjikan yang menjadi standar pewartaan dan hidup kita. Hari ini kita mulai menjelahi satu dunia baru dengan membiarkan diri dibimbing Roh ini. Dan hari ini kita langsung dipertemukan dengan kita Si pemuda kaya gagal tes mengikuti Yesus bukan karena ia melanggar salah satu sepuluh perintah Allah yang telah dihidupinya sejak masa mudanya tetapi karena begitu berat baginya membagi kekayaan yang dimilikinya yang dikumpulkannya bertahun-tahun. Di sini hendak ditegaskan bahwa yang menentukan kesejatian seorang murid dan lolos tidaknya dia menjadi pengikut Kristus bukannya apa yang kita miliki tetapi bagaimana menggunakan apa yang kita miliki dalam membangun relasi dengan sesama. Apa yang kita miliki mesti menjadi jembatan untuk mempertemukan kita dengan sesama bukannya dijadikan sarana dan alasan untuk memisahkan kita dengan kembaran diri kita. Yang kita miliki mestinya tidak membuat kita merasa aman saat melihat kemalangan sesama, ia mesti menggerakkan hati kita untuk mengulurkan tangan kasih kepada me-reka. Lewat kisah ini, kita diingatkan untuk bersikap waspada dengan apa yang kita miliki atau apa yang tidak kita punya; dia bisa mendekatkan kita dengan kita, bisa juga menjadi dan menciptakan jurang yang memisahkan kita dari mereka. Dan perlu kita ingat bahwa kekayaan bukan terbatas pada materi yang kita miliki tetapi seluruh diri kita. Boleh jadi dari sudut materi, kita bukan orang-orang kaya tetapi dari segi fisik dan psikis kita sungguh sangat kaya. Kita punya fisik yang bagus, otak yang encer, telinga bagai radar, mata seekor rajawali, hati yang peka dan psikis yang sehat tetapi apakah semuanya ini kita gunakan secara baik ataukah dengan segala yang kita miliki kita berusaha memiskinkan sesama, menjadikan diri kita sebagai dewa-dewa kecil yang patut disembah?

Menjadi kaya bukan sesuatu yang buruk, bagaimana memperolehnya dan menggu-nakannya yang dapat menjadikan kita buruk. Tuhan tidak melarang kita menjadi kaya tetapi Dia menghendaki agar dengan apa yang kita miliki nasib malang sesama bisa ditolong. Kekayaan dan usaha mendapatkannya telah melebarkan jurang antara kita dengan kita, kita dengan mereka. Kekayaan bisa menjadikan kita dermawan, bisa juga memberanikan kita untuk berlaku tidak adil terhadap sesama, menggoyahkan sendi-sendi kesetiaan, meruntuhkan pilar-pilar kasih, melenyapkan kesabaran, mengikis kelembutan dan membutakan mata kita terhadap kehadiran sesama. Sebagai pengikut-pengikut Kristus, kita dipanggil dan diingatkan untuk berhati-hati dengan apa yang kita miliki dan apa yang tidak kita punya. Masihkah kita memliki seberkas kasih untuk membagi apa yang kita miliki kepada mereka yang sangat membutuhkannya?

“Segala yang ada pada kita mesti menjadi jembatan yang mampu mempertemukan kita dengan kita bukan sebaliknya”.
[ back ]
footer2.jpg