Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 25-02-2010 | 21:08:55
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : HARUS LEBIH BENAR
Mateus 5:20-26, Jumat, 26 Feb 2010

Kita hidup dalam kebersamaan. Di sana masing-masing orang menjalani hidup ini dengan gaya dan potensi yang dimiliki. Adanya perbedaan ini membawa kita masuk ke dalam ruang yang penuh dengan warna-warni hiasan hidup. Perbedaan ini bisa menjadi jembatan yang mempertemukan kita dengan kita, bisa juga menjadi alasan munculnya konflik saat kita berusaha untuk membuat keseragaman atau ketika kita menganggap apa yang kita miliki jauh lebih baik dari orang lain. Menghindari hal ini, kita perlu banyak belajar dan memiliki sikap terbuka untuk bisa menimbah apa yang positif dari perbedaan yang ada. Tanpa mengambil sikap ini, kebersamaan itu akan berubah menjadi medan perang dan kebahagiaan yang kita impikan tidak akan menjadi kenyataan. Pernahkah anda menyaksikan indahnya pelangi di kaki langit? Dia mempesona bukan karena ia dijadikan dari satu warna, tetapi karena tangan alam menyulamnya dalam seribu satu warna. Perbedaan membuat hidup ini menarik untuk ditelusuri dan hal ini mesti dihargai tidak harus dipertajam. Itu berarti pula anda tidak perlu sama dengan saya dan sebalik-nya. Bukankah masing-masing tali pada gitar punya nada sendiri-sendiri walau lagu yang sama sedang menggetarnya? Yang menjadi soal adalah apakah kita sungguh meng-hayati ketunggalan kita dalam kebersamaan ini?

Kebersamaan seharusnya dilihat sebagai satu sekolah tentang hidup di mana kita bisa banyak belajar bagaimana menyiasati hidup ini; dengan mengetahui karakter masing-amasing pribadi kita bisa menghindari banyak soal dan tahu bagaimana seharusnya kita menempatkan diri dalam kebersamaan itu. Kebersamaan juga dapat dijadikan sumber kekuatan seseorang bila relasi di antara orang-orang dalam kebersamaan itu dibangun di atas fondasi saling menerima dan saling menghargai dengan dasar pemikiran hidup ini adalah usaha untuk mencari yang lebih baik dari yang sudah baik, yang lebih benar dari yang sudah benar dan yang lebih adil dari yang sudah adil. Tetapi bagaimana menjadi yang lebih baik dari yang sudah baik, yang lebih benar dari yang sudah benar dan yang lebih adil dari yang sudah adil? Menjadi baik, benar dan adil saja sudah begitu sulit apalagi harus lebih dari itu. Sulit memang menterjemahkan teori ini dalam keseharian kita di dunia yang sedang memuja dan mengidolakan keseragaman; tidak mau kalah dengan yang lain, kalau dia bisa kenapa saya tidak. Tetapi apapun situasinya, sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk bisa menampakkan gambaran hidup yang berla-wanan dengan kecenderungan dunia ini. Hidup kita harus lain dari hidup yang dihidupi oleh dunia ini walau kita hidup dalam dunia yang sama. Sebagai orang beriman hidup keagamaan kita mesti lebih benar dari mereka yang lain. Ingat bukan agama kita lebih benar tetapi hidup kita harus lebih benar. Bila bagi yang lain agama hanyalah garansi untuk membedakannya dari yang lain, bagi kita agama harus menjadi jiwa yang mengge-rakkan seluruh hidup kita. Kalau membunuh tidak diperbolehkan dan melanggar hukum, bagi orang beriman kita diingatkan untuk menahan emosi sedapat mungkin, jangan ma-rah dan marah adalah tindakan lain dari membunuh; mematikan semangat yang dimarahi, merusak langit batinnya dan bagi kita orang itu telah mati, tak ada tempat baginya di hati kita dan memarahi merugikan diri, merusak kebahagiaan kita. Bila anda marah dengan seseorang anda tidak akan memperoleh apa-apa selain kehilangan banyak hal. Bila rasa ini mendominasi ruang anda anda, segala kebaikan orang akan terlupakan, yang positif jadi negatif, yang putih jadi hitam karena marah menggelapkan penglihatan anda baik mata maupun hati. Sebagai gantinya, untuk menjadi lain dari mereka yang lain, kita dipanggil untuk bisa berdamai dengan mereka yang kita musuhi bukan karena mereka layak untuk itu tetapi demi diri kita sendiri; satu musuh terlalu banyak dan 1001 sahabat terlalu kurang. Kita diciptakan dengan hati untuk mencinta bukan untuk memusuhi. Karena itu berdamai, siap memaafkan dan mengampuni adalah jalan terbaik menjadi yang lebih baik, lebih adil dan lebih benar.

Kembali kita diingatkan bahwa yang kita cari dalam hidup adalah kebahagiaan. Sebagai orang beriman untuk meraih kebahagiaan kita diundang untuk menghidupi hidup keagamaan kita secara benar tetapi di sini perlu digarisbawahi bukan agama kita yang benar tetapi hidup kitalah yang mesti lebih benar sesuai dengan ajaran agama yang kita anut. Salah satu sikap yang dapat menjadi ekspresi hidup keagamaan yang benar adalah memupuk rasa cinta dan mengikis rasa benci dan kemarahan yang memisahkan dari ruang hati; siap mengampuni dan rela berdamai dengan situasi dan sesama. Semua ini ti-dak mudah memang untuk dijalani tetapi untuk itu kita telah dipanggil dan ahnya dengan cara ini kita hidup kita bisa berubah. Untuk menjadi yang lebih baik dari yang sudah baik, yang lebih benar dari yang sudah benar dan yang lebih adil dari yang sudah adil bersiaplah berperang dengan diri anda sendiri.

“Marah orang anda tidak akan mendapat apa-apa, anda justeru akan kehilangan banyak hal”.
[ back ]
footer2.jpg