Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 07-07-2017 | 22:48:02
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : 'MARI KITA BERSYUKUR'

Mateus 11:25-30

Saya tidak tahu apa yang sedang anda rasakan saat ini, apakah anda hidup tanpa beban atau dengan beban yang tidak terpikulkan. Dan kelihatannya beban hidup ini terasa semakin tidak terpikulkan. Mengapa? Apa yang salah dengan hidup ini? Bukankah yang kita cari dalam hidup ini adalah kebahagiaan? Lalu apakah anda sudah mendapatkan atau merasakan apa yang anda cari selama ini? Tentang kebahagiaan, masing-masing kita punya pendangan sendiri. Ada yang menilai bahwa kebahagiaan itu ditentukan oleh banyaknya materi yang kita miliki, semakin banyak yang kita kumpulkan semakin besar kebahagiaan yang kita rasakan dan kita nikmati. Tetapi sebaliknya bila apa yang diinginkan tidak kita dapatkan atau tidak mereka dapatkan atau tidak seberapa yang mereka kumpulkan, maka keluhan dan kekecewaan yang bisa mengisi ruang hati kita. Di sisi lain kitapun berjumpa dengan orang-orang yang sungguh-sungguh menikmati hidup mereka walaupun dari segi materi mereka cuma hidup dengan apa adanya. Dari kenyataan ini, bisa kita lihat adanya perbedaan pan-dangan tentang materi; ada yang melihat materi sebagai tujuan dan yang lain lagi melihatnya sebagai sarana. Lebih dari itu pandangan umum mengatakan bahwa kebahagiaan, kedamaian, ketenangan tidak saja ditentukan oleh materi yang kita miliki tetapi juga bergantung dari hati model apa yang kita miliki. Orang bisa saja gelisah duduk di atas tumpukan harta tetapi bisa juga duduk tenang menikmati tetes-tetes air yang jatuh dari atap rumah yang bocor.

Kalau kehadiran kita atau kehadairan orang lain tidak mampu mengubah pola pikir sesama ataupun diri kita sendiri; masih ada banyak hal dalam hidup ini yang dapat membantu kita mengubah kisah hidup ini, mengubah pola pandang kita tentang hidup. Kenyataan hidup yang ada mengingatkan kita bahwa kita tidak hidup dalam angan-angan, kita hidup dalam satu dunia nyata dan kenyataan hidup ini mesti mendorong dan membantu kita untuk berpikir, bersikap realistis dan bijak. Sebenarnya setiap kita adalah orang istimewa; ketertentuan, kekhasan kitalah; keistimewaan itu; sebelum kita, tidak ada yang seperti kita dan sesudah kitapun tidak akan ada yang sama seperti kita. Inilah yang menjadi alasan bahwa kita mesti bersyukur apapun situasi kita. Mungkin kita tidak memiliki apa-apa tetapi kita memiliki hidup. Banyak orang bersyukur karena apa yang mereka peroleh dalam hidup tetapi hanya sedikit saja yang bersyukur karena mereka punya kesempatan untuk hidup. Bila hidup tidak kita miliki kita tidak memiliki apa-apa bahkan kita sendiri tidak hidup. Hiduplah yang memungkinkan kita memiliki embel-embel yang sedang melekat pada diri kita; orang kaya, orang miskin, pegawai, petani. Bila kita cukup realistis, apapun situasinya kita harus selalu punya alasan untuk bersyukur karena boleh jadi yang kita miliki tidak dimiliki oleh sesama, yang kita alami tidak dialami oleh sesama. Pola pandang yang tidak melihat hidup sebagai harta yang paling berharga dalam hidup, yang membuat kita banyak mengeluh dan suka mengada-ada. Inilah yang menjadi sebab mengapa beban hidup ini semakin hari semakin berat ditanggung. Hidup bukan lagi sebagai kesempatan untuk dinikmati tetapi sebagai persoalan yang mesti dipecahkan. Berpikir bahwa apa yang kita miliki lebih berharga dari pada hiduplah yang membuat manusia hidup dalam rangkaian soal yang tak pernah akan selesai; kekerasan, ketidakadilan, ketidakbenaran dan keangkuhan sepertinya menjadi warna dasar hidup kita. Kehadiran sesama tidak dilihat sebagai teman seperjalanan tetapi sebagai musuh yang mesti disingkirkan. Bila hidup menjadi pusat segalanya kekerasan bukanlah jalan keluar, ketidakadilan dan ketidakbenaran akan dengan mudah disembuhkan. Di sana keterbukaan, kelemahlembutan dan kerendahan hati mempersatukan aneka perbedaan dapat tumbuh subur. Untuk itu Yesus mengajak kita datang dan belajar dari Dia bagaimana seharusnya kita menghadirkan diri dalam kebersamaan. Kehadiran kita mesti mendorong sesama untuk berpikir dan bersikap realisatis; tahu bersyukur apapun situasi kita dan menghadapi hidup ini dengan kerendahan hati dan kelemahlembutan. Ingat, kelemahlembutan bukan satu kelemahan; tetapi satu cara untuk melemahlembutkan kekerasan, mengalahkan kekerasan. Hanya dengan cara ini beban hidup kita dapat dipikul dan kisah hidup kita bisa berubah. Dari sini kita disadarkan untuk apa kita ada dalam kebersaman dan apa yang mesti kita lakukan di sana. Sebagai orang-orang yang telah dibaptis dalam Kristus, kehadiran kita mestinya berdampak positif bagi sesama. Tetapi semuanya ini hanya akan menjadi kenyataan, dapat kita wujudkan bila kita bersedia menyebrang, keluar dari diri kita sendiri, berdiri di hadapan cermin kehadiran Yesus, menata ulang hidup kita, membaharui nilai-nilai Kristen yang perlahan-lahan mulai terkikis dari hidup dan kehadiran kita.

Kita hidup dalam kenyataan dan kenyataan mesti mendorong kita untuk bersikap realistis. Mengantungkan diri hanya pada apa yang kita miliki akan menambah beban hidup ini dan membuat kita mengada-ada dan mengeluh. Tetapi berkonsentrasi pada hidup yang sedang kita jalani, kita akan melihat hidup ini sebagai satu peluang untuk mendapatkan segala yang kita inginkan. Mata kita akan jeli menemukan jalan keluar dari kerumitan hidup ini. Kita selalu akan punya alasan untuk bersyukur apapun situasi kita. Kita dimampukan untuk bersyukur atas hidup yang kita miliki bukannya atas apa yang kita peroleh dalam hidup. Kalau kita tidak bisa jadi seorang Yesus yang siap meringan beban sesama, men-dorong mereka untuk tahu bersyukur, biarlah kita berusaha memiliki kerendahan hati dan kelemahlembutan. Karena hanya dengan cara ini kita dapat menaklukkan kekerasan dunia ini. Bila tidak janganlah kita memperpanjang barisan orang yang suka mengada-ada. Di sini yang terpenting bagi kita adalah kesediaan kita untuk bersikap realistis, beranjak meninggalkan dunia mimpi, hidup dan berusaha hidup dalam satu dunia nyata. Bila ini kita lakukan ada banyak mukjizat yang bisa terjadi dalam hidup kita. Dan kita selalu punya alas an untuk bersyukur…

[ back ]
footer2.jpg