Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 13-10-2009 | 23:26:29
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : TUNJUKKAN KESEJATIANMU
(Lukas 11:47-54, Kamis, 15 Oktober 2009)

Mungkin anda akan terkejut bila diminta untuk menampilkan kesejatian diri anda. Bila demikian; ini berarti kesejatian diri anda belum nampak atau masih bingung. Anda belum mampu menunjukkan bahwa anda jauh berbeda dari yang lain. Bisa jadi karena keunikan anda telah berubah menjadi keanehan. Di sisi lain mungkin secara harafiah, permintaan ini bisa saja disalahtafsir sebagai satu bentuk provokasi; anda diminta untuk mempertajam perbedaan yang ada, mendorong anda untuk memi-sahkan diri dari sesama. Tetapi sebagai orang kristen, permintaan ini mengisyaratkan bahwa di mana saja kita berada kita harus menunjukkan diri sebagai orang-orang yang sungguh-sungguh kristen. Kita tidak perlu memisahkan diri dari yang lain tetapi dalam kebersamaan dengan yang lain kita harus menunjukkan bahwa kita khas. Hidup kita harus jauh lebih lain dan lebih baik di mana kekhasan nilai kristen dapat terungkap lewat hidup dan laku kita dalam relasi dengan dunia. Mestinya kita hidup sebagaimana Kristus hidup sehingga di mana saja kita berada di sana bisa terjadi mukjizat-mukjizat kecil yang dapat merubah jalan ceritera hidup ini.

Dalam hubungan dengan peran kita kebersamaan, Yesus meminta para pende-ngarNya untuk mewaspadai cara hidup para ahli taurat dan kaum Farisi ataupun menjauhkan mental yang dimiliki orang-orang ini, orang-orang yang kaya akan teori tentang hidup yang lebih baik tetapi mereka sendiri tidak mempraktekkan bagaimana seharusnya berperan positif dalam kebersaman. Hal ini ditunjukkan Yesus lewat kritikannya terhadap sikap hidup mereka. Kebaikan yang mereka tunjukan hanyalah cara untuk mengelabui orang lain dan menjadi topeng penutup kejahatan mereka. Kebaikan yang anda lakukan akan mendatangkan kebaikan dan bernilai positif bila hal itu bersumber dan mengalir dari hati yang baik. Di sini yang terpenting bukanlah apa yang kita lakukan tetapi motivasi yang melatarbelakangi semua aktivitas kita. Perulangan atas permintaan ini mengisyaratkan seriusnya awasan ini, hidup ini sudah terlalu penuh dengan aneka sandiwara yang kadang menyakitkan. Inilah sebab mengapa ceritera hidup kita sulit berubah. Keaslian-kesejatian diri kita telah dilumeri aneka lipstik kehidupan. Yang kita tampilkan dalam kebersamaan hanyalah usaha untuk membangun kesan baik di mata sesama tetapi hati kita jauh dari apa yang ditampilkan. Kecaman Yesus terhadap kaum Farisi dan para ahli Taurat bukanlah satu ekspresi kebencian Yesus terhadap mereka, Yesus hanya tidak menyukai cara hidup mereka yang penuh kepura-puraan. Kecaman Yesus mengisyaratkan bahwa kisah hidup ini akan berubah bila kita mau berubah dan perubahan selalu mungkin bila kita membuka diri, menyadari situasi diri kita dan dampak kehadiran kita di antara yang lain. Kebaikan yang kita tunjukkan haruslah menjadi bukti bahwa kita memang baik bukan untuk membangun kesan bahwa kita baik. Kita sungguh baik dan kita mau sesama menjadi baik karena kebaikan kita. Di sini Yesus mau menunjukkan bahwa munculnya aneka soal dalam hidup dikarenakan oleh sikap kita yang suka mengada-ada tanpa mau menerima diri apa adanya. Bagi Yesus, kesejatian diri, mutu hidup kita tidak bergantung dari apa yang kita tampilkan tetapi oleh apa yang kita hidupi, kesejajaran antara apa yang kita lakukan dengan apa yang yang ada dalam hati kita. Ingat hati menjadi kunci segalanya. Menghindari hal ini, Yesus menganjurkan kita menampilkan diri apa adanya tanpa mengada-ada, semangat hidup yang dimiliki oleh mereka yang selalu mengikutsertakan hatinya saat hendak membuat sejarah. Di jaman di mana mental para ahli taurat ini sedang menggerogoti kebersamaan kita, kiranya awasan Yesus tetap aktual. Impian hidup kita akan menjadi kenyataan bila kita menjauhi mental dan cara hidup kaum Farisi dan para ahli taurat dan hidup apa adanya tanpa mengada-ada dengan hati yang bersih tanpa basa-basi.

Kita begitu benci bila kesinambungan sinetron kesayangan kita diselingi dengan begitu banyak iklan yang membosankan. Apakah perasaan yang sama kita miliki saat menyaksikan keseharian kita yang tidak jauh berbeda dari iklan-iklan yang ditayangkan? Kita bukan iklan salah satu produk. Kalau selama ini hidup kita tidak jauh berbeda dari hidup kaum Farisi dan para ahli taurat, sudah saatnya kita menjadi lain dari mereka; kita bukan kubur yang berlabur putih tetapi manusia yang punya hati yang mau merasakan apa yang sedang dirasakan sesama. Bila selama kebersamaan kita dirusakan oleh sikap mengada-ada, sudah saatnya kita menghidupi spiritualitas hidup apa adanya; hidup dengan seluruh hati tanpa mengada-ada. Bila selama ini kita lebih suka berlaku pura-pura, sudah saatnya kita merubah motivasi kita, pola pikir kita, menghidupkan kembali nilai-nilai luhur kekristenan kita; bekerja dengan cinta yang mengabdi, berlaku dengan penuh penghargaan dan berkata dengan penuh hormat demi kebaikan kita, kebahagiaan sesama dan kemuliaan Tuhan.

"Hidup apa adanya, jangan mengada-ada karena kesejatian diri anda terletak pada hidup anda apa adanya"
[ back ]
footer2.jpg