Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 16-06-2017 | 21:58:12
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : BUKAN LAGI KITA YANG HIDUP

Yoh 6:51-58

Kebaikan dan pengorbanan, dua hal berbeda tetapi yang satu tidak dapat dibicarakan tanpa menyinggung yang lain. Kebaikan tidak mungkin tercipta tanpa kerelaan untuk berkorban dan kesediaan kita untuk berkorban selalu punya alasan bahwa apa yang kita lakukan akan mendatangkan kebaikan bagi mereka yang menerimanya. Bahkan lebih dari itu, demi kebaikan orang rela mengorbankan dirinya sendiri. Karena itu yang takut berbuat baik adalah mereka yang takut, tidak rela untuk berkorban. Lalu bagaimana dengan anda? Takutkah anda berbuat baik atau membagi apa yang anda miliki? Boleh jadi kita punya kesediaan untuk berbuat baik tetapi kita tidak punya kerelaan untuk berkorban. Kita takut karena kita berpikir kebaikan itu seperti roti yang akan habis bila dibagi, padahal kebaikan itu sesuatu yang spiritual, semakin besar kesediaan kita untuk berbagi, ia akan semakin bertambah. Sesuatu dikatakan baik bila ia mendatangkan kebaikan bagi kita dan memberi warna lain bagi hidup sesama. Karena kebaikan ada untuk semua dan kita dipanggil kepada kebaikan maka kebaikan yang kita lakukan haruslah diperuntukan bagi semua orang, demikian pula semangat kita untuk berkorban tidak boleh menciptakan pengkotak-kotakan. Kebaikan yang diberikan hanya untuk segelintir orang adalah kebaikan diskriminatif, kebaikan untuk kepentingan diri, itu kebaikan egoistis, kebaikan yang dilakukan untuk menyelamatkan diri disebut pengkhianatan dan kebaikan yang dilakukan untuk mengelabui sesama disebut penipuan.

Berhadapan dengan kebaikan dan pengorbanan, kita mesti bertanya, hati macam mana yang kita miliki? Karena hati kitalah yang menjadi kuncinya. Hari ini kita merayakan pesta Tubuh dan Darah Kristus, pesta Ekaristi, perjamuan korban yang mempersatukan kita dengan Kristus, kita dengan kita. Mengapa ekaristi mesti dirayakan secara khusus? Bukankah setiap hari atau setiap minggu kita merayakannya? Gereja tentu punya alasan tersendiri mengapa ekaristi punya tempat khusus dalam kalender liturgi. Di satu sisi Gereja hendak mengingatkan kita akan pentingnya Ekaristi dalam hidup kita, di sisi lain Gereja hendak mengatakan bahwa menghadiri perayaan ekaristi saja belum cukup; kalau ekaristi dihubungan dengan kebaikan dan pengorbanan, pengaruhnya belum nam-pak dalam hidup kita. Ekaristi adalah perayaan yang menunjukkan bahwa Allah yang kita imani adalah Allah yang tidak berhenti berbuat baik apapun sikap kita terhadapNya. Bila kita berbuat baik demi keuntungan diri, Allah berbuat baik demi kebaikan kita agar kita dapat menjadi diri sendiri, kebaikanNya memampukan kita untuk bisa berbaik; “biji gandum yang akan tetap sebiji saja bila ia tidak jatuh dan mati, tetapi bila ia jatuh ke tanah dan mati, ia akan menghasilkan banyak buah”. Kebaikan yang tidak dibagi adalah kebaikan yang mandul, kebaikan yang tidak menghasilkan buah. Merayakan ekaristi berarti mengulangi perjamuan akhir di mana Kristus memberi diriNya untuk menjadi santapan kita. Seperti makanan yang kita santap dan menjadi bagian dari hidup dan keseharian kita, demikian juga hidup dan kehadiran Yesus mestinya menjadi hidup dan keseharian kita; bukan lagi kita yang hidup melainkan Dialah yang hidup dala diri kita. Kitalah yang makan dan minum bersama Kristus yang bangkit menerima tugas untuk membagi kebaikan Allah yang kita terima sebagai bukti bahwa kita sendiri telah bangkit, keluar dari kubur kita; kubur egoisme, sukuisme dan diskriminasi. Lewat kebaikan yang kita bagi tanpa pengkotakan kita hendak menunjukkan bahwa kebaikan tidak boleh dipenjarakan dalam kubur kesempitan cinta diri. Lewat peristiwa perbanyakan roti dan ikan hendak ditunjukan bahwa kebaikan walaupun sedikit; lima roti dan dua ekor ikan tetapi bila ada kesediaan untuk berbagi, kerelaan untuk berkorban, jumlah yang dapat dihitung akan tidak terhitung. Roti dan ikan kebaikan punya nilai lebih bila dibagi, kebaikan selalu ada sisi. Di sini pergandaan kebaikan tidak bergantung dari jumlah yang dimiliki tetapi bergantung pada kesediaan untuk berbagi, sehingga dalam peristiwa ini bukanlah roti dan ikan yang digandakan tetapi kebaikanlah yang diperbanyak; di mana yang mengumpulkan banyak tidak berkelimpahan dan yang mengumpulkan sedikit tidak berkekurangan. Dan kebaikan bukan soal jumlah tetapi masalah kesediaan hati untuk berbagi, soal hati. Kebaikan bukan sepotong roti yang habis sekali ditelan, kebaikan ibarat mata air yang tak pernah kering, semakin ditimbah ia akan semakin membual. Kebaikan dan pengorbanan tidak bergantung dari berapa banyak kali kita menghadiri perayaan ekaristi ataupun me-nyambut tubuh dan darah Kristus, kebaikan dan pengorbanan ditentukan oleh kesediaan kita untuk membiarkan pesan-pesan ekaristi menyata dalam hidup dan karya kita. Banyak kali seperti para murid, kita takut berbuat baik, membagi apa yang kita miliki, karena kita lebih melihat jumlahnya, menghitung untung rugi ketimbang mempersoalkan kesediaan kita untuk berbagi. Kita akan menyaksikan aneka mujizat kebaikan terjadi dalam keseharian kita bila kita punya kesediaan untuk berbagi, punya kerelaan untuk berkorban.

Kita punya hati yang mesti berfungsi seperti matahari yang siap menyinari apa dan siapa saja. Kita punya Allah yang cinta dan kebaikanNya dapat dijadikan cermin cinta dan kebaikan kita terhadap sesama; berbuat baik agar yang lain menjadi baik atau jauh lebih baik. Cinta, perhatian dan kebaikan kita tidak boleh menciptakan kotak-kotak tidak kelihatan yang memisahkan kita dengan kita. Dunia tidak ingin menyaksikan berapa banyak kali kita menyambut tubuh dan darah Kristus dalam seminggu, dunia membutuhkan orang-orang yang hidupnya seperti hidup Kristus. Dunia bukan saja kekurangan pangan tetapi dunia juga sedang kehabisan roti-roti hidup. Kitalah yang mesti merasa terpanggil untuk membagi sedikit kebaikan yang kita miliki untuk mengisi ruang ketiadaan mereka. Kalau Yesus siap menjadi santapan kita, mengapa kita yang selalu menyambut tubuh dan darahNya tidak sanggup menjawabi kebutuhan sesama. Jangan takut membagi apa yang ada pada anda, karena kebaikan anda bukan sepotong roti yang akan habis bila dibagi. Takutlah bila anda tidak punya kesediaan untuk berbagi karena di sana kebaikan anda dimandulkan dan nilai perayaan ekaristi dipenjarakan.
“Jangan takut untuk berkorban, takutlah bila apa yang anda lakukan mendatangkan korban”.

[ back ]
footer2.jpg