Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 16-05-2017 | 22:59:02
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : "LAKUKAN SESUATU"

Yoh 14:15-21; Minggu, 21 Mei 2017

Disadari ataupun tidak dunia tempat kita ada dan mengais hidup sedang mengalami kesakitan. Kenyataan ini secara jeli dibeberkan oleh Cedric Rebello dalam bukunya ‘The Other Eucharist. Di sana ia menulis; dunia sedang sakit sebagai akibat perbedaan yang ada telah menciptakan jurang yang memisahkan kita dengan kita; persaudaraan lebih banyak jadi bahan ceramah, lebih banyak dibicarakan ketimbang dihidupi; lalu gereja jadi tempat parade mode; banyak orang berbicara tentang kemiskinan/orang miskin tetapi tidak peduli dengan nasib orang miskin; keadaan mereka justeru dimanipulasi demi keuntungan diri. Dan kalau kita berbicara tentang cinta kasih; cinta kasih telah dicekik oleh persaingan, didangkalkan oleh kemudahan fasilitas, dibekukan oleh huruf-huruf mati, dibabat habis-habisan oleh media massa lalu diperdagangkan sebagai komoditi; lebih banyak dipublikasi ketimbang dibiarkan isi ruang hati, pengaruhi hidup. Dalam situasi seperti ini, kita bertanya;’masih adakah orang kristen di sana? Bila ‘ya’, apa yang sedang mereka lakukan; menyembuhkan atau menambah parah situasi yang ada? Mestinya dalam situasi seperti ini, kesejatian kekristenan kita ditampakan; tidak sekedar teori tapi lebih sebagai praktek hidup; tidak cukup dengan rasa prihatin tetapi harus ada tindakan nyata. Kitalah yang mesti menyembuhkan situasi ini bila kita menghendaki cerita hidup ini berubah. Peluang selalu ada, yang menjadi soal adalah apakah kita bersedia mengartikan peluang yang ada atau tidak..

Dalam amanat perpisahanNya, menyadari kenyataan dunia yang akan dihadapi para mu-ridNya, kita; Yesus berkata bahwa ada tiga hal yang menjadi kekhasan seorang murid dan hal-hal inilah yang dapat menghantar seorang murid memainkan perannya dalam dunia yang sedang sakit; pertama, orang harus mengenal Dia, mengasihi Dia; kedua, percaya kepada Dia; ketiga, melakukan apa yang Dia lakukan, menuruti perintahNya. Mengikuti Dia tanpa mengenal Dia, ini satu kebodohan. Orang yang mengikuti Dia harus tahu mengapa mengikuti Dia. Di sini bahaya ikut-ikutan perlu dihindari. Mengenal Dia tetapi tidak punya hati untuk Dia, relasi dengan Dia cuma relasi fungsional tanpa melibatkan hati. Mengenal, mengasihi Dia tanpa percaya kepada Dia, ini satu sandiwara. Pengenalan dan kasih kita kepada Dia harus ditunjukkan dalam tindakan kita yang nyata, dalam hidup harian kita. Percaya kepada Dia tetapi tidak melakukan apa yang Dia lakukan, ini satu penipuan, satu pengkhianatan. Kepercayaan kita mesti ditunjukkan dalam hidup sebagai satu bentuk kesaksian; kita adalah murid-muridNya dan kita sungguh mengasihi Dia. Di sini kepergian Yesus mesti dilihat sebagai peluang membuktikan ke-muridan dan kasih mereka kepadaNya. Sebagaimana Dia mengutus seorang Penolong untuk menguatkan para murid, kehadiran kita dalam kebersamaanpun mesti demikian. Kitalah yang diutus ke dalam kebersamaan untuk menjadi “penolong” bagi yang lain, selain punya keterbukaan untuk dito-long. Sampai di sini siapakah kita di hadapan dunia model ini, di hadapan Yesus? Bahwa kita adalah pengikut Kristus, hal ini tak dapat disangkal tetapi apakah kita sungguh mengenal Dia, hal ini masih harus diteliti. Kalaupun kita mengenal Dia, apakah kita sungguh mengasihi Dia, hal ini mesti dilihat secara jeli. Mungkin saja kita mengasihi Dia tetapi apakah kita percaya kepada Dia, hal ini masih harus dipertanyakan. Bila kita percaya kepada Dia, apakah hidup kita dapat menjadi bukti, hal ini masih sulit dipastikan. Kalau kita sungguh mengenal Dia, percaya dan melakukan apa yang Dia lakukan, kisah hidup ini pasti lain. Kebersamaan kita harusnya menjadi arena di mana kehadiran kita menjadi sumber kegembiraan dan orang-orang di sekitar kita mesti merasakan kehadiran Yesus lewat kehadiran kita. Tetapi ter-nyata ceritera hidup kita belum berubah. Kita mengenal, percaya bahwa Yesus di mana Dia hadir, di sana yang sakit disem-buhkan, yang lumpuh berjalan, yang tuli mendengar, mati dibangkitkan, yang lapar diberi roti, yang berdosa bertobat,lalu yang tersesat dibawa pulang dan buta bisa melihat. Apakah kehadiran kitapun punya dampak demikian? Yang kita temukan justeru sebaliknya; di mana kita hadir di sana yang sehat jatuh sakit, yang sakit semakin sakit, yang berjalan jadi lumpuh, yang men-dengar jadi tuli, yang hidup mati perlahan-lahan, yang lapar semakin lapar, yang baik diru-sakkan, yang tersesat semakin sulit menemukan jalan pulang, yang melihat jadi buta. Bila jadi begini, di mana kekhasan kita sebagai orang-orang yang menyebut diri pengikut-pengikut Kristus? Apa peran yang kita mainkan di sana dalam situasi seperti ini? Semuanya ini terjadi boleh jadi karena kita tidak melakukan apa yang Dia lakukan dan di sini cinta kita kepada Dia harus dipertanyakan. Inilah yang menjadi sebab mengapa identitas kita masih terus diper-tanyakan. Hidup kita belum merupakan satu kesaksian yang hidup dan keha-diran kita belum mampu merubah ceritera hidup ini.

Di satu sisi, dunia tempat kita mengais hidup sedang merindukan kesaksian kita, di sisi lain orang-orang yang dengannya kita ada bersama masih bingung dan terus mempertanyakan identitas kita. Sebagai orang-orang beriman yang masih punya harapan bahwa kisah dunia dapat dirubah, kita mesti merasa terpanggil untuk menjawabi kerinduan dunia. Karena itu adalah keharusan kita untuk memperjelaskan identitas kita lewat hidup dan karya kita. Kepada mereka yang berada di sekitar kita, kita harus tunjukkan bahwa kita bukan hanya mengenal, tetapi juga kita sungguh mengasihi dan percaya kepadaNya dan kasih serta kepercayaan kita kepadaNya dapat disaksikan lewat hidup dan karya kita. Di sini kehadiran kita akan menjadi satu bentuk pewartaan yang hidup dan olehnya pewartaan menjadi bagian hidup kita. Dan di sana mereka akan menyaksikan bahwa kita sungguh mengasihi Dia, kita mengikuti perintahNya.

[ back ]
footer2.jpg