Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 27-02-2010 | 22:39:07
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ANDA BUKAN HAKIM SESAMA
Lukas 6:36-38, Senin,1 Maret 2010

Pernahkah anda meluangkan waktu menghitung berapa banyak rambu lalu lintas yang dipasang sepanjang jalan yang anda lalui? Kehadiran mereka di tempat-tempat tertentu punya makna tertentu pula bukan sekedar penghias jalan. Mereka dihadirkan dengan isyarat khusus agar pengguna jalan raya bisa selamat sampai ke tujuan. Sampai di sini kita bertanya, mengapa masih saja terjadi kecelakaan? Karena kehadiran mereka diabaikan, makna yang diwakilinya kita sepelekan. Bila itu yang terjadi dengan rambu-rambu lalu lintas, hal yang sama pula terjadi dengan rambu-rambu kehidupan. Ada banyak rambu kehidupan yang dihadirkan untuk membantu mengartikan kehadiran kita dalam kebersamaan dan menghindarkan hal-hal yang dapat meniadakan arti kehadiran kita di sana. Tetapi mengapa masih saja terjadi banyak soal dalam hidup kita? Karena kita hidup dalam kebersamaan tetapi yang kita lakukan hanya untuk diri dan kepentingan sendiri bukan untuk kepentingan bersama. Tidak jarang kita menjadikan diri standar untuk mengukur kehidupan orang lain tanpa punya kesediaan untuk belajar dari orang lain. Kita lupa bahwa berada dalam keber-sama berada bersedia untuk bisa saling memahami, saling melengkapi dan saling memperkaya.

Hari-hari puasa sedang kita jalani, kesempatan untuk berbenah diri, saat berahmat untuk membaharui relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Hari-hari tobat ini, mestinya kita gunakan untuk meningkatkan kesedaran bahwa dalam kebersamaan kehadiran kita mesti memberi warna yang kkhas bagi diri sendiri maupun bagi kebersamaan itu. Untuk itu di samping ada banyak rambu lalu lintas, ada pula tidak sedikit rambu kehidupan; yang membantu kita untuk bisa menempatkan diri secara tepat dalam kebersamaan. Sadarkah kita akan kehadiran mereka? Mengapa ada begitu banyak soal yang tidak terselesaikan dan tidak kurang masalah yang mesti kita hadapi dalam hidup yang tidak kekal ini? Ada seribu satu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Satu hal yang pasti, yang dapat menjadi wakil seluruh jawaban; kita belum serius mengindahkan rambu-rambu kehidupan yang ada dalam keseharian kita. Karena itu kita diminta untuk menjalankan apa yang sudah kita miliki dengan sepenuh hati. Ada banyak contoh kecil untuk menjawabi kenyataan ini. Dalam kebersamaan kita lebih suka dan gampang menerima tetapi penuh perhitungan dalam memberi. Hal ini sederhana tetapi dampaknya tidak sesederhana yang kita bayangkan. Di sini ketidakadilan menjadi muara tindakan kita. Kalau kita suka menerima, kita juga mesti terbuka untuk memberi agar yang mengumpulkan banyak tidak berkelimpahan dan yang mengumpulkan sedikit tidak berkeku-rangan. Dan kebaikan bukan sepotong roti yang habis dibagi; kebaikan yang dibagi akan menjadi sumber air yang tak penah kering. Dan kebaikan yang kita lakukan akan membuat kita tetap hidup setiap saat kebaikan kita dibicarakan orang. Selain itu, kita begitu gampang menghakimi-menghukum orang lain tetapi penuh pertimbangan menyalahkan diri sendiri. Melihat-mengeritik kesalahan sesama adalah satu kewajiban tetapi akan jauh lebih baik bila kita mencari jalan bagaimana membantu sesama mengatasi kelemahannya. Begitu sering terjadi, kita membicarakan kekurangan orang lain tetapi pada saat yang sama kita sendiri sedang melakukan hal yang tidak jauh berbeda dari mereka yang menjadi topik pembicaraan kita. Ingat, di saat anda membicarakan kekurangan orang lain, di saat yang sama anda mewartakan kepada yang lain siapa sebenarnya anda. Debu di mata sesama lebih besar dari pada balok yang ada di mata kita. Hal ini tidak berarti kita harus membiarkan orang lain berbuat salah. Kita perlu menunjukkan kesalahan tetapi tidak lupa memberi jalankan keluar. Kesalahan sesama bukan akhir dari riwayat hidupnya. Kalau kita hanya memperhatikan kesalahan mereka, kebaikan mereka akan kita lupakan. Tetapi bila kita mengingatkan bahwa pada diri mereka masih ada kebaikan, kita akan selalu memberi mereka kesempatan untuk berubah. Saudara, keluarkan balok yang ada di matamu sebelum mengorek serpihan di mata sesama. Kita diciptakan dan dipanggil untuk menjadi contoh bagi sesama bagaimana hidup yang sungguh hidup tetapi bukan menjadi standar untuk mengukur kehidupan sesama. Kita semua sama memiliki keunggulan dan titik-titik lemah walau-pun dalam kadar dan tingkatan yang berbeda.

Sebagai orang-orang beriman yang hidup dalam kebersamaan, kita dipanggil untuk bisa membantu sesama sedapat mungkin keluar dari kesulitan mereka. Kita tidak diangkat untuk mempersulit mereka yang sedang mengalami masa-masa sulit.Kita ada dalam kebersamaan untuk membuat hidup jauh lebih. Lebih jauh dari itu kita bukanlah alat ukur kehidupan orang lain. Rambu-rambu kehidupan yang ada tercipta untuk anda dan saya. Bila masing-masing kita mampu mengindahkan kehadirannya, bukan tidak mungkin soal-soal dalam kebersamaan dapat dikurangi dan masalah-malasah kehidupan dapat dihindari. Hanya saja apakah kita siap untuk itu?

“Kekurangan sesama mestinya menjadi cermin hidup kita untuk menata diri sendiri”
[ back ]
footer2.jpg