Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 21-10-2016 | 21:59:50
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : DAPAT APA?

(Lukas 18:9-14, Minggu, 23 Oktober 2016)

Kenyataan menunjukkan bahwa ada kecendengan dalam diri kita untuk menganggap diri jauh lebih baik dari mereka yang berada di sekitar kita, meskipun kita tahu bahwa masing-masing kita punya kelebihan dan semua kita tidak luput dari kekurangan. Tetapi hal ini wajar-wajar saja. Kecenderungan ini mulai membawa kita keluar jalur kewajaran dan mendatangkan soal, menciptakan jurang yang memisahkan kita dengan kita, saat kita menganggap diri jauh lebih baik dari orang lain lalu kita mulai meremehkan mereka, menganggap mereka tidak punya arti. Sampai di sini, saya memahami mengapa pagi ini ada seorang teman saya yang marah besar karena dia merasa diremehkan oleh teman sekantornya. Kebetulan saya juga mengenal temannya itu, orang yang satu ini gampang sekali menjatuhkan vonis pada orang lain tanpa memperhitungkan keadaan dirinya sendiri, di mana dia hadir di sana pasti ada orang tertentu yang menjadi tema pembicaraannya dan sudah pasti yang diangkat adalah kekurangan orang itu. Di sisi lain, apa yang dibuatnya walau kecil sekalipun dilukiskan sekian sehingga menimbulkan kesan bahwa hanya dialah yang bisa melakukan hal itu padahal apa yang dilakukannya sudah biasa diperbuat orang lain. Aneh memang, mengapa begitu sering kita menganggap diri jauh lebih baik dari orang lain ataupun berpikir bahwa yang ada pada kita hanyalah kebaikan, kita adalah pribadi tanpa cacat. Membanggakan diri, satu hal yang sangat manusiawi, membuat kita percaya diri dan bisa tampil meyakinkan. Tetapi sikap ini menjadi satu penyakit yang mesti disembuhkan bila kita membanggakan diri lalu meremehkan orang lain. Kita tidak menyadari bahwa pada saat anda meremehkan sesama di saat yang sama tercipta jurang yang memisahkan anda dari mereka. Siapapun kita, kita tetap membutuhkan orang lain untuk menjadi diri sendiri dan setiap kita punya kelebihan dan kekurangan walau dalam kadar yang berbeda.

Disadari ataupun tidak keangkuhan dan kesombongan adalah sejenis penyakit yang sedang menggerogoti keharmonisan sebuah kebersamaan. Dan mungkin saja sikap meremehkan sesama, menganggap diri jauh lebih baik adalah sikap bawaan manusia dan sikap ini dapat menciptakan aneka soal dalam hidup bila kita biarkan sikap ini menguasai seluruh ruang hati kita. Kadang sikap ini ditampilkan dalam bentuk kata-kata yang tajam menusuk rasa tetapi tidak jarang dimunculkan dalam bentuk sikap yang menyakitkan. Karena itu Yesus mengangkat hal ini dalam bentuk perumpamaan untuk mengingatkan para muridNya, mengingatkan kita; bagaimana seharusnya kita menempatkan diri di hadapan Tuhan dan sesama dan bagaimana membuat kebersamaan ini lestari tanpa banyak soal. Selain itu, melalui kisah ini; Yesus juga hendak menyadarkan kita bahwa setiap kita punya kelebihan dan kekurangan sehingga kita tidak perlu bersikap sombong dan meremehkan sesama; kelebihan yang kita miliki tidak harus menjadikan kita standar kehidupan sesama dan kekurangan kita tidak boleh membuat kita menjauhkan diri dari kebersamaan, kita ada dalam kebersamaan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan. Melihat kecenderungan ini dan memikirkan jalan bagaimana mengurangi kesukaan negatif ini, Lukas berkisah, satu saat entah kapan Yesus menampilkan dua tokoh yang mewakili dua ka-langan berbeda; orang Farisi dan pemungut cukai. Entah direncanakan ataupun secara kebetulan, keduanya datang ke rumah ibadat untuk menghadap Allah dalam doa. Melukiskan sikap keduanya, dikatakan bahwa si Farisi dalam doanya mengagungkan dirinya sambil meremehkan si pemungut cukai. Di sisi lain, si pemungut cukai yang menyadari siapa dirinya, dengan rendah hati mengakui segala dosa dan salahnya. Di mata Yesus, sikap si pemungut cukai patut dicontohi, dia kembali ke rumah sebagai orang yang dibenarkan Allah. Tuhan tidak melarang kita membanggakan diri, Dia hanya tidak menghendaki kita meremehkan sesama. Yang baik yang kita lakukan tidak perlu dibesar-besarkan. Tugas kita adalah membiarkan hidup kita yang baik menjadi cermin sesama untuk menata diri dan hidupnya sendiri. Lebih dari itu, kita tidak perlu bicara banyak tentang apa yang kita lakukan tetapi kita harus memberi waktu agar apa yang kita lakukan berbicara tentang siapa kita. Karena bila kita berbicara tentang diri sendiri, ada kemungkinanan kita melebih-lebihkan ataupun mengurangi apa yang sebenarnya. Dan di sana tanpa kita sadari, tindakan kita menyepelekan orang lain. Siapapun kita, kita membutuhkan sesama. Karena hanya dalam dan melalui mereka kita dapat menjadi diri kita sendiri. Dan lewat kisah ini hendak ditekankan sikap kitalah yang menentukan di mana tempat kita di hadapan Tuhan dan sesama; disenangi tidaknya kita bergantung dari bagaimana kita menempatkan diri kita dalam kebersamaan. Untuk itu kita perlu membangun dan menumbuhkembangkan sikap rendah hati dalam diri kita karena di sana yang kurang bisa dilengkapi dan jurang pemisah dapat dijembatani. Bila hal ini kita hidupi, banyak soal yang dapat dihindari dan aneka masalah dapat diatasi.

Kita selalu hidup bersama. Kita ada di sana untuk melestarikan hidup ini dan membuat kebersamaan itu satu arena di mana kebahagian yang kita impikan, yang kita cari bisa kita alami. Bila dunia telah dirusakkan oleh kesombongan dan keangkuhan, sebagai orang-orang beriman kita ditantang untuk menunjukkan kesejatian kita; kita berbangga bukan karena keunggulan yang kita miliki tetapi karena dengan kelebihan kita, kita dapat membantu sesama keluar dari kerumitan hidupnya. Di sini, kita butuh kerendahan hati; mengakui bahwa pada diri kita ada hal-hal yang perlu dibanggakan dan ada saat di mana kita membutuhkan bantuan sesama untuk mengatasi kelemahan kita demi merubah kisah hidup ini. Dengan demikian, kelebihan kita tidak membuat kita meremehkan sesama dan kekurangan kita tidak membuat kita minder untuk mendekati mereka. Semoga dengan cara ini kita dapat kembali ke dalam keseharian kita sebagai orang-orang yang dibenarkan Allah dan punya tempat di hati sesama. Meremehkan sesame kita tidak akan mendapat apa-apa selain kita akan kehilangan banyak apa-apa.

[ back ]
footer2.jpg