Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 01-07-2017 | 01:44:04
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : 'PIKULLAH SALIBMU DAN IKUTLAH AKU'

Mateus 10:37-42; Minggu, 2 Juli 2017

Banyak kegiatan yang sudah kita jalankan sepanjang hidup kita; ada yang dilakukan karena tuntutan hidup, ada yang dilakukan sekedar mengisi waktu luang, ada yang dilakukan karena tugas dan masih banyak lagi. Salah satu dari sekian banyak hal yang kita jalankan adalah memilih. Memilih bukanlah sesuatu yang mudah dijalankan walau untuk segelintir orang hal ini biasa-biasa saja. Kita sudah biasa dihadapkan pada berbagai pilihan bahkan mungkin kita sedang bingung berhadapan dengan aneka pilihan hidup. Kadang kita dihadapkan pada buah si malakama karena kita mesti memilih satu di antara dua hal yang sama menarik. Memilih berarti bersedia meninggalkan atau kehilangan yang lain. Setiap pilihan punya konsekuensi. Mengapa ada banyak soal muncul dalam hidup kita? Karena kita menjatuhkan pilihan pada hal tertentu tetapi kita tidak bersedia kehilangan yang lain dan juga kita mengabaikan konsekuensi dari pilihan itu. Mestinya kita tahu bahwa pada saat kita menjatuhkan pilihan, pada saat itu relasi kita dengan dunia di sekitar kita berubah.

Kita telah dibaptis dalam nama Allah Tritunggal mahakudus. Baptisan ini tidak saja menjadikan kita anggota gereja tetapi juga memberi kita satu tugas baru; menjadikan hidup dan misi Yesus, hidup dan misi kita. Bersediakah anda mengikuti Dia? Menghadapi pertanyaan ini, jawaban kita jelas, kita bersedia. Tetapi ketika ditanya apakah kita sanggup memikul salib tuntutan pilihan ini tentu sulit menjawabnya. Pertama, memilih mengikuti Dia berarti menempatkan diri pada posisi tertentu. Berada pada posisi tertentu tidak mudah karena setiap posisi menuntut tanggungjawab dan keberanian untuk berkorban. Kalau emas diuji dalam tanur api, iman kita dalam tanur kehidupan. Begitu sering kita gagal karena kita ingin menempati posisi tertentu tetapi kita tidak siap menerima konsekuensinya. Kedua, mengikuti Dia berarti bersedia meninggal keluarga; satu permintaan yang sulit diterima masyarakat kita yang sangat menjunjung tinggi nilai ikatan kekeluargaan. Yesus tidak menyangkal keeratan ikatan kekeluargaan. Dia hanya melihat bahaya yang ditimbulkan dari ikatan ini. Keluarga dapat menjadi pendukung misi yang sedang kita emban tetapi bisa melemahkan ketegaran sikap kenabian kita. Bertanyalah mengapa terjadi KKN? Banyak orang gagal melayani publik karena mereka lebih berorientasi pada keluaarga. Penyakit ini sudah mewabah bukan saja di masyarakat tetapi juga di kalangan mereka yang menerima panggilan khusus. Yesus hendak membuka cakrawala baru tentang pengertian keluarga; bukan berdasarkan hubungan darah tetapi karena iman. Ketiga, untuk mengikuti Dia orang harus siap memikul salib. Kita punya keinginan yang kuat untuk mengikuti Dia tetapi kita takut memikul salib. Kita begitu sering mempersoalkan besar kecilnya salib bukan kesediaan dan kesanggupan kita untuk memikul salib. Bila kita sanggup apapun bentuk salib itu, kita akan berusaha untuk memikulnya. Keempat, mengikuti berarti siap menyangkal, berperang dengan diri sendiri. Kita gagal mengikuti Dia karena lebih mudah bagi kita menyangkal sesama dan berperang dengan mereka ketimbang menyangkal dan berperang dengan diri sendiri. Kelima, mengikuti Yesus, menjadikan hidupNya sebagai hidup kita dan misiNya sebagai misi kita. Kalau Dia adalah jalan, kebenaran dan hidup kita pun mesti demikian adanya; menjadi jalan pulang bagi mereka yang tersesat, sumber kebenaran bagi mereka yang bimbang dan menjadi jiwa bagi sesama yang telah kehilangan semangat untuk hidup. Kita gagal karena bukan misiNya yang kita jalankan tetapi kita menggunakan namaNya untuk menjalankan misi pribadi kita.

Kita selalu dihadapkan pada berbagai pilihan dan setiap pilihan selalu diikuti dengan konsekuensi yang mesti dipenuhi. Kita telah memilih untuk mengikuti Yesus tetapi kita belum sanggup menjadi seperti Dia, hidupNya belum menjadi hidup kita, misiNya belum menjadi bagian dari harian kita karena kita memilih Dia tetapi kita belum rela melepaskan yang lain, takut memikul salib, sulit menyangkal diri. Walaupun demikian kenyataannya, Yesus masih membuka peluang bagi kita, hanya apakah kita masih bersedia mengikuti Dia?

[ back ]
footer2.jpg