Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 07-10-2017 | 14:09:59
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : JANGAN HITUNG-HITUNG

Mat 18:21-35; Minggu, 17 September 2017

Pagi ini cukup cerah tetapi sayang dahi anda sudah mulai berkerut beberapa lipatan karena anda mungkin saja sedang menghitung, membuat kalkulasi apa yang akan anda lakukan hari ini, berapa banyak tenaga biaya yang harus anda keluarkan dan apa yang akan anda peroleh sebagai imbalannya. Membuat kalkulasi, perhitungan yang tepat dan akurat perlu kita lakukan bila kita tidak mau merugi karena kita tidak ingin menabur di angin.  Kenyataan ini menunjukkan bahwa hitung menghitung sudah bukan lagi hal yang asing bagi kita. Inilah yang membuat hidup dan matematika punya kesamaan karena keduanya membutuhkan perhitungan. Dan berbicara tentang menghitung berarti berbicara tentang kuantitas, jumlah, angka, tentang awal dan akhir dari sebuah jumlah, tentang batas-batas sebuah realitas. Sebaliknya berbicara tentang hati berarti berbicara tentang satu kunci yang membuat manusia mengenal mana yang baik dan mana yang buruk bagi dirinya, Tuhan dan sesama. Berbicara tentang hati berarti berbicara tentang sesuatu yang melampaui batas ruang dan waktu bukan hitungan, bukan soal matematis, awal dan akhir  dari sesuatu tetapi tentang panggilan jiwa dalam satu hidup bersama. Dengan ini hendak dikatakan kebaikan tidak ditentukan oleh sebuah deret hitung karena kebaikan bukan sesuatu yang matematis. Kebaikan bergantung dari kehendak hati yang selalu menginginkan yang baik, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Hati yang baik selalu mendatangkan kebaikan dan senantiasa berusaha menghindarkan hal-hal yang berakibat buruk bagi satu kebersamaan. Hati yang baik tak pernah mengenal adanya hitungan dan jumlah.

Kita mengatakan bahwa hitung menghitung sudah menjadi satu kebiasaan dalam hidup kita. Kita suka menghitung. Dan kebiasaan inipun kita lakukan saat kita dihadapkan pada kekurangan atau kelalaian sesama. Kita biasa menghitung sudah berapa banyak kali dia melakukan kesalahan, sudah berapa banyak kali dia diperingatkan ataupun dimaafkan. Kita coba membatasi ruang kebaikan dan mempersempit peluang bagi sesama untuk merubah ceritera hidupnya. Karena itu suatu saat Petrus bertanya ‘berapa banyak kali saya harus mengampuni sesama saya’ – ‘apakah tujuh kali?’. Yesus menjawab; bukan tujuh kali tetapi tujuh puluh kali tujuh kali. Jawaban ini dilanjutkan dengan perumpamaan tentang hamba yang mau diampuni tetapi tidak bersedia untuk bersabar mengampuni sesamanya. Di sini kecederungan kita untuk membatasi kebaikan diangkat. Kebaikan, kualitas diukur dengan standar kuantitas, jumlah padahal ruang kebaikan jauh melampaui satu deret ukur, satu deret angka. Di sini angka dipertentangkan dengan hati. Bila kerinduan kita untuk diampuni tidak dibatasi mengapa kesediaan untuk mengampuni diberi batas? Mengampuni bukan urusan angka, bukan urusan jumlah tetapi masalah kesediaan hati untuk memberikan kesempatan kepada sesama agar ia dapat kembali ke jalan yang benar, menyadari bahwa dirinya masih memiliki seberkas kebaikan yang perlu dikembangkan dan dibagi. Kesalahan yang dibuat tidak boleh dijadikan vonis untuk mengeliminasi mereka dari kebersamaan. Kesalahan mereka bukanlah akhir riwayat hidup mereka. Dan mengampuni orang lain merupakan peluang bagi kita untuk diampuni. Hanya dengan mengampuni kita dapat mengobati relasi yang rusak antara kita dengan sesama. Pengampunan juga merupakan penyembuhan diri sendiri yang terluka. Selama kita belum bersedia mengampuni sesama selama itu kehadiran sesama akan menjadi duri dalam daging kehidupan kita. Di sini hati sudah seharusnya memainkan perannya. Angka ada batasnya tetapi kesediaan hati untuk mengampuni melampaui satu deret hitung. Berat memang tetapi ini harus kita lakukan tanpa batas karena ini panggilan setiap kita orang Kristen. Bila ada batasnya, kelemahan kitapun akan meng-giring kita ke titik batas hitungan yang sama. Yang terjadi, kita lebih mudah meminta untuk diampuni ketimbang memiliki kesediaan untuk mengampuni sesama, kita selalu berharap agar bisa dimengerti tetapi kita sendiri tidak mau memahami kehidupan dan kesulitan sesama. Sikap model inilah yang membuat banyak soal sulit mencapai titik batas.

Dunia yang sedang kita huni ini sudah tidak lagi menjadi tempat yang baik bagi tumbuhnya kebaikan karena amarah, dendam, perang dan kekerasan hati untuk tidak mengampuni. Sebagai orang-orang beriman kita dipanggil untuk  mengobati dunia ini dan merubah sikap dan pandangan kita terhadap sesama. Pengampunan bukan soal matematis hitung menghitung tetapi masalah hati, kesediaan kita untuk memberikan kepada sesama kesempatan berbenah diri karena perubahan selalu mungkin. Di sini hati kita mesti kembali diberi peran menjadi ladang kebaikan bukan padang balas dendam. Hanya dengan jalan ini kehidupan yang masih tersisa dapat diberi makna, diselamatkan. Bila tidak kita sendiri yang akan memperpanjang kisah penderitaan umat manusia yang sedang kita alami. Kalau kita begitu mudah memohon diampuni mengapa kita berkeras hati untuk mengampuni? Ingat mengampuni bukan soal banyaknya angka tetapi masalah kesediaan hati untuk berbuat baik sebanyak mungkin....kalo anda suka hitung menghitung boleh jadi banyak hal yang sudah anda lakukan tidak masuk dalam hitungan…

 

[ back ]
footer2.jpg