Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 23-09-2016 | 22:15:55
By : ERMINOLD MANEHAT
Theme : BUKALAH MATAMU

(Lukas 16:19-31, Minggu, 25 September 2016)

Kita tidak hidup sendiri dan kita tidak hidup untuk diri sendiri. Kita ada dalam kebersamaan demi diri kita dan untuk mereka yang ada di sekitar kita. Ini berarti kita punya tanggung jawab moril terhadap hidup orang lain; kalau hal ini tidak dilihat sebagai hak kita, itu kewajiban kita. Sampai di sini, saya yakin syair tua ini ada benarnya, ‘tolong menolong umpama jari, bantu membantu setiap hati, itulah misal Allah memberi’. Keberuntungan kita dalam hidup tidak boleh membuat kita menutup mata terhadap nasib sesama. Semakin banyak keuntungan yang kita peroleh mestinya kita semakin merasa terpanggil, tergugah untuk membantu mengubah warna langit hidup sesama. Apa yang ada pada kita tidak boleh menjadi penyebab melebarnya jurang yang memisahkan kita dengan kita sebaliknya dijadikan jembatan yang dapat mempertemukan segala perbedaan di mana di sana kita bisa saling melengkapi dan saling memperkaya. . Kemalangan sesama mesti diperhitungkan sebagai kegagalan kita dalam menolong mereka. Apa yang ada pada kita harus dijadikan isyarat akan kehadiran mereka yang tidak memiliki apa yang kita miliki, menggugah kita untuk memikirkan nasib sesama. Di sisi lain, kita mesti ingat bahwa kita tidak selamanya bernasib baik dan hidup ini tidak selamanya berjalan mulus. Selain itu, kebahagiaan kita sekarang dan kelak tidak ditentukan oleh apa yang ada pada kita tetapi oleh apa yang kita buat dengan apa yang kita miliki. Karena itu bukalah mata anda, untuk berbuat baik selagi mungkin sehingga yang mengumpulkan banyak tidak berkelimpahan dan yang mengumpulkan sedikit tidak berkekurangan.kita merasa bahagia hanya kalau kita dapat membuat orang lain bahagia.

Yang kita cari dalam hidup ini adalah kebahagiaan sekarang dan kelak. Apa yang kita miliki, kerja kita, orang-orang yang ada di sekitar; mereka adalah jembatan, arena yang dapat menghantar kita masuk ke dalam situasi ini, menemukan apa yang kita cari. Apa yang kita cari ini dapat kita temukan, bergantung dari bagaimana kita menjalankan peran kita, sejauh mana apa yang kita miliki kita gunakan bukan hanya untuk diri kita dan bagaimana relasi kita dengan mereka, orang-orang yang ada di sekitar kita. Di sini kita perlu ingat bahwa karena kita hidup dalam kebersamaan maka kebersamaan juga punya andil dalam hidup kita untuk menggapai apa yang kita cari. Dalam bersama dan bersama mereka yang lain, kita mesti berjuang merubah kisah hidup kita menjadi jauh lebih baik dari hari ke hari. Kalaupun hidup kita sendiri sudah tidak perlu dibaharui, kisah hidup kita tidak perlu dirubah; tugas kita adalah membantu memberi warna lain pada langit hidup sesama. Keberuntungan kita jadikan peluang untuk membantu sebanyak mungkin orang. Apa yang ada pada kita mesti membuat mata kita terbuka, hati kita tergugah untuk membantu mereka yang kurang beruntung nasibnya. Bukan sebaliknya membuat mata kita tertutup terhadap kehadiran sesama yang ada di sekitar kita; menciptakan jurang yang memisahkan kita dengan kita, kita dengan mereka. Lukas secara dramatis melukiskan kehidupan, situasi dunia tempat kita ada dan mengais hidup dan apa yang mesti kita lakukan berhadapan dengan kenyataan hidup ini. Di satu sisi, ia menampilkan, Lazarus si miskin, yang coba mempertahankan hidupnya dengan mengumpulkan sisa makanan yang jatuh dari kelimpahan meja si kaya dan di sisi lain ada si kaya yang berpesta pora tanpa peduli nasib si miskin. Maut mengakhiri hidup keduanya dan tempat keduanya bertukar; yang miskin memperoleh kebahagiaan kekal sebagai ganti penderitaannya semasa hidup dan yang kaya menderita dalam api kekal sebagai upah kesenangan yang sudah dialami. Kisah ini membuat kita takut menjadi kaya dan melihat dengan sebelah mata mereka yang memiliki banyak materi. Kekayaan yang dimiliki bukanlah sesuatu yang buruk apalagi diperoleh lewat cucuran keringat dan air mata. Ia menjadi buruk bila didapatkan dengan cara yang tidak halal dan kehadirannya membuat kita lupa dan buta akan kehadiran dan nasib sesama. Tetapi apa itu kekayaan? Kekayaan adalah banyaknya materi yang kita miliki tetapi bisa juga diwakili oleh kekuatan, fisik yang sehat, perasaan yang normal, otak yang encer dan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang, segala potensi yang ada dalam diri kita. Kita bukan orang-orang kaya kalau dilihat dari materi yang kita miliki tetapi bila keadaan diri jadi alat ukur, kita termasuk orang-orang makmur. Nasib kita di hidup yang akan datang ditentukan oleh apa yang kita buat dengan apa yang kita miliki. Apakah dengan kekayaan yang kita miliki, kita mampu mengurangi penderitaan sesama, ataukah sebaliknya kita menggunakannya untuk menambah penderitaan sesama, memiskinkan mereka yang sudah miskin, memanipulasi kemiskinan mereka demi memperbesar kekayaan kita? Yang akan dipertanggungjawabkan bukan apa yang kita miliki, berapa banyak yang kita miliki tetapi apa yang kita buat dengan semua yang kita miliki. Di sini peringatan bukan ditujukan hanya kepada mereka yang punya banyak materi tetapi kepada semua kita yang bernama manusia.

Kita bukanlah orang-orang kaya bila materi menjadi alat ukurnya. Tetapi seperti yang sudah dikatakan kekayaan tidak terbatas pada materi yang kita milki. Diri kita sendiri dan segala yang ada pada kita adalah kekayaan kita yang mesti kita gunakan secara bertanggung jawab. Karena bagaimana dan untuk kita gunakan apa yang ada pada kita, itulah yang menentukan nasib kita apakah nasib kita akan sebaik Lazarus ataukah semalang si kaya. Kisah ini mengajar kita bahwa sebagai orang-orang beriman, kita dipanggil untuk menggunakan secara bijaksana dan sebaik mungkin apa yang ada pada kita. Kita mesti merasa terpanggil untuk menjadi jembatan yang mampu menghubungkan segala perbedaan. Kita hadir untuk mengurangi beban hidup sesama. Selain itu kita mesti waspada dengan apa yang ada pada kita karena apa yang ada pada kita bisa membawa kita kepada kehidupan seperti si Lazarus dan sebaliknya bisa menjadikan kita menderita seperti si Kaya. Bila yang kita inginkan adalah hidup kekal, jangan biarkan kelobaan dan keserahkan merusak hatimu yang masih punya rasa. Karena itu jangan tutup mata anda atau mata anda boleh buta tetapi hati anda jangan ikut buta.

[ back ]
footer2.jpg