Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 06-03-2010 | 02:37:03
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : JANGAN TAKUT KEMBALI KEPADANYA
Lukas 15:1-3.11-32,Sabtu, 6 Maret 2010

Ketakutan adalah rasa yang sering menghantui hidup kita; sebelum atau sementara dan sesudah kita melakukan sesuatu. Rasa ini bisa membantu kita mengambil sikap bijaksana; awas dalam berlaku dan berhati-hati dalam bertindak tetapi lebih dari itu rasa ini bisa menciutkan nyali kita untuk mengekspresikan diri, kita berapriori yang bukan-bukan yang kemudian bila rasa ini mendominasi batalah segala rencana. “Jangan takut kembali kepadaNya”. Kata-kata ini mewakili beberapa kenyataan; pertama, rasa takut sangat manusiawi. Bila perasaan ini tak ada, peran hati kita patut dipertanyakan. Bahaya muncul bila perasaan ini tak membantu kita untuk menormalkan situasi. Merasa bersalah saja tidak cukup, harus ada usaha untuk memperbaikinya. Kedua, kita butuh bantuan sesama. Ketakutan melahirkan aneka pikiran; sikap curiga, menjatuhkan vonis terhadap diri sendiri sebelum menghadapi realitas yang sebenarnya, menilai buruk sesama tanpa mendekatinya. Ketiga, kita perlu sadar bahwa tidak semua orang yang dihadapi sama seperti apa yang kita bayangkan. Yang kita bayangkan mungkin tak terpikirkan oleh mereka. Di sini kita diingatkan untuk waspada terhadap perasaan yang satu ini. Ia dapat menghen-tikan langkah kita untuk menghadapi realitas yang sebenarnya.

Kisah anak hilang adalah kisah klasik yang senantiasa aktual. Kisah ini mewakili kisah manusia segala jaman. Kita cenderung menyalahgunakan kebebassan kita dan punya punya pikiran yang macam-macam tentang orang lain sebelum kita mendekati mereka. Sikap ini sering jauh berbeda dari kenyataan yang sebenanrya. Kalau manusia sering menutup pintu rumah dan hatinya untuk mereka yang menyakitinya, Tuhan yang kita imani lain sikapnya. Pintu rumah Tuhan dan hatiNya selalu terbuka bagi mereka yang ingin kembali dan bagiNya tidak ada kata terlambat. Dalam kisah ‘Si anak hilang” relasi manusia dengan dirinya, Tuhan dan sesamanya dilakonkan. Pertama, manusia, kita selalu ingin bebas dan begitu sering menyalahgunakan kebebasan kita, mengkhianati kebaikan yang kita terima. Penderitaan pada diri sendiri, putusnya relasi manusia dengan Tuhan dan sesamanya adalah konsekuensi dari semua ini. Di sini kita mesti melihat penderitaan dengan kaca mata yang lebih jernih. Penderitaan punya nilai keselamatan. Si bungsu sadar akan kesalahannya dan apapun yang akan terjadi, dia memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya. Itu sudah menjadi resiko dari sikapnya sendiri. Penderitaan mesti menjadi cermin untuk menata kehidupan kita. Kedua, Allah yang kita imani tidak seperti Allah yang kita bayangkan. Dia memberi kita kebebasan untuk hidup sesuai dengan apa yang kita ingini dan Dia selalu terbuka menerima kembali kedatangan kita. Dia membenci apa yang kita lakukan tetapi selalu memberi kemungkinan untuk bertobat. CintaNya membebaskan. Ketidaksetiaan kita tak mampu menggoyahkan kesetiaanNya. Ada seribu satu jalan pulang kepadaNya. Dia adalah cahaya di ujung terowongan. Tetapi ini tidak berarti kita boleh berbuat apa saja karena Dia baik. KebaikanNya harus membuat kita menjadi jauh lebh baik. Ketiga, peran kita dalam kebersamaan. Sikap si sulung patut dijadikan cermin sikap kita sendiri. Kita punya kecenderungan seperti si sulung; suka mengungkit-ungkit kesalahan sesama, mendaftarkan kesalahan dan dosa mereka sebagai alasan untuk menolak kehadiran mereka, mengucilkan mereka dari kebersamaan, membendung kebaikan orang lain kepada mereka. Kita berbuat seolah-olah yang ada pada kita hanyalah yang baik. Padahal kita sendiri tidak jauh lebih baik dari mereka. Sering hal ini kita lakukan untuk tidak memberi kesempatan kepada orang lain membongkar kebobrokan kita. Lalu di mana peran kita sebagai orang-orang beriman? Kritikan dan daftar dosa yang kita beberkan mestinya disertai dengan jalan keluar dan usaha untuk menyembuhkannya. Mungkin inilah penyakit yang sedang melanda kebersamaan kita yang perlu ditangani secara serius.

Anda dan saya, kita ada dalam kebersamaan bukan sebagai hakim kehidupan orang lain. Kita ada di sana untuk membantu sesama sedapat mungkin keluar dari lilitan kelemahannya. Kita mencintai Tuhan yang membuka pintuNya untuk semua orang, mengapa tidak kita tunjukkan itu dengan menjadi jalan pulang bagi mereka yang tersesat? Kalau kita tidak bisa menjadi si bungsu yang tahu apa salah kita dan ingin kembali, biarlah kita mencontohi sikap Allah yang kita imani, siap menerima kembali mereka yang mau bertobat. Bila tidak jangan kita memperpanjang barisan si sulung yang gemar membeberkan dosa dan salah sesama tanpa usaha untuk membantu mereka memperbaikinya.

“Kalau Tuhan siap menerima kita, mengapa kita menutup pintu hati kita terhadap sesama?”
[ back ]
footer2.jpg