Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 24-02-2010 | 03:57:39
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : JANGAN CARI-CARI ALASAN
Lukas 11:29-32,Rabu, 24 Feb 2010

Kenyataan menunjukkan bahwa dari satu titik bisa ditarik seribu satu garis dan dari satu kenyataan bisa muncul aneka pendapat yang tampil dan beragam ekspresi. Mungkin benar apa yang dikatakan orang, ‘tot capita tot sensus’-banyak kepala banyak pendapat’. Kalau itu kenyataannya, kita juga dapat menerima bila kita mengatakan ada banyak cara orang menyatakan sikapnya terhadap seseorang atau sesuatu. Ada orang yang dapat mengatakan secara langsung dan terus terang tentang apa yang dirasakannya tetapi ada yang menggunakan jalan yang berliku-liku untuk mengatakan apa yang ada dalam hati-nya dengan harapan yang mendengarnya bisa menarik kesimpulan sendiri. Sikap tentu saja bergantung dari karakter orang ataupun kebiasaan orang. Ada yang berpendapat bahwa lebih baik mengatakan terus terang dari pada berputar-putar karena tidak semua orang punya kemampuan untuk mema-hami apa yang kita sampaikan dengan cara berputar-putar. Yang lain lagi memberi alasan bahwa lebih baik menyampaikan dengan cara berputar-putar dari pada menyakiti ataupun melukai perasaan orang. Apapun jalan yang kita tempuh, satu hal yang diminta dari kita adalah pandangan yang kita berikan harus sungguh berdasarkan kenyataaan bukan direkayasa atau dengan alasan yang dicari-cari.

Saya tidak tahu bagaimana relasi anda dengan orang-orang di sekitar anda, tetapi satu hal yang ingin saya sampaikan dan mungkin juga sebagai awasan, ‘jangan pernah biarkan apa yang anda rasakan mendominasi pikiran anda’. Mengapa demikian? Karena bila rasa itu adalah rasa benci, dia akan mempengaruhi segala pandangan anda tentang sesuatu atau seseorang; di mana yang baik akan selalu tidak baik di mata anda, yang positif akan selalu negatif dalam pikiran anda bahkan rasa ini akan mendorong anda untuk mencari-cari alasan demi sebuah penolakan yang rasional. Standar yang anda gunakan untuk menilai orangpun hanya satu; ketidaksukaan anda. Hal ini dapat kita lihat pada sikap orang-orang Yahudi terhadap Yesus; mereka meminta tanda atau bukti dari Yesus supaya mereka bisa percaya kepadaNya. Hal ini mereka lakukan bukan karena didorong oleh keraguan mereka tetapi lebih oleh ketidaksukaan mereka terhadap Yesus karena Yesus sendiri sudah melakukan banyak hal yang dapat menjadi bukti bahwa Yesus patut dipercaya. Mereka masih membutuhkan jawaban Yesus supaya mereka punya alasan untuk membenarkan apa yang ada dalam otak mereka tentang Yesus. Lalu apakah kita membutuhkan tanda/bukti untuk bisa percaya pada sesuatu atau seseorang? Bukti/tanda dibutuhkan saat orang berada dalam keraguan, kebimbingan akan sesuatu/seseorang. Kenyataan ini mengisyaratkan bahwa kita tidak selalu membutuhkan tanda/bukti untuk bisa percaya. Tambahan pula bila semua hal mesti difisikkan, dengan standar apa kita dapat mengukur kedalaman sebuah cinta atau keyakinan? Dapatkah anda bayangkan bagaimana jadinya dunia ini bila segala sesuatu mesti didasarkan pada tanda/bukti? Kepercayaan adalah soal kualitas jiwa, keterbukaan diri dan kesediaan hati untuk menerima kenyataan yang ada bukan banyaknya tanda. Ketika orang-orang Yahudi meminta tanda supaya mereka bisa percaya, Yesus berkata bahwa mereka hanya bisa diberi tanda nabi Yunus, nabi yang menobatkan orang-orang Niniwe. Orang-orang Niniwe berbalik haluan karena melihat tanda yang diperlihatkan Yunus. Dari pada meminta tanda, lebih baik dengan rendah hati belajar dari orang-orang Niniwe. Bagi Yesus kepercayaan mestinya meru-pakan sesuatu yang harus muncul dari dalam diri manusia bukan sesuatu yang lahir karena dipaksakan dari luar. Keselamatan ditawarkan kepada setiap pribadi dan ta-waran ini mesti dijawab secara pribadi pula. Orang harus bebas menentukan sikap karena konsekuensinya pun sangat personal. Katakan terus terang bahwa anda menolak tidak perlu tanda untuk dijadikan alasan.

Iman/kepercayaan bukan soal tanda tetapi soal hati. Hebatnya tanda tidak akan mampu mempengaruhi bila orang tidak punya hati. Ini tidak berarti kita tidak membutuhkan tanda. Karena beriman tidaknya seseorang sulit diukur hanya bisa dideteksi dari apa yang kelihatan, hidup kita. Hidup kita sendiri menjadi tanda terbesar beriman tidaknya kita. Karena itu kita harus membiarkan iman kita mempengaruhi hidup kita dan hidup kita menjadi ekspresi apa yang kita imani. Kehadiran kita dalam kebersamaan mesti menandakan kehadiran Allah yang kita imani. Hal lain yang mesti kita waspadai, jangan biarkan ketidaksukaan menguasai ruang hati anda karena bila ini terjadi anda cenderung mencari-cari alasan untuk bila menolak sesama. Pupuklah kerendahan hati yang anda miliki untuk bisa belajar dari sesama bagaimana bisa menjadi jauh lebih baik.

“Ruang hati anda tercipta untuk menjadi ruang tamu kebaikan bukan tempat kebencian bertumbuh dan menguasai hidup anda”.
[ back ]
footer2.jpg