Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 25-11-2016 | 21:59:46
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : "SUDAHKAH YESUS JADI RAJA ANDA?"

Luk 23:35-43, Minggu, 20 Nopember 2016

Disadari ataupun tidak kehadiran kita punya dampak tertentu dalam kebersamaan di mana kita ada dan mengais hidup. Untuk itu ada aneka potensi dalam diri yang bisa kita manfaatkan dan ada banyak orang di sekitar kita yang darinya kita dapat belajar membuat kehadiran kita punya arti. Tentu saja ini bergantung dari sejauh mana kita mau membuka diri bersedia untuk diperkaya dan dilengkapi. Dan berhubungan dengan keberartian kehadiran kita dalam kebersamaan, ketika mempersiapkan renungan untuk pesta hari ini, saya teringat akan kata-kata Chairil Anwar, ‘Sekali hidup mesti berarti dan sesudah itu mati’. Sepintas membaca atau mendengar kata-kata ini, ungkapan ini tidak jauh berbeda dari satu deretan permainan kata-kata tanpa banyak makna. Tetapi bila kita merenungkan barang sejenak; ungkapan ini bukan sekedar permainan kata-kata. Si penulis hendak mengingatkan kita akan ada kita yang terbatas; hidup kita dibatasi oleh ruang dan waktu sehingga mesti dilihat sebagai satu kesempatan yang sangat berharga. Dia akan sungguh bernilai bila kita mau mengartikannya. Kita hidup hanya sekali, akan datang saatnya kesempatan emas ini berlalu. Dan hidup ini bergerak di antara dua titik batas; ada lalu tiada, di antara kedua titik ini manusia mesti berbuat sesuatu agar lewat apa yang kita buat itu orang dapat melihat bahwa kita pernah ada dan punya arti. Hanya orang-orang yang memberi arti bagi hidup inilah yang akan diartikan sehingga setiap detik mesti diartikan dan setiap peluang harus dilihat sebagai saat-saat berahmat, saat-saat keselamatan.

Kita sudah biasa membuat pesta ataupun menghadiri pesta yang diadakan orang lain. Berhubungan dengan pesta, kita selelau mempersiapkan diri dan kita selalu punya kesan tentang peristiwa itu ataupun dipengaruhi oleh peristiwa itu. Hari ini, kita merayakan pesta Kristus raja semesta alam. Sebagai orang-orang beriman perayaan hari ini mesti kita lihat sebagai satu undangan penting untuk menilai, mengevaluasi seluruh perjalanan hidup kita di hadapan cermin Kristus sang raja. Kalau meraihnya pesta yang kita hadiri membawa pesan tersendiri buat kita, pada perayaan ini kita ditanya,”apakah keseharian kita mampu membawa kita kepada realitas baru sesudah kalender liturgi ini berakhir ataupun sesudah hidup yang singkat ini sampai ke titik batas?” Dalam setahun perjalanan liturgi ini, setiap kita dibantu, dipandu untuk bisa menjadikan hidup dan misi Yesus, hidup dan misi kita. Bertukarnya lembar demi lembar kalender ini mestinya ikut menjadi tanda perubahan ceritera hidup kita hari demi hari, dari yang tidak baik menjadi baik dan dari yang baik menjadi jauh lebih baik, dari ruang kosong ketiadaan Kristus menjadi ruang yang terisi oleh kehadiran Kristus sehingga saat ini bukan lagi kita yang hidup melainkan Kristus yang hidup dalam diri kita. Bila ini terjadi, di mana kita hadir di sana mukizat-mukjizat yang disaksikan kaum Yahudi dua ribu tahun silam dapat kembali disaksikan orang-orang jaman kita sekarang dan di sini lewat kehadiran dan karya kita. Hari ini ini, kita merayakan pesta Kristus raja, apakah Kristus yang sama telah merajai seluruh hati dan hidup kita? Ataukah perayaan ini hanyalah satu ritual biasa karena tercantum pada kalender liturgi tetapi pengaruh kehadiran Yesus sama sekali tidak terasa dalam keseharian kita? Perayaan ini berarti bila Kristus memang telah menjadi raja atas seluruh hati dan hidup kita. Karena itu kepada Pilatus, Dia mengatakan bahwa kerajaanNya bukan dari dunia ini. Dia adalah raja kerajaan hati kita; kerajaan kasih yang mempersatukan, yang melihat perbedaan sebagai warna-warni yang menciptakan keindahan guratan pelangi sebuah kebersamaan. Dia adalah raja kerajaan para hamba yang melihat posisi yang mereka tempati sebagai peluang untuk melayani sebanyak mungkin orang. Dia adalah raja kerajaaan kebahagiaan yang hadirNya selalu menjadi sumber ke-gembiraan dan pembebasan bagi orang lain; yang lumpuh berjalan, yang tuli mendengar, yang buta melihat, yang mati dibangkitkan, yang kerasukan setan dibersihkan dan yang berdosa ditobatkan seperti apa yang terjadi pada penjahat yang disalibkan bersama Yesus. Dia adalah raja kerajaan kebenaran; raja atas orang-orang yang mencintai kebenaran dan menjauhi kepalsuan-orang yang yang mengatakan apa yang mereka hidup dan menghidupi apa yang mereka katakan. Dia adalah raja orang-orang yang mencari yang lebih benar dari yang sudah benar dan yang lebih adil dari yang sudah adil. Dia adalah raja kerajaan damai; raja atas orang-orang yang mencintai hidup damai dan saling pengertian, raja atas orang-orang yang selalu berusaha menghindari hal-hal yang merusak kedamaian. Sampai di sini sudahkah raja model ini menjadi raja atas hati dan hidup kita? Keberadaan Yesus sebagai raja, pesta yang hari ini kita rayakan punya arti bila Yesus sungguh menjadi raja bagi hati dan hidup kita; di mana kita hadir di sana orang dapat merasakan kehadiranNya yang menyelamatkan.

Disadari ataupun tidak , hari ini kita memaklumkan bahwa Kristus sungguh raja kita. Tetapi pemakluman, pengakuan ini akan sungguh punya nilai bila kehadiran dan sabdaNya telah dijadikan cermin untuk menata hidup kita menjadi jauh lebih kristen, pedoman bagimana membangun relasi kita dengan dunia. Dia sungguh raja bukan karena kita memiliki uraian teologis filosofis untuk mejelaskan predikat ini tetapi karena hidup dan misiNya telah menjadi hidup dan misi kita; bukan lagi kita yang hidup melainkan Dialah yang hidup dan mengendalikan seluruh ada kita. Bila sampai saat ini, Yesus belum sungguh menjadi raja kita, hari ini janji kita untuk menjadikan misi dan hidupNya misi dan hidup kita mesti dibaharui sehingga dengan bertukarnya kalender liturgi tahun ini, pola hidup kitapun per-lahan tapi pasti turut diberi wajah baru, wajah yang siap membiarkan Kristus menguasai seluruh kerajaan diri kita sehingga sekali hidup, kita berarti dan sesudah itu yang merasakan berartinya kehadiran kita dapat mengartikan hidupnya sendiri.

[ back ]
footer2.jpg