Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 10-03-2017 | 21:05:48
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : "TURUNLAH KE YERUSALEM"

Mat 17:1-8; Minggu, 12 Maret 2017

Setiap kita punya impian, masing-masing kita punya cita-cita tetapi tidak semua kita memberi reaksi yang sama terhadap impian dan cita-cita itu. Mimpi bisa saja melecut kita untuk merubahnya menjadi kenyataan, mendorong kita untuk berjuang sekeras mungkin, sebisa kita agar apa yang kita impikan bisa diwujudnyatakan. Bisa juga mimpi, cita-cita, angan-angan ini membuai kita untuk tetap berada di dalam dunia impian.‘Suatu malam dalam tidur saya bermimpi tentang kebahagiaan, menjelang pagi ketika terbangun, saya menemukan kenyataan bahwa kebahagiaan yang diimpikan harus diperjuangkan. Kebahagiaan, kesuksesan dan keberhasilan ada untuk kita semua tetapi tidak semua kita akan menikmatinya. Yang mencarinya akan bertemu dengan dia, yang mengetuk pintunya akan masuk ke ruangnya. Di sini hendak ditegaskan bahwa bermimpi saja tidak cukup untuk sebuah perubahan. Perubahan hanya milik mereka yang berusaha untuk berubah. Saya tidak tahu apakah mimpi ini pernah mengusik tidur anda atau tidak. Tetapi satu hal saya tahu pasti kita semua mengimpikan kebahagiaan apapun situasinya. Yang membuat kita gagal untuk meraih apa yang kita impikan adalah sikap mental kita yang tidak mau beranjak dari mimpi; yang kita punya adalah mental pemimpi bukan mental pejuang. Karena itu perubahan akan terjadi kalau mental kita dirubah, dibaharui. Kebahagiaan tidak akan datang bila tidak diundang, diusahakan dan dia akan pergi bila kita tidak berusaha mempertahankannya. Abraham hanya mungkin memasuki negeri yang dijanjikan dan menjadi asal bangsa yang besar ketika dia bersedia meninggalkan tanah leluhurnya.

Ada banyak kejadian di sekitar kita yang membuat kita terpana, bila itu mengesankan kita ingin menikmatinya selama mungkin atau bila dimungkinkan selamanya. Hari ini kita diundang untuk menyaksikan peristiwa Tabor. Kejadian di atas gunung Tabor membuat Petrus terpana. Suasana yang jarang direkam mata membuatnya memberikan reaksi spontan dan menganjurkan agar mereka membangun kemah di sana. Reaksi Petrus adalah reaksi yang sangat manusiawi, reaksi yang mewakili kecenderungan kita untuk bertahan pada posisi yang menyenangkan sedapat dan selama mungkin. Yang menarik adalah diamnya Yesus dan gunung menjadi medannya. Ada banyak gunung yang kita kenal dan ribuan tempat tinggi yang kita saksikan, mungkin juga kita adalah orang gunung. Gunung punya aneka arti; sindiran bagi mereka yang ketinggalan jaman; orang gunung. Bagi orang kampung; gunung adalah tempat diam wujud tertinggi/ arwah para leluhur. Gunung, berada di puncaknya kita bisa melihat ke segala penjuru mata angin-satu lukisan yang mengajak kita untuk melihat posisi yang kita tempati sebagai satu kesempatan untuk melayani siapa saja tanpa pengkotakan. Gunung juga lambang kemegahan, lukisan keangkuhan manusia yang lupa dari mana mereka berasal. Gunung bisa juga lambang dari satu titik akhir perjuangan. Bagi Yesus penampakan ini mengisyaratkan situasi masa datang sesudah Ia menyelesaikan misiNya di dunia ini karena itu turun dari gunung adalah satu keharusan. Tempat mereka bukan Tabor, mereka perlu kembali ke Yerusalem medan di mana situasi Tabor dapat dipateri jadi kenyataan. Bagi Yesus bagaimana kita menghadapi hidup harian kitalah yang akan menghantar kita mengalami situasi Tabor; menjadi orang-orang yang berkenan dalam kebersamaan. Sedangkan penampakan itu hanyalah pesona yang menggerakkan dan menjadi jiwa seluruh perjuangan kita ke Tabor. Penampakan di Tabor bukan satu anugerah cuma-cuma melainkan mahkota dari satu perjuangan panjang di Yerusalem keseharian kita. Bagi Petrus, dari pada turun gunung lebih baik pertahankan situasi penampakan itu dengan berkemah di sana. Sikap Petrus merupakan representasi sikap kita yang ingin terus berada pada situasi mapan dengan cara apapun. Menariknya, tanpa banyak kata, Yesus beranjak perlahan-lahan menuruni gunung itu menuju Yerusalem. Yesus hendak menunjukkan bahwa dari Yerusalem kita menuju ke Tabor; mimpi kita hanya akan menjadi kenyataan bila kita mau berjuang di Yerusalem keseharian kita.

Siapakah kita dalam kebersamaan ini; Yesus yang melihat penampakan di gunung sebagai satu isyarat bahwa segala sesuatu yang kita inginkan perlu diperjuangkan atau Petrus yang ingin menikmati situasi penampakan tanpa harus bersusah payah turun ke Yerusalem dan bergerak lagi dari sana. Cita-cita dan kerinduan kita harus menjadi jiwa dari seluruh aktivitas kita. Untuk menjadi manusia baru, manusia yang berkenan dalam kebersamaan, kita mesti kembali ke kenyataan keseharian kita dan melihat segala kemungkinan bagaimana menemukan langkah baru yang memungkinkan kita kembali berada dan mengalami situasi penampakan, menjadi orang-orang yang punya tempat dalam hati sesama. Bila kita telah mengalami situasi penampakan, jangan lupa melihat kembali situasi Yerusalem tempat banyak orang masih tertatih-tatih untuk mengalami situasi ini. Ada banyak orang yang sedang bermimpi tentang hari esok yang lebih baik, kita mesti merasa terpanggil untuk mengubah impiannya menjadi kenyataan. Bila kita tak sanggup membantu mereka, jangan pernah tegah membuyarkan mimpi mereka.

 

[ back ]
footer2.jpg