Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 13-08-2015 | 00:36:29
By : EREMINOLD MANEHAT
Theme : "MARI BERCERMIN PADA SANG BUNDA"

Mat 1:39-56, Sabtu, 15 Agustus 2015

Sudah menjadi satu kebiasaan bahwa setiap orang ingin bercermin. Hitunglah berapa banyak waktu yang kita habiskan di depan sebuah kaca pemantul dalam sehari. Setiap kita ingin kelihatan rapih. Begitu pentingnya kerapihan dan penampilan sehingga masing-masing kita memiliki cermin dalam aneka bentuk dan ukuran. Bahkan demi kerapihan dan penampilan, kita coba bercermin diri pada setiap benda yang mampu memantulkan diri kita bahkan pada genangan air. Cermin, di hadapannya kita dapat melihat siapa kita sebenarnya, kita bisa juga kelihatan tidak seperti biasanya. Mungkin benar, manusia adalah makhluk yang selalu berusaha menampilkan diri tetapi di saat yang sama coba menyembunyikan keasliannya dalam penampilannya itu. Pernahkah kita berpikir bahwa kerapihan lahiriah perlu diimbangi dengan keapikan batiniah? Pernahkah kebiasaan bercermin pada sepotong kaca, menghantar kita untuk bercermin pada hidup sesama; kebaikan, keterbukaan, kejujuran dan perhatian mereka?

Hari ini kita merayakan pesta St. Maria diangkat ke surga. Merayakan pesta ini, yang harus kita tanyakan bukannya, “bagaimana Maria diangkat ke surga?” tetapi “mengapa Maria diangkat ke surga atau mengapa Maria mendapat keistimewaan ini?” Dan perlu kita ketahui bahwa perayaan ini tidak akan menambah kehormatan Maria karena dia sudah menduduki tempat terhormat di hadapan Allah dan manusia. Bila kita menghubung perayaan ini dengan pertanyaan “bagaimana Maria diangkat ke surga?”, kita tidak menemukan jawaban pasti untuk itu, sebaliknya banyak soal yang akan kita temukan. Tetapi bila kita menghubungkan perayaan ini dengan pertanyaan “mengapa Maria diangkat ke surga atau mengapa Maria mendapat keistimewaan ini?”, kita akan mendapatkan manfaat dari perayaan ini buat menata hidup kita. Perayaan ini punya manfaat buat kita yang merayakannya; karena dengan merayakannya kita berharap agar hati dan hidup sang bunda bisa menjadi hati dan hidup kita. Mengapa bunda Maria memiliki tempat istimewa? Bukankah dia cuma seorang wanita seperti wanita-wanita lain, seorang gadis di antara jutaan gadis, seorang ibu di antara sekian ibu yang pernah kita jumpai dalam hidup? Dia punya tempat istimewa karena dia berbeda dari mereka. Dia adalah seorang wanita yang memiliki sikap keibuan dan seorang ibu yang punya rasa seorang wanita. Dia lain karena banyak wanita yang telah kehilangan keibuannya dan banyak ibu yang tidak lagi memiliki rasa seorang wanita. Dia adalah wakil mereka yang punya kedudukan tetapi tidak lupa dari mana mereka berasal. Keterpilihannya sebagai bunda Tuhan tidak mengha-langinya untuk tetap membangun relasi dengan orang-orang kecil. Posisi atau predikat yang diperolehnya tidak menjadi alasan untuk menjauhkan diri dari mereka. Begitu sering predikat kita menjadi penyebab melebarnya jurang pemisah antara kita. Saat kita menduduki posisi tertentu kita lupa dari mana kita berasal kemudian berbalik menjadi lintah pengisap darah dan hidup sesama. Dalam kesederhanaannya dia tampil sebagai sumber kegembiraan bagi Elisabet bahkan anak yang ada dalam kandungannya. Kita tidak sama dengan Maria karena di mana kita hadir di sana sesama kehilangan kegembiraan, yang kita wartakan adalah isu tentang keburukan sesama. Dia adalah contoh orang yang percaya bukan hanya dalam kata tetapi dalam hidup; dia berbeda dari kita karena kata dan hidup kita jauh berbeda. Dia adalah duta mereka yang tahu bersyukur bahwa hidup mereka adalah anugerah yang mesti disyukuri. Hal ini nampak dalam nyanyian pujiannya. Di sini kita tidak dapat menyamainya karena kita cenderung mengagungkan diri lalu lupa akan campur tangan Tuhan dan sesama.

Kebiasaan bercermin pada sepotong kaca mesti membantu kita untuk dapat bercermin pada hidup sesama, kerapihan lahiriah kita diimbangi dengan kerapihan batianiah sehingga kita tidak terlihat seperti kubur yang berlabur putih. Bunda Maria adalah bunda kita. Doa mohon bantuannya sudah menjadi bagian keseharian kita tetapi apakah hidup kita sudah menjadi satu untaian rosario yang hidup masih terus dipertanyakan; hati dan hidup sang bunda belum menjadi hati dan hidup kita. Perayaan ini sebentar lagi menjadi masa lalu tetapi panggilan untuk hidup seperti bunda Maria tidak akan berakhir; panggilan ini akan terus bergaung dalam setiap derap langkah yang kita pahatkan. Karena itu, bila anda sedang bercermin, ingatlah bahwa kerapihan lahiriah mesti diimbangi dengan kerapihan batiniah; doa rosario kita mesti menjadi untaian rosario yang hidup karena hati dan hidup bunda Maria perlahan-lahan mulai menjadi hati dan hidup kita.

[ back ]
footer2.jpg