Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 21-04-2017 | 21:51:23
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : "JADILAH PEMBAWA DAMAI"

Yoh 20:19-31; Minggu, 23 April 2017

"Jadilah pembawa damai", kata-kata mengisyaratkan bahwa dunia tempat kita mengais hidup sedang berada dalam sitausi tidak ideal. Perang yang tidak berujung, permusuhan yang sering tidak beralasan, api dendam yang tak kunjung padam, laut egoisme kita yang tidak pernah penuh telah merusak kebersamaan yang seharusnya menjadi tempat di mana kebahagiaan dan kedamaian dapat dinikmati. Di sini, peran kita dalam kebersamaan dipertanyaan; entahkah kita adalah pembawa damai ataukah kita adalah penyulut api permusuhan. Kenyataan menunjukkan bahwa begitu sering kita menjadi penyebab rusaknya kebersamaan karena kita tidak tahu bagaimana seharusnya hidup bersama. Di sisi lain, kata-kata ini menggugah kita, membangkitkan harapan bahwa situasi runyam yang sedang menggetarkan senar kehidupan kita bukanlah akhir segalanya, kita masih punya peluang untuk mengubahnya dan kitalah yang bertugas untuk mengakhirinya. Dunia akan berubah bila kita bersedia berubah; bersatu dan memainkan peran yang mesti kita lakonkan secara serius.

Paska, satu pesta perubahan. Pesta ini mesti membawa perubahan dalam hidup dan relasi kita dengan dunia dan dunia akan berubah kalau kita mau berubah. Perubahan menjadi bukti bermaknanya pesta yang kita rayakan. Lalu apa yang mesti kita lakukan? Hari ini kita diberi beberapa jalan keluar. Pertama, dunia kita yang terluka, kekerabatan kita yang teusik menuntut kita untuk berbuat sesuatu. Yesus menyampaikan warta damai kepada para rasul, sesudah Ia keluar dari kubur,. Kebangkitan memungkinkan Yesus berelasi dengan para muridNya secara baru. Kehadiran kita hanya mungkin mendatangkan damai sejahtera, bila kita bersedia keluar dari kubur-kubur kita. Kita hanya bisa membagi, membawa apa yang kita miliki. Kedamaian akan tercipta bila kita sendiri memiliki rasa itu dalam hati kita. Kedua, bila kedamaian hidup kita terusik karena kita begitu mencintai diri kita secara berlebihan, karena itu kita digugah untuk mencontohi cara hidup jemaat perdana; berlaku adil, punya kerelaan untuk berbagi sehingga yang mengumpulkan banyak tidak berkelimpahan dan yang mengumpulkan sedikit tidak berkekurangan. Di sana dalam kebersamaan, kita menjadi pribadi-pribadi yang mau berkorban; sadar bahwa kepentingan umum mesti lebih diutamakan dari pada kepentingan pribadi. Ketiga, situasi damai yang didambakan dapat dinikmati, kita dapat menjadi pembawa-pembawa damai dan sumber kepastian bila kita membiarkan iman kita mem-pengaruhi hidup kita dan hidup kita menjadi ekspresi iman kita. Dunia kita yang sakit butuh orang-orang yang siap menjadi tempat perlindungan sesama; orang-orang yang lebih mengutamakan keselamatan sesama ketimbang berbicara tentang keselamatan tetapi mau selamat sendiri. Pintu dan jendela rumah kita boleh tertutup tetapi hati kita harus selalu terbuka terhadap kehadiran sesama. Keempat, dunia tempat kita mengais hidup telah mempersulit hidup kita karena kita lebih suka mempertajam perbedaan ketimbang melihatnya sebagai kekayaan dan bahwa perbedaan yang ada mampu menciptakan guratan pelangi yang indah. Perbedaan yang dipertajam akan menceraiberaikan, tetapi bila dilihat sebagai kekayaan memungkinkan persatuan, keharmonisan. Jangan mempersoalkan adanya perbedaan tetapi permasalahkan apa yang mesti kita petik dari sebuah perbedaan. Kelima, dunia tempat harapan kita dapat menjadi kenyataan berada dalam situasi sulit karena penghuninya semakin tidak berhati. Kehadiran kita lebih banyak membingungkan ketimbang meyakinkan sesama. Apa yang kita hidupi bukanlah apa yang kita imani dan apa yang kita imani tidak terpancar dalam hidup dan laku kita sehingga tidak heran ada begitu banyak Thomas yang kita jumpai dalam keseharian kita. Kesulitan ini dapat diatasi dan diakhiri bila kita punya rasa kasih dalam hati kita, kasih yang menjadi kunci segalanya; yang memiliki rasa kasih, selalu menghendaki kedamaian dan yang memiliki hati yang damai kehadirannya akan membawa ketemteraman dan ketenteraman memungkinan orang saling percaya. Tetapi semua ini hanya mungkin bila kita punya kerendahan hati dan kesediaan untuk berkorban.

Dunia kita menjadi liar, tidak bersahabat karena keliaran dan ketidakber-sahabatan kita. Sebagai orang-orang beriman kita dipanggil untuk menyembuhkan situasi dunia kita yang terluka. Untuk itu kita mesti belajar menumbuhkan rasa damai dalam hati kita agar kita memiliki kesediaan untuk berkorban, kerelaan untuk melindungi, punya hati untuk mengasihi, memiliki kesediaan untuk berbagi. Hanya dengan cara ini api harapan kita akan kedamaian dihidupkan kembali, kepentingan bersama kembali mendapat tempat utama dan cinta kasih menjadi jiwa seluruh langkah laku kita. Hanya dengan menempuh jalan ini, Thomas-Thomas jaman ini dapat diyakinkan karena menyaksikan kehadiran Yesus yang bangkit dalam diri dan keseharian kita.

[ back ]
footer2.jpg