Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 17-02-2010 | 19:32:32
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : KITA BERBEDA
Mateus 9:14-15, Jumat, 19 Feb 2010

Kita selalu hidup dalam kebersamaan. Karena hidup bersama, kita mudah tergoda untuk mengarus; melakukan sesuatu karena ingin sama atau tidak mau ketinggalan dari orang lain atau kita mau agar apa yang kita lakukan dilakukan pula oleh orang lain. Sikap seperti ini tidak menunjukkan pengetahuan kita bahwa masing-masing kita unik dan tiap orang punya kebebasan untuk melakukan apa yang mereka ingini. Kita lupa bahwa hidup bersama tidak berarti keseragaman. Kita bukan standar kehidupan sesama dan kita tidak punya hak untuk menilai kehidupan orang lain. Kita hanya boleh berharap bahwa apa yang kita lakukan dapat dijadikan cermin sesama untuk menata hidupnya tetapi ini juga bergantung dari terbuka tidaknya mereka untuk belajar dari orang lain. Di sana dalam kebersamaan itu mesti diberlakukan prinsip kesalingan karena adanya perbedaan di antara kita di mana masing-masing orang punya kelebihan dan kekurangan. Menyadari hal ini, kita mesti bersedia untuk saling melengkapi dan memperkaya. Tetapi ini hanya mungkin terjadi bila dalam diri kita ada keterbukaan untuk menerima kehadiran yang lain, kese-diaan untuk belajar dari mereka dan kerendahan hati untuk menyadari situasi diri sendiri. Banyak soal muncul dalam keseharian kita, tidak sedikit konflik yang tercipta di antara kita karena kita menutup mata terhadap prinsip ini dan kita berusaha menjadi standar kehidupan orang lain; apa yang kita hidupi mesti dihidupi oleh yang lain dan apa yang kita lakukan kita jadikan alasan untuk menilai kehidupan mereka yang mingitari kita. Kita lupa bahwa keseragaman dapat mematikan keunikan dan memungkinkan orang tenggelam dalam massa lalu pada akhirnya kehilangan kesejatian diri sendiri.

Kita sedang menjalankan puasa dan tobat, satu masa di mana kita berusaha mengevaluasi seluruh hidup iman kita dalam relasi dengan Tuhan dan sesama, membangun kembali nilai-nilai luhur kemanusiaan dan kekristenan kita. Ini berarti, puasa bukan hanya soal lahiriah belaka; masalah bagaimana mengurangi porsi makan kita, mengendalikan diri terhadap hal-hal yang biasanya kita gandrungi dan memenuhi aneka aturan yang ada dalam kebersamaan tetapi juga menyangkut hal batiniah, memahami makna dari apa yang kita lakukan secara lahiriah itu; bukan hanya melihat yang tersurat tetapi juga mampu membaca yang tersirat. Ketika menghadapi keluhan para murid Yohanes pembaptis tentang kelakuan para muridNya, Yesus menjelaskan bahwa yang terpenting bukanlah keseragaman tindakan; apa yang kita lakukan mesti dilakukan pula oleh yang lain tetapi pemahaman kita tentang mengapa kita melakukan tindakan itu. Puasa itu bernilai bagi kita bukan karena kita menjalankannya tetapi karena kita yakin bahwa dengan menjalankannya hidup kita perlahan-lahan dibaharui. Berarti tidaknya puasa kita tidak bergantung dari lamanya hari kita berpuasa tetapi ditentukan oleh ada tidaknya perubahan dalam diri kita karena puasa yang kita jalankan. Melakukan sesuatu tanpa memahaminya adalah kebodohan dan tidak melakukan apa yang dipahami adalah pengkhianatan. Kalau puasa berhubungan de-ngan usaha menemukan hidup baru, manusia mesti sadar bahwa hidup baru hanya mungkin kalau hidup lama ditinggalkan, ini satu conditio sine quo non, satu syarat yang tidak boleh tidak harus dipenuhi. Di sini sikap ikut arus mesti ditinggalkan, kecenderungan untuk tenggelam dalam masa harus dijauhi sedapat mungkin. Murid Yohanes pembaptis masih membatasi aksi mereka pada pemenuhan hukum sehingga perlu keseragaman bukan pemenuhan kebutuhan, sesuatu yang lahir dari dalam bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar. Di sisi lain Yesus kembali menegaskan bahwa kita tidak boleh melunturkan nilai dari apa yang kita lakukan dengan tindakan memaksa orang lain untuk melakukan hal yang sama, apa yang kita lakukan tidak boleh dijadikan sarana untuk mengukur kehidupan orang lain. Sikap semacam ini sudah tidak jamannya lagi sehingga bila hal ini dipaksakan hidup baru tidak akan pernah membangun rumah dalam keseharian kita. Sesuatu yang baru mesti disimpan pada wadah yang baru pula. Ini hukum alam yang mesti dipatuhi.

Perubahan luar biasa terjadi pada alam ketika memasuki musim hujan; dahan-dahan kosong kembali ditudungi, ranting-ranting telanjang kini kembali berbaju. Kalau tetumbuhan mampu beradaptasi dengan musim, menggunakan momen berahmat itu untuk membaharui diri, mengapa kita tidak bisa menggunakan masa puasa ini untuk membaharui diri dan relasi kita dengan dunia? Lalu siapakah kita dalam kebersamaan ini, murid-murid Yohanes dan kaum farisi yang suka menjalankan hukum secara harafiah bukan karena kebutuhan diri ataukah kita adalah orang seperti Yesus yang berusaha memahami manfaat dari pelaksanaan puasa untuk diri sendiri, sesama dan Tuhan? Untuk dapat menikmati hidup baru, tinggalkan hidup lama anda....

“Kita bisa jadi cermin hidup tetapi bukan standar kehidupan sesama”.
[ back ]
footer2.jpg