Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 20-05-2010 | 02:00:21
By : Erminold.Manehat, SVD
Theme : “TUGASMU CINTAMU”
Yoh 21:15-19,Jumat, 21 Mei 2010

Saya tidak tahu roh apa yang sedang menyalakan api semangat anda dalam menjalankan tugas anda, tetapi saya yakin selalu saja ada sesuatu yang mendorong kita untuk bisa menjalankan tugas kita dengan baik. Dan saya kira di sini rasa cinta mengendalikan segalanya. Cinta dan tugas adalah dua hal berbeda tetapi dalam perbedaan itu keduanya saling mempengaruhi. Cinta menjadi jiwa dari apa yang hendak atau sedang kita kerjakan dan mempengaruhi hasil kerja kita, dan tugas yang dijalankan dengan baik memperbesar rasa cinta orang terhadap diri kita dan menambah panjang usia sebuah cinta. Cinta menyalakan api semangat juang dan perjuangan mempertahankan api cinta tetap hidup. Apa yang kita kerjakan bisa menjadi bukti rasa cinta yang kita miliki dan rasa cinta yang kita miliki dapat mendorong kita untuk melakukan apa yang mesti kita lakukan dengan sepenuh hati dan seluruh diri. Itu pengaruh positif dari rasa cinta yang kita miliki tetapi hasil lain bisa saja kita peroleh. Rasa cinta yang tidak mendalam akan mematikan sema-ngat juang dan mempengaruhi hasil dari apa yang kita kerjakan; pekerjaan kita hasilnya asal-asalan karena kita tidak melakukannya dengan penuh rasa cinta alias terpaksa. Dari hasil kerja kita orang dapat menilai sebesar apa rasa cinta kita. Di sini rasa cinta menjadi kunci; besar kecilnya rasa ini menguasai ruang hati kita menentukan apa wajah hasil kerja kita.

Berbicara tentang cinta dan tugas, suatu saat entah kapan 2000 tahun silam, di hadapan ombak yang datang dan pergi menyapu bibir danau Tiberias seolah hendak mengingatkan manusia akan pasang surut hidupnya, Yesus menanyakan kesungguhan cinta Petrus terhadap diriNya lewat satu percakapan yang mengiris kalbu dan membangkitkan kenangan akan kisah yang sudah berlalu. Jawaban Petrus terhadap pertanyaan Yesus, cukup lantang seperti deru gelombang pantai membentur karang, ‘Tuhan, Engkau tahu bahwa saya mencintai Engkau’. ‘Kalau engkau mencintai Aku, Gembalakan dombaKu’, balas Yesus. Hati Petrus seolah diiris ketika pertanyaan ini diulang sampai tiga kali, mungkinkah Yesus ragu akan cintanya karena pengalaman penyangkalannya terhadap Yesus? Kisah ini menarik, sangat dramatis dan sarat makna. Cinta dan tugas ternyata tak terpisahkan. Rasa cinta kita mesti dibuktikan lewat pelaksanaan tugas-tugas kita dan tugas-tugas kita, hasilnya jadi ungkapan sebuah rasa cinta. Mencintai tanpa menjalankan apa yang menjadi tanggung jawab adalah penipuan, menjalankan tanggung jawab tanpa hati, tidak berpesan, keterpaksaan. Pertanyaan Yesus dan tugas yang dibnerikan kepada Petrus hendak menegaskan bahwa apapun tugas yang mesti kita jalankan semuanya harus dilandasi rasa kasih yang mempersatukan, cinta yang mengabdi tanpa pengkotakan. Hati harus dilibatkan saat kita hendak membuat sejarah. Jaman Petrus telah lama berlalu, kitalah yang mesti menjawab pertanyaan ini. Perulangan ini boleh jadi karena cinta kita akan Dia belum menyata dalam hidup. Kita mencintai Dia tetapi begitu sering tanggung jawab, apa yang menjadi ntugas kita kita diabaikan sehingga cinta kitapun diragukan. Di era sekular ini, kita butuh banyak gembala. Selain itu karena semakin langkah, gembala-gembala yang ada makin sulit ditemui, banyak pintu yang mesti dilalui, banyak syarat yang mesti dipenuhi. Jam terbang yang begitu tinggi membuat mereka begitu sibuk, lalu lupa dengan tugas utamanya. Kalau dulu, para malaekat gampang menemukan para gembala di padang, kini dari jumlah yang terbatas ini sulit ditemui atau ada banyak alasan yang diberikan untuk tidak ditemui. Dari jumlah yang makin kecil ini banyak juga yang lebih suka berputar di rimba perkotaan, kalaupun berada di padang mental orang-orang kota tidak mudah lepas. Sampai di sini masih mungkinkah cinta kita kepadaNya dibuktikan?

Apakah engkau mencintai aku? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab karena keseharian kita mungkin berkata lain atau jawaban kita akan jadi jebakan bagi diri kita sendiri. Perulangan atas pertanyaan ini mengisyaratkan seriusnya ketidakberesan relasi antara cinta dan tanggung jawab kita mesti diperhatikan dan ditangani secara serius. Kebiasaan kita untuk mengabaikan tanggung jawab ini membuat kesungguhan cinta kita kepadaNya disangsikan. Lalu siapakah kita dalam kebersamaan ini? Adakah kita adalah domba-domba yang sangat membutuhkan gembala ataukah kita adalah gembala-gembala yang perlu didombakan? Apapun kita cinta kita kepadanya patut dibuktikan dan tanggung jawab kita harus menjadi bukti cinta kita kepadaNya.

“Rasa cinta kita perlu kita buktikan lewat hidup dan karya kita”.
[ back ]
footer2.jpg