Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 21-02-2010 | 21:00:56
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : BIARKAN TUHAN MEMUTUSKAN
Mateus 6:7-15,Selasa,23 Feb 2010

Adalah wajar setiap orang punya cara sendiri untuk mengekspresikan diri atau melakukan sesuatu. Mungkin saja tugas yang sama sedang dihadapi tetapi hasilnya bisa saja berbeda satu dari yang lain, khas bergantung dari siapa yang melakukannya, ditentukan oleh motivasi yang melatarbelakangi tindakan itu; ada orang yang melakukan sesuatu karena dipaksakan, ada yang melakukan hal itu karena kebutuhan dan ada lagi yang melakukan hal ini hanya untuk menimbulkan kesan baik, tidak mau ketinggalan. Selain itu mesti dilihat sejauh mana pemahaman orang akan apa yang dilakukan, dalam situasi apa dia berada dan penilaian mereka yang memandangnya. Orang bisa duduk semeja menghadapi menu makanan yang sama tetapi kesannya bisa saja berbeda entah itu dalam ekspresi ataupun tentang pendapatnya; ada yang bisa mengatakan menu itu kelebihan garam tetapi ada lagi yang bisa mengatakan rasanya hambar. Pendek kata setiap kita punya cara yang khas dalam melakukan sesuatu atau dalam mengatakan sesuatu. Di sini standar yang kita gunakan untuk menilaipun mesti berbeda walaupun ada standar umum. Walalupun ini kenyataannya, kita toh mesti mengatakan bahwa apapun sasarannya, apa yang kita lakukan selalu mengekspresikan diri kita sebagai individu sekaligus berdampak sosial? Dari apa yang kita lakukan, apap yang kita katakan, orang dapat melihat siapa kita sebenarnya.

Kita sudah biasa berdoa dan boleh jadi anda sedang berdoa ataupun mungkin sedang gelisah menanti terkabulnya doa anda atau boleh jadi anda kecewa karena semakin banyak anda berdoa semakin besar kekecewaan anda karena anda merasakan bahwa doa anda tidak pernah dikabulkan. Berhadapan dengan kenyataan seperti ini, saya hanya mau memberi tahu bahwa mungkin saja anda merasa kecewa karena anda menghendaki doa anda dikabulkan dengan cara yang anda kehendaki bukan menurut cara orang yang anda minta pertolongannya. Doa merupakan satu aktivitas dari manusia beriman bahkan bagi mereka, hidupnya merupakan satu doa. Di sini doa merupakan ungakapan pengalaman keseharian manusia, penyerahan seluruh hidup; suka dan dukaa, tawa dan tangis, sukses dan gagal, syukur dan rintihannya tanpa melepaskan diri dari individualitas dan sosialitas dirinya di hadapan Tuhan dan sesama. Doa kita mesti merupakan refleksi dari relasi manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesamanya dan dengan penciptanya. Doa mesti merupakan satu aktifitas di mana manusia membuka diri terhadap penilaian Tuhan, menggugah kemurahan Tuhan dengan membeberkan seluruh pengalaman hidup dan memberikan Tuhan kebebasan untuk menjawabinya sesuai dengan gerakan hatiNya. Ini berarti berdoa, melantunkan rumusan doa-doa tertentu saja belum cukup. Doa kita harus melibatkan seluruh diri kita; isi, cara dan motivasi kita menentukan segalanya, biarkan Tuhan mengabulkan doa kita dengan caraNya bukan dengan cara kita. Karena itu ketika menjelaskan bagaimana seharusnya doa seorang beriman, Yesus menjadikan doa BAPA KAMI sebagai contoh. Dilihat dari bentuknya, doa ini begitu singkat tetapi bila dilihat dari isinya, doa ini mengundang manusia untuk merenungkan dan mengevaluasi seluruh hidupnya dalam relasi dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri dan dengan dunia dan sesamanya. Sebagai makhluk Tuhan, sudahkah kita membiarkan diri kita menjadi kerajaan di mana Allah menjadi rajanya, mengatur diri dan hidup kita atau di mana kita hadir di sana kerajaan kasih Allah yang kita tampakkan? Sudah kita membiarkan kehendak Tuhan terjadi atas diri kita ataukah kita memaksa Tuhan untuk selalu emgnikuti kehendak kita? Adakah kita puas dengan apa yang kita miliki dan berusaha memanfaatkannya secara maksimal ataukah kita lebih suka mengada-ada dan tidak puas dengan apa yang ada? Sudah sejauh mana dan sedalam apa relasi kita dengan sesama, apakah kita punya kesediaan untuk mengampuni sesam, memberi mereka kesempatan untuk bisa kembali berbuat baik ataukah lebih mudah bagi kita untuk meminta diampuni ketimbang memupuk sediaan dan kerelaan untuk berkorban dalam memahami sesama? Sudahkah dengan segala potensi yang ada, kita berusaha menjauhkan diri dari pencobaan ataukah kita begitu mudah membiarkan diri dicoba oleh keinginan-keinginan kita? Apa peran kita dalam membangun kebersamaan yang membahagiakan?

Doa adalah keseharian kita sebagai orang-orang beriman. Tetapi tidak semua doa kita merupakan ungkapan iman kita yang tridimensional....doa-doa kita masih sangat individual, kita lebih melihat kebutuhan kita ketimbang menjaga keseimbangan relasi kita dengan diri kita, Tuhan dan sesama. Dalam berdoa, kita lebih banyak menutut ketimbang membiarkan Tuhan mengabulkan doa kita dengan caraNya. Bukan banyaknya atau panjangnya doa yang terpenting tetapi bagaimana berdoa dan isi dari doa-doa kita. Janganlah mengada-ada dalam berdoa, berdoalah secara sederhana dan biarkan dalam keserdahnaan doa ada hati dan hidupmu sendiri...Amin

“berdoalah dengan hati dan biarkan Tuhan memutuskan apa yang terbaik untukmu”.
[ back ]
footer2.jpg