Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 07-04-2017 | 22:03:11
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : "KITALAH SAKSI KEBANGKITANNYA"

Yoh 20:1-9; Minggu, 16 April 2017

Ada banyak peristiwa terjadi di sekitar kita yang kebetulan ataupun penuh rencana kita hadir sebagai saksinya. Kalau kita menjadi saksinya, dari kitapun dituntut untuk bisa berbicara apa adanya sesuai dengan apa yang kita saksikan. Berbicara tentang kesaksian berarti berbicara kata, laku dan hidup kita yang dapat dijadikan bukti, data, penjelasan dan keterangan untuk memperkuat satu fakta. Ia sengaja dihadirkan untuk meyakinkan, memperkuat dan membenarkan fakta yang dengannya kita diperhadapkan. Kalau ada kesaksian, ada juga apa yang kita namakan saksi. Ada macam-macam saksi; ada saksi bisu; kenyataan yang berbicara lewat kehadirannya, ada saksi mata, tertuju kepada mereka yang langsung menyak-sikan berlangsungnya satu peristiwa, ada saksi hidup, orang-orang yang turut mengalami satu perjalanan sejarah dan masih hidup sehingga darinya bisa diakses aneka keterangan tentang satu peristiwa dan ada pula saksi palsu; mereka yang memberikan keterangan palsu untuk mengelabui orang lain dan memenangkan diri sendiri. Dari aneka wajah kesaksian ini, kita dapat melihat wajah kita sendiri dalam keseharian kita. Di sini hidup ibarat satu pentas pengadilan di mana di atas pentas itu masing-masing kita diberi kebebasan untuk bersaksi. Apa bentuk kesaksian kita, semua ini bergantung dari motivasi yang melatasbelakangi kehadiran kita di atas pentas hidup tersebut. Apapun yang kita lakonkan, itulah bentuk kesaksian yang kita berikan kepada dunia. Di sana di atas pentas itu berdasarkan peran yang kita mainkan, orang dapat menilai model kesaksian mana yang sedang kita berikan.

Pesta Paska yang kita rayakan sedang menjadi masa lampau. Pesta Paska adalah pesta kebangkitan, Yesus bangkit mengalahkan maut, kitapun diundang untuk bangkit sebagai manusia-manusia baru. Kubur yang tadinya menjadi tempat Yesus dibaringkan telah kosong, batu penghalang telah digeser. Tetapi Paska tidak berarti karena kubur yang kosong atau batu penutup yang sudah terguling, pesta ini berarti karena adanya perubahan. Merayakan pesta Paska tanpa menunjukkan ada-nya perubahan dalam hidup dan relasi kita dengan dunia berarti perayaan ini tidak punya pengaruh, perayaan ini tidak jauh dari sebuah sandiwara. Perayaan ini mesti membawa perubahan dan perubahan ini mesti disaksikan. Merasa iba terhadap Yesus seperti wanita-wanita Yerusalem tidak banyak membantu bila kita hanya berhenti pada rasa prihatin terhadap nasib sesama tanpa tindakan nyata. Membenci Pilatus tetapi tetap menghidupi mental Pilatus, kebencian kita akan berubah menjadi racun yang membunuh kita dalam dalam. Mengejek Petrus tetapi suka menyangkal kebaikan sesama, ejekan kita akan semakin memperlebar jurang yang memisahkan kita dengan kita. Marah terhadap Yudas tetapi membiarkan mental Yudas tumbuh subur dalam diri kita, Yudas akan tetap hidup di antara kita. Seperti Petrus, Maria Magdalena dan para murid, kitalah yang makan dan minum bersama Kristus, kitalah yang harus memberi kesaksian tentang kebangkitan, tentang perubahan, hidup baru; kita sudah jauh berubah, tidak lagi seperti dulu, kita telah menjadi manusia-manusia baru, manusia-manusia yang diresapi semangat Kristus yang punya kerelaan untuk berkorban demi berubahnya kisah hidup ini, Kristus yang mencintai dengan kasih yang mengabdi tanpa pengkotakan. Di sekitar kita ada begitu banyak Cornelius yang membutuhkan kesaksian kita, merekapun ingin mengalami adanya perubahan dalam hidup mereka, kitalah yang mesti merasa terpanggil untuk menjawabi kenyataan ini. Untuk itu, kita tidak perlu banyak berkotbah, biarkan hidup kita yang telah berubah meyakinkan mereka bahwa perubahan selalu mungkin bila kita mau, rela mengorbankan hidup kita yang lama, membiarkan Kristus yang bangkit menguasai seluruh hidup dan laku kita. Dengan cara ini, kita mengartikan Paska yang kita rayakan.

Ke manapun kita pergi dan apapun yang kita lakukan, kita adalah saksi-saksi hidup di mana dari diri kita sesama dapat belajar bagaimana seharusnya hidup sebagai orang-orang beriman. Selain bersaksi tentang iman kita, kita sebenarnya bersaksi tentang siapa kita. Dari hidup dan kehadiran kita, orang dapat melihat siapa kita sebenarnya dalam kebersamaan. Di sini yang terpenting bukanlah apa yang kita katakan tetapi apa yang kita hidupi. Karena itu jalani hidup anda apa adanya tanpa harus mengada-ada. Kita tidak hidup dari pandangan orang tetapi kita membutuhkan pandangan mereka untuk hidup, menjadi diri kita sendiri. Anda boleh saja bisu tetapi jangan pernah membisu apalagi menjadi saksi-saksi palsu.

 

[ back ]
footer2.jpg