Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 14-07-2017 | 22:43:23
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : 'HATI MACAM MANA YANG ANDA MILIKI?'

Mat 13:18-23; Minggu, 16 Juli 2017

Beban hidup kita makin hari makin bertambah. Mengapa tidak? Panen yang tidak sukses tahun ini belum selesai kita renungkan kita sudah harus menghadapi meroketnya tarif kebutuhan hidup. Tidak hanya sampai di sini, sebelum semuanya kita temukan jawabannya, kita sudah harus menghadapi gagal panen ujian tahun ini. Impian tentang hari esok yang penuh bunga sepertinya harus berhenti di sini. Kenyataan membuat kita mulai menafsir dan mencari-cari alasan mengapa demikian. Boleh jadi kita mempersalahkan hujan yang datangnya sudah tidak lagi beraturan seperti musim-musim masa kecil kita. Kita mulai saling menuding. Di samping semuanya itu, ada kenyataan lain yang mesti dipahami; baik buruknya panen tidak saja bergantung dari unggul tidaknya benih yang ditaburkan tetapi juga bergantung dari jenis tanah tempat benih itu ditaburkan dan waktu pada saatt benih itu ditaburkan. Dengan ini hendak dikatakan bahwa benih, tanah dan musim walaupun berbeda tetapi mereka tidak harus dipisahan karena dalam perbedaan itu mereka saling menentukan dan pada relasi ketiganya hidup kita diberi jiwa. Unggulnya benih tidak akan bernilai bila tanah tempat ia ditaburkan bukanlah tempat ideal yang diperuntukan baginya. Sebaliknya baik tidaknya tanah tidak akan banyak berpengaruh bila benih yang ditaburkan bukanlah benih pilihan lalu tidak pada musim yang tepat. Melimpah tidaknya panenan ternyata bergantung pada jenis benih yang ditaburkan, tanah tempat tumbuhnya dan musim saat ia ditaburkan.

Dari benih dan tanah kita masuk ke soal hati. Tanah dan hati adalah dua hal yang berbeda tetapi dalam fungsi tanah dan hati memiliki fungsi yang hampir serupa. Bila tanah menjadi arena tumbuhnya benih yang memberi buah dan yang mandul, hati menjadi tempat tumbuh kebaikan dan kejahatan, cinta dan kebencian, kelembutan dan kekerasan, kerendahan hati dan keangguhan dan masih banyak lagi pasangan ekstrim yang bertolak belakang. Bila ada begitu banyak jenis tanah yang kita jumpai; berbatu, bersemak duri dan yang subur; gambaran yang sama dapat kita gunakan untuk melukiskan keadaan sebuah hati. Bila jenis tanah menentukan melimpah tidaknya panenan, demikian jenis hati yang kita miliki menentukan siapa kita dan bagaimana relasi kita di ladang kebersamaan. Ketika mnyampaikan perumpamaan tentang penabur, Yesus mengemukan beberapa jenis tanah tempat jatuhnya benih yang ditaburkan; pertama, tanah di pinggir jalan, melambangkan hati seorang petualangan, orang yang tidak menetap, hati yang selalu ingin mencoba tanpa mau menentukan sikap, tidak mau diikat. Hati model ini adalah hati yang mudah mengi-kuti arus dan gampang terbawa arus; suka pamer tanpa penghayatan. Kedua, tanah berbatu-batu, hati yang keras; gampang menerima tetapi sulit merubah sikap. Mereka yang memiliki hati model ini adalah mereka yang mempunyai impian tentang hidup baru tetapi enggan me-ninggalkan hidupnya yang lama, mereka adalah orang-orang beriman tetapi tidak bersedia mem-biarkan iman mempengaruhi hidupnya sehingga mereka gampang beralih bila ada tantangan. Ketiga, tanah bersemak duri, hati yang telah dipenuhi dengan aneka kekuatiran sehingga benih kebaikan sulit mendapat tempat untuk bertumbuh. Mereka lebih melihat apa yang harus dimiliki ketimbang menghargai hidup yang sedang mereka jalani. Keempat, tanah yang subur, hati yang baik tempat benih kebaikan yang ditaburkan dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah; iman mempengaruhi hidup mereka dan hidup mereka menjadi dut a apa yang mereka imani. Sampai di sini, hati macam manakah yang sedang kita miliki?

Benih yang ditaburkan dapat tumbuh subur dan menghasilkan buah bila jatuh dan tumbuh di tanah yang baik. Tetapi tidak semua tanah tempat benih ditaburkan adalah tanah yang ideal. Hati yang kita milikipun demikian halnya. Kebaik-an, iman yang kita miliki dapat tumbuh, berkembang dan menghasilkan buah bila hati kita punya tempat baginya. Sebagaimana setiap petani mengharapkan panenan yang melimpah, demikian juga Allah menghendaki iman kita bertumbuh dalam hati kita, mempengaruhi hidup kita dan menghasilkan buah-buah kebaikan. Panenan bergantung pada jenis tanah dan kebaikan yang menghasilkan buah bergantung dari jenis hati yang kita miliki. Allah tidak menghendaki panenan yang melimpah, Dia hanya mengharapkan apa yang ditaburkanNya dalam hati kita menghasilkan buah. Hati macam mana yang sedang berdenyut dalam rongga dada kita?

[ back ]
footer2.jpg