Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 28-10-2016 | 22:28:46
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : DIALOG MEMUNGKINKAN SEGALA

Lukas 19: 1-10, Minggu, 30 Oktober 2016

Suatu ketika ada seseorang yang datang ke ruang saya katanya untuk berkonsultasi. Dalam pertemuan itu dia menyampaikan keluhannya bahwa sudah hampir setahun dia dan temannya sudah tidak lagi berkomunikasi seperti dahulu. Dia tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Dia hanya ingat hal itu mulai saat mereka beramai ramai bicara soal pilkada di daerah mereka. Lalu hari berikutnya mereka mulai tidak saling menyapa dan begitu seterusnya jarak mereka makin hari makin menjauh tanpa ada yang yang berusaha untuk bisa mencairkan kebekuan itu. Setelah mendengar ceritanya, saya coba bertanya apakah dalam dirinya ada keinginan untuk memulai satu dialog terbuka di mana dia bisa menemukan alasan atas semua hal ini atau mungkin dia sudah berusaha menggunakan orang lain untuk mendekati temannya itu. Dia mengatakan bahwa dia ingin sekali melakukan hal itu tetapi dia takut ditolak. Sampai di sini saya menemukan alasan mengapa hal ini dibiarkan berlarut-larut. Kita sering membuat apriori sebelum kita memulai melakukan sesuatu. Dan biasanya yang negatiflah yang menguasai seluruh pikiran kita. Kita tidak berusaha menemukan jalan bagaimana mencairkan komunikasi kita yang beku tetapi kita justeru membuang banyak energi dan waktu untuk memikirkan penolakan yang akan terjadi. Kita tidak optimis dan kita kurang percaya akan kemampuan kita sendiri. Bagaimana soal kita bisa selesai kalau kita sudah memikirkan terlebih dahulu kegagalan kita? Melihat kenyataan ini, saya coba membangkitkan keberanian dalam dirinya, mengundang dia untuk mengingat semua yang baik yang pernah mereka alami bersama. Kepadanya saya katakan bahwa hal ini mungkin saja terjadi karena perbedaan pendapat mereka dalam diskusi itu. Lalu saya coba meminta dia untuk membuang segala prasangka buruk lalu mulai menyapa temannya itu, mulai lebih dahulu. Lalu kamipun berpisah. Dan beberapa hari kemudian dia datang lagi. Pada kesempatan itu dia datang untuk menyampaikan rasa terima kasihnya karena relasi mereka sudah kembali berjalan, kebekuan di antara mereka sudah kembali mencair. Di sini jelas dialog memungkinkan segalanya, dia memungkinkan yang jauh bisa datang mendekat dan yang dekat semakin erat dan lekat.

Ada banyak hal di sekitar kita yang dapat membantu kita untuk merubah kisah hidup kita, menjembani jurang yang memisahkan kita dengan kita, melestarikan kebersamaan dan memungkinkan kita untuk bisa menyelesaikan segala soal yang terjadi di antara kita. Dalam hal ini kita bisa menjadikan sikap Yesus sikap kita sendiri, cermin kehidupan kita. Yesus dan kehadiranNya senantiasa mengundang orang untuk berbalik, merubah jalan hidup mereka; walaupun Dia tidak banyak berkata cuma sekedar hadir; atau Dia tidak menyampaikan undangan tetapi cukup dengan kata-kata yang menggugah dan aneka perbandingan, mungkin juga dengan nada kasar tetapi keluar dari kemurnian hati yang menginginkan kebaikan mereka yang mendengar kata-kataNya. Disadari ataupun tidak, kehadiranNya selalu membangkitkan kerinduan orang untuk kembali ke asal, mengundang mereka untuk menyadari dalam situasi apa mereka berada. Di sini kisah Lukas tentang dialog Yesus dengan Zakheus mesti menjadi contoh bagi kita bagaimana bisa membangun satu relasi yang menolong, satu komunikasi yang punya daya rubah. Yesus tahu Zakheus seorang berdosa tetapi Dia juga tahu bahwa dalam diri Zakheus masih ada kebaikan yang mesti diberi peluang untuk bisa bertumbuh. Melalui kisah Lukas ini yesus hendak mengingatkan kita bahwa kesalahan dan dosa seseorang bukanlah akhir riwayat hidupnya. Dan untuk membangun satu hidup baru yang perlu kita lihat adalah peluang untuk membangu n hidup baru itu bukan mengungkit-ungkit masa lalu sesame. Berdasarkan kisah ini, kita memperoleh jawaban mengapa kita gagal menolong sesama keluar dari kerumitan hidupnya. Di sini pendekatan yang manusiawi memegang peranan penting karena pendekatan ini memungkinkan diangkatnya kembali martabat manusia, manusia menyadari posisinya, diberi peluang menemukan kembali kesejatian dirinya yang hilang. Pendekatan yang manusiawi dimulai dengan kesediaan untuk keluar dari diri sendiri, menyebrang, meninggalkan kemapanan diri kita masuk dalam situasi riil sesama yang sebenarnya. Dalam perjalanan misiNya, Yesus coba menyebrang memasuki Yerikho. Ini satu langkah awal mulainya relasi yang menolong. Kita hanya mungkin menolong sesama bila kita bersedia meninggalkan kemapanan diri kita, meninggalkan segala prasangka buruk, karena hanya dengan cara ini, kita bisa memahami dunia sesama, merasakan denyut kerinduan mereka. Kegagalan terjadi karena kita mau menolong tetapi kita tidak bersedia menyebrang, kita tidak rela meninggalkan prasangka-prasangka buruk, kita mengabaikan hal-hal yang baik yang masih tersisa dalam hidup sesama. Lihat, Yesus berhenti persis di bawah pohon tempat Zakheus berada. Di sini pohon lambang pertemuan maksud kehadiran Yesus dan kerinduan Zakheus. Di sana, langkah demi langkah Yesus menghantar Zakheus menuju pengungkapan diri dan kerinduannya. Dari kisah ini kita melihat mengapa kita gagal. Kegagalan kita terjadi karena kita tidak membiarkan sesama meng-ungkapkan dirinya, kita lebih dahulu membeberkan kisah hidupnya sehingga mereka merasa bahwa mereka tidak punya peluang untuk berbalik, berubah. Kita tidak menghargai proses, tidak sabar, ingin cepat melihat hasil. Perubahan hidup hanya mungkin terjadi bila kita siap mewu-judkan kata-kata kita dalam tindakan nyata, “Tuhan sekiranya ada yang kupungut lebih, aku siap menggantikannya empat kali lipat”. Selain itu, perubahan hanya mungkin bila kita mau membiarkan Tuhan datang dan diikutsertakan dalam hidup dan perjuangan kita. Ini langkah sederhana yang punya nilai besar, nilai keselamatan di mana penghargaan terhadap proses dan sikap sabar menjadi kunci keberhasilan yang dapat membantu kita membawa sesama kembali ke jalan yang benar.

Ada banyak orang di sekitar kita yang punya nasib seperti Zakheus, terasing dari kebersamaan entah karena kesalahan mereka ataupun karena kitalah yang menjadi penyebabnya. Mereka masih punya hati dengan denyut kerinduan untuk kembali hidup normal. Kesalahan dan masa lalu mereka tidak boleh membuat kita menutup pintu masa depan. Dengan catatan setiap pendosa masih punya masa depan. Kitalah orang-orang yang mesti merasa terpanggil untuk menolong mereka keluar dari keterasingan ini. Dan untuk itu pendekatan manusiawi dengan pola proses merupakan jalan yang baik untuk menolong mereka. Kita mesti berani membuka satu dialog terbuka di mana masing-masing pribadi mau membuka diri, menyampaikan apa yang ada dalam hatinya. Dan ini hanya bisa kita jalankan kalau kita punya kerelaan untuk menyebrang, keluar dari diri kita sendiri, meninggalkan segala prasangka buruk. Hanya dengan cara ini kita dapat merasakan apa yang dirasakan sesama, hanya dengan jalan ini kita dapat menolong sesama dan mengartikan kehadiran kita. Hanya dengan jalan ini, seperti Yesus, kitapun bisa hadir dalam kebersamaan untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Kalau hidup Yesus telah menjadi hidup kita, kehadiran kita pasti dapat memberi arti yang khas bagi kebersamaan di mana kita ada dan mengais hidup…

[ back ]
footer2.jpg