Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 07-10-2016 | 21:07:27
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : TOLONGLAH MEREKA

(Lukas 17:11-19, Minggu, 9 Oktober 2016)

Apakah anda pernah jatuh sakit ataukah sekarang anda sedang berbaring di tempat tidur karena sakit? Disadari atau tidak, kita sedang dikitari begitu banyak orang menderita aneka penyakit dan beragam penderitaan baik secara fisik maupun psikis. Parahnya, keduanya saling mempengaruhi sehingga yang fisik dapat mempengaruhi yang psikis dan sebaliknya. Sakit berarti salah satu organ tubuh tidak dapat melakukan fungsinya sebagaimana mestinya. Kesakitan ataupun penyakit membuat manusia tampil tidak seperti adanya, ia merubah suasana hidup dan mempengaruhi cuaca hati. Satu keinginan yang wajar, setiap orang sakit selalu mengharapkan kesembuhan karena sakit tidak masuk dalam daftar impian kita. Untuk sembuh ada aneka pantangan yang mesti ditaati, tidak sedikit tablet yang harus dikonsumsi dan boleh jadi banyak waktu yang terpaksa dilewatkan di pembaringan. Selain itu, si sakit sendiri perlu menyadari keadaannya dan bersedia untuk ditolong. Tanpa sikap ini, si sakit akan tetap sakit dan ceritera tidak akan pernah berubah. Nilai lain dari sakit ataupun penderitaan adalah manusia disadarkan akan kehadiran sesamanya dan diingatkan bahwa dia butuh orang lain.

Satu saat entah kapan, dua ribu tahun silam dalam perjalanan menuju Yerusalem menyusur perbatasan Samaria dan Galilea, ketika memasuki satu desa Yesus didatangi sepuluh orang kusta. Dari jauh mereka meminta Yesus agar mereka disembuhkan. Dan permintaan mereka dikabulkan. Dalam perjalanan menghadap imam-imam, mereka menjadi tahir. Lalu satu dari mereka; seorang Samaria kembali untuk memuliakan Allah. Kisah ini menarik. Di tengah perjalanan melukiskan bahwa hidup ini tidak berjalan mulus, ada saat di mana kita mengalami, menyaksikan surutnya kehidupan; sakit, derita dan kemalangan. Kita butuh orang lain untuk mengurangi rasa sakit, meringankan beban yang sedang kita tanggung. Di sini, kesadaran akan situasi diri sangat perlu, kesediaan untuk ditolong adalah keharusan, gengsi-gengsian mesti ditingalkan dan kerendahan hati harus menjadi sikap dasar; ‘mereka berdiri agak jauh, dan memohon agar mereka ditahirkan’. Lebih dari itu, kusta adalah satu persoalan. Penyakit ini membuat orang dikucilkan dari kebersamaan. Ia membuat si penderita mengalami penderitaan ganda; karena penyakit itu sendiri dan karena harus diisolasi dari kebersamaan. Mungkin saja, kita bukan si kusta, tetapi penderitan yang sama kita alami karena ulah kita; kita dikucilkan dari kebersamaan karena kita tidak mau tahu bagaimana seharusnya hidup dalam kebersamaan. Dan banyak orang yang tidak dapat ditolong karena tidak mau dikatakan sakit, tidak sedikit orang yang sulit disembuhkan karena malu atau merasa gengsinya turun bila menerima pertolongan dari yang lain, mereka kurang rendah hati. Selebihnya, ‘perjalanan’ juga melukiskan bahwa kita hanya mungkin mengenal, mengetahui situasi sesama dan dapat memberi pertolongan yang dibutuhkan bila kita bersedia meninggalkan diri kita sendiri, memasuki dunia hidup sesama untuk bisa melihat kenyataan hidup mereka yang sesungguhnya. Kita sulit mengetahui situasi sesama, merasakan pahitnya hidup mereka karena kita hanya berputar pada dunia diri kita yang sempit dan penuh kalkulasi. Selain itu, dalam perjalanan yang dibatasi oleh ruang dan waktu ini, kita juga akan bertemu dengan orang-orang seperti si kusta Samaritan yang tahu berterima kasih; orang-orang asing yang tahu bahwa apa yang mereka peroleh bukan hanya karena usaha mereka semata tetapi juga karena campur tangan orang lain. Mengakui bahwa sesama punya andil dalam hidup adalah jalan merubah kisah hidup ini. Banyak soal muncul karena kita lebih melihat hak kita lalu lupa apa kewajiban kita setelah hak kita dipenuhi. Kita kurang rendah hati dan tidak tahu berterima kasih. Kita hanya membutuhkan sesama pada saat kita mengalami kesulitan tetapi sesudah kesulitan kita diatasi mereka tidak punya arti dalam hidup kita.

Boleh jadi secara fisik kita tidak sakit tetapi secara psikis kita adalah orang-orang sakit, si kusta yang perlu ditolong. Banyak dari kita yang dikucilkan dari kebersamaan karena ulah mereka yang tidak mau peduli bagaimana seharusnya hidup dalam kebersamaan. Hati mereka telah menjadi lahan subur tumbuhnya berbagai penyakit kusta; kebencian, iri hati, dendam, tidak suka mengalah, kerakusan, keangkuhan dan aneka penyakit sosial lainnya. Lalu siapakah kita dalam dunia semacam ini? Seorang Yesus yang siap keluar dari dunia diri sendiri untuk merasakan apa yang sedang dialami orang lain, ataukah kita adalah orang-orang kusta yang butuh tahu diri dan butuh pertolongan? Mungkinkah kita adalah si kusta Samaritan yang tahu berterima kasih dan menyadari bahwa sesama punya andil dalam hidup kita? Kesembuhan hanya mungkin dan hidup normal dapat tercipta bila kita tahu situasi kita, punya keinginan untuk sembuh dan punya kesediaan untuk ditolong.

[ back ]
footer2.jpg