Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 05-03-2010 | 22:27:01
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘LIBATKAN SELURUH HATIMU’
Mateus 23:1-12, Selasa, 2 Maret 2010

Pernahkah kita membuat perbandingan hasil dari apa yang kita lakukan dengan melibatkan seluruh diri dan hati dan apa yang kita lakukan asal jadi karena terpaksa? Hasilnya jelas jauh berbeda, yang dilakukan dengan sepenuh hati akan mendatangkan kepuasan tersendiri entah itu untuk diri sendiri maupun untuk mereka yang menyaksikannya. Dari hasil ini kita juga bisa melihat motivasi orang entah hal itu dilakukan dengan motivasi yang luhur, murni ataukah sekedar untuk mengelabui. Karena hasil dari apa yang kita lakukan akan berbicara banyak tentang siapa kita sebenarnya tanpa kita sendiri harus mengatakannya. Libatkan seluruh hatimu, kata-kata ini mengisyaratkan situasi dunia kita dewasa ini; situasi penuh kepura-puraan, situasi aspal-asli tapi palsu, situasi serba imitasi. Kata-kata ini mengajak kita untuk melihat ke dalam diri, sudah sejauh mana kita mengekspresikan keaslian-kesejatian diri kita dalam kebersamaan. Kadang kita bersikap begitu ramah tetapi sebenarnya di balik keramahan itu kita menyembunyikan dendam yang mematikan. Keprihatinan yang kita perlihatkan hanyalah bagian dari teknik memenangkan diri kita sendiri. Sebagai orang-orang kristen mestinya sikap ini bukanlah sikap kita. Bagi kita hidup Yesus mestinya menjadi cermin hidup kita; kita harus hidup sebagaimana Kristus hidup. Tetapi apakah ini mungkin?

Hari ini kita kembali mendengar, Yesus mengecam kaum Farisi dan para ahli Taurat dan memberi awasan kepada para murid untuk mewaspadai mental dan budaya kelompok ini. Hal ini dikatakan Yesus karena kitapun cenderung atau sedang meng-hidupi menmtal dan budaya ini; melakukan sesuatu hanya untuk memberi kesan baik, mengelabui orang lain. Untuk itu, di masa puasa ini, sikap kita perlu dibaharui. Hidup ini adalah usaha untuk mencari yang lebih baik dari yang sudah baik, yang lebih benar dari yang sudah benar dan yang lebih adil dari yang sudah adil. Tetapi bagaimana menjadi yang lebih baik dari yang sudah baik, yang lebih benar dari yang sudah benar dan yang lebih adil dari yang sudah adil? Menjadi baik, benar dan adil saja sudah begitu sulit apalagi harus lebih dari itu. Sulit memang menterjemahkan teori ini dalam keseharian kita di dunia yang sedang memuja dan mengidolakan kelicikan dan sandawara. Tetapi apapun situasinya, sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk bisa menampakkan gambaran hidup yang berlawanan dengan kecenderungan dunia ini. Hidup kita harus lain dari hidup yang dihidupi oleh dunia ini walau kita hidup dalam dunia yang sama. Sebagai orang beriman hidup keagamaan kita mesti lebih benar dari mereka yang lain. Ingat bukan agama kita lebih benar tetapi hidup kita harus lebih benar. Bila bagi yang lain agama hanyalah garansi untuk membedakannya dari yang lain, bagi kita agama harus menjadi jiwa yang menggerakkan seluruh hidup kita. Hidup kita harus jauh lebih baik dari kaum Farisi dan ahli Taurat. Kalau kata-kata dan hidup mereka tidak sejalan, kata-kata dan hidup kita mesti satu; apa yang kita katakan adalah apa yang kita hidupi dan apa yang kita hidupi itulah yang mesti kita katakan. Kalau mereka lebih pandai berteori, kita mesti menun-jukkan bahwa kita bukan hanya pandai berkata-kata tetapi juga mampu membuktikan kata-kata kita dalam praktek. Sebab kebesaran seseorang bukan terletak pada apa yang dikatakannya tetapi apa yang dihidupinya. Hidup kita menentukan benar tidaknya apa yang kita katakan. Teori boleh hebat tetapi kalau prakteknya nol, kita sendiri menggugurkan teori kita. Dalam huubungan dengan pelayanan, yang dibutuhkan bukan teori tentang pelayanan tetapi bagaimana melayani sesama dengan cinta yang mengabdi. Begitu sering kita melakukan kebaikan bukan untuk kebaikan sesama tetapi supaya mereka dapat diikat oleh kebaikan kita dengan demikian kita dapat memperla-kukan mereka sesuka hati kita.

Kembali kita diingatkan bahwa yang kita cari dalam hidup adalah keba-hagiaan. Sebagai orang beriman untuk meraih kebahagiaan kita diundang untuk menghidupi hidup keagamaan kita secara benar, hidup kita harus jauh lebih baik dari hidup kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat. Semua ini tidak mudah memang untuk dijalani karena kita sudah terlanjur menghidupi mental kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat tetapi untuk itu kita telah dipanggil. Untuk menjadi yang lebih baik dari yang sudah baik, yang lebih benar dari yang sudah benar dan yang lebih adil dari yang sudah adil bersiaplah berperang dengan diri anda sendiri. Jangan mengeritik, mengecam sesama karena anda membenci mereka tetapi lakukan itu karena anda ingin mereka menjadi jauh lebih baik.

“Apapun yang kita lakukan mesti didasarkan pada keinginan agar sesama menjadi jauh lebih baik”.
[ back ]
footer2.jpg