Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 28-04-2017 | 23:08:38
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : "TINGGALLAH BERSAMA KAMI"

Luk 24:13-35; MINGGU, 30 April 2017

Apakah anda pernah merasakan pahitnya sebuah kekecewaan atau mungkin anda sedang kecewa terhadap seseorang atau sesuatu? Kita pernah mengalaminya walaupun mungkin dalam kadar yang berbeda, dengan dampak yang aneka dan alasan yang beragam. Orang-orang yang kecewa adalah orang-orang yang pernah punya harapan akan sesuatu, terhadap seseorang. Bila memang demikian, orang-orang yang punya harapan adalah orang-orang yang mesti siap untuk kecewa ataupun dikecewakan. Hanya sering kita begitu optimis, hidup di awang-awang, punya harapan selangit tetapi tidak siap untuk kecewa, lupa bahwa boleh jadi harapan kita tidak sampai ke titik batas, tidak dapat berubah menjadi kenyataan. Mestinya kita tahu dan menyadari bahwa antara harapan dan kenyataan ada 1001 kemungkinan yang bisa saja terjadi di luar dugaan kita. Bukankah hidup ini adalah nama lain dari kemungkinan? Kemungkinan inilah yang biasanya tidak kita perhitungkan karena kita terlalu berharap. Bila kemungkinan ini masuk daftar perhitungan, kekecewaan tidak selalu menjadi kata akhir, jalan keluar selalu ada, pengobatan selalu mungkin. Walaupun demikian, patut kita catat bahwa kekecewaan tidak hanya bersisi negatif, dia punya nilai positif. Darinya kita dapat belajar bagaimana menghadapi realitas hidup dengan segala kemungkinan yang mungkin terjadi, di sana kepercayaan kita diuji, kesejatian sebuah kesetiaan dipertaruhkan.

Ada banyak hal yang dapat kita petik dari peristiwa paska yang sedang menjadi masa lampau. Kebangkitan menjadi polemik dan impian mendapat tempat istimewa di samping Yesus tinggal kenangan. Perubahan hidup sering menyurutkan langkah kita, membuat kita putus harapan, mendorong kita untuk kembali ke masa lalu, hidup lama, berlaku nekad tanpa banyak perhitungan. Hal ini dapat kita lihat pada kisah dua orang murid yang pulang ke Emaus. Tenggelam dalam rangkulan daya magis kehadiran Yesus yang mempesona, membuat mereka lupa bahwa sesewaktu segalanya bisa berubah. Kecewa karena impiannya tidak dapat menjadi kenyataan, mereka memutuskan kembali ke kampung halamannya. Keduanya coba diluapkan kekesalan hatinya dalam percakapan. Hangatnya percakapan menyembuhkan harapan yang terkoyak, membuat mereka tak menyadari kehadiran Yesus, yang coba mengobati pikiran mereka untuk memahami kenyataan yang sebenarnya. Langkah penyembuhan yang diberikan Yesus menggugah hati, keraguan mereka digugat, ketertutupan hati mereka dibuka. Mendekati kampungnya, melihat situasi saat itu, mereka mengundang Yesus tinggal bersama mereka. Di sana mereka sadar siapa yang berjalan bersama mereka. Bila ldalam kisah ini, kekecewaan menjadi sorotan maka kita perlu berhati-hati dengan rasa kita yang bernama ’kecewa’ karena dari rasa kecewa yang kita miliki bisa muncul hal-hal yang positif bisa juga melahirkan hal-hal negatif. Dia bisa membawa langkah kita kembali ke kampung, ke motivasi awal, menemukan sebab-sebab gagalnya impian kita dan bagaimana mengatasinya. Kekecewaan bisa juga mendorong kita untuk berbuat nekad, kembali menghidupi hidup kita yang lama, menggoyahkan kesetiaan kita, melunturkan kepercayaan kita terhadap orang lain. Dalam kisah ini, kekecewaan kedua murid bernilai positif. Kisah ini mengandung beberapa hal yang perlu disimak, pertama, kekecewaan membawa langkah mereka kembali ke kampung, kembali ke motivasi awal, menemukan sebab-sebab gagalnya impian mereka menjadi kenyataan dan bagaimana mengatasinya. Di hadapan kekecewaan, kita cenderung menghitung daun-daun yang jatuh ketimbang memperhatikan tunas-tunas yang sedang bertumbuh. Kedua, kekecewaan menyadarkan mereka akan betapa berartinya sesama. Kehadiran mereka dapat menyadarkan dan membangkitkan kembali kesaadaraan kita akan situasi yang mengitari kita; kita masih punya hati, masih punya harapan. Beban kehidupan ini akan berkurang bila kita membiarkan sesama mengambil bagian dalam keseharian kita. Begitu sering kekecewaan mematikan langkah kita untuk maju karena kita mau berjuang sendiri, lalu menutup diri terhadap kehadiran ataupun mulai mencurigai sesama. Terbenamnya mentari, hilangnya harapan tidak boleh dijadikan alasan untuk mematikan impian kita tetapi harus dijadikan peluang untuk menemukan jalan baru bagaimana mewujudkannya. Terbenamnya mentari mestinya semakin menyadarkan kita akan betapa berartinya kehadiran sesama. Kehadiran sesama menyadarkan kita akan apa yang mesti kita lakukan. Karena lewat kehadiran mereka, kita dapat kembali mengenal Yesus yang bangkit dan membantu kita untuk kembali ke Yerusalam, membuka diri terhadap perubahan sehingga kisah hidup inipin dimungkinkan untuk berubah. Ketiga, kita perlu berhati-hati dengan rasa kecewa yang kita miliki karena kekecewaan dapat menutup mata kita terhadap kehadiran Tuhan dan sesama. Dan kisah Emaus membuktikan bahwa disadari ataupun tidak, diabaikan ataupun disepelekan Tuhan selalu hadir dalam berbagai cara dalam hidup kita. Yang menjadi soal adalah apakah kita mau membuka mata dan hati kita atau tidak. Bila mata dan hati kita terbuka, kita tidak akan mengingkari bahwa apapun situasinya Tuhan dan sesama senantiasa hadir dalam hidup kita.

Kekecewaan adalah racun kehidupan yang dapat memadamkan semangat juang, menggoyahkan kepercayaan, mematikan langkah dan menghilangkan harapan. Ia membuat kita berada di ambang senja. Tetapi kekecewaan dapat bernilai positif bila kita melihat nilai lain di baliknya; menghantar kita kembali ke langkah awal di mana peran positif sesama disadari. Kekecewaan telah membuat mentari hidup banyak orang di sekitar kita menjelang senja, kitalah yang dipanggil untuk menyadarkan mereka akan situasi hidupnya. Dengan memberi mereka sedikit ruang dalam hati kita, mereka akan kembali berhati dan menemukan kenyataan bahwa harapan mereka masih hidup dan impian mereka masih punya peluang menjadi kenyataan. Semoga karena kehadiran kita yang bernilai plus dan berpesan, kata-kata ini dapat kembali terdengar, ‘tinggallah bersama kami, matahari hampir terbenam’.

“Yang punya harapan mesti siap juga untuk kecewa (dum spiro, spero - selagi anda bernapas, selalu ada harapan)”

[ back ]
footer2.jpg