Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 08-10-2009 | 00:22:09
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “WASPADALAH TERHADAP APA YANG DIMILIKI”
(Mrk 10:17-30, Minggu, 11 Oktober 2009)

Bila kita mengamati dengan jeli hidup ini, kita akan menemukan bahwa hidup ini disengajakan ataupun tidak telah menciptakan dua dunia yang semakin sulit diseberangi; dunia orang-orang berada yang lebih berpikir “di mana” mereka akan menikmati makan siangnya atau ke mana mereka akan menghabiskan liburan musim panasnya dan lautan orang miskin, dengan semangat hidup ibarat kaktus di atas karang enggan hidup mati tak rela yang menghabiskan waktunya dengan memutar otak akan "makan apa" mereka siang ini dan mau dapat di mana. Walau-pun situasi kedua kelompok manusia ini berbeda tetapi dalam hal tertentu kon-sekuensi usaha keduanya hampir tidak jauh berbeda. Kemiskinan dapat membuat orang pasrah pada nasib tetapi bisa juga menjadikan orang buas seperti serigala lapar. Dan kata orang kemiskinan yang dihidupi secara terpaksa menyimpan kerakusan yang mahadahsyat. Kemiskinan boleh jadi karena suratan nasib, bisa juga lahir karena kepolosan manusia menghadapi dunia yang sering tak berperasaan. Kemiskinan menciptakan banyak dermawan, bisa juga melahirkan orang-orang kaya baru yang lihai memanipulasi kemalangan sesamanya. Seperti kemiskinan, kekayaan punya dampak yang sama. Kekayaan dapat melahirkan banyak dermawan, bisa juga menghadirkan serigala-serigala lapar ibarat laut yang tak pernah penuh walau seribu satu anak sungai mengalir ke dalamnya. Ia dapat membuat orang prihatin atas nasib sesamanya, bisa juga jadi inspirasi bagaimana mengail keuntungan di air keruh. Orang menjadi koruptor bukan karena mereka tidak punya apa-apa tetapi karena yang dipunyai dirasa belum cukup dan ada kesempatan untuk itu.

Markus berkisah seorang pemuda datang menghadap Yesus meminta nasehat bagaimana dia bisa memperoleh hidup kekal; harta duniawi sudah dia miliki, hanya hidup kekal yang belum dia punya. Saran Yesus, dia harus bersedia menjual segala yang dia miliki lalu mengikuti Yesus. Syarat ini berat dan dia pulang dengan kecewa. Dia gagal tes mengikuti Yesus bukan karena ia melanggar salah satu sepuluh perintah Allah yang telah dihidupinya sejak masa mudanya tetapi karena begitu berat baginya membagi kekayaan yang dimilikinya yang dikum-pulkannya bertahun-tahun. Kisah ini hendak menegaskan beberapa hal; pertama, apa yang kita miliki bukan jaminan segalanya; yang menentukan kesejatian seorang murid dan lolos tidaknya dia mengikuti Yesus bukannya apa yang kita miliki tetapi bagaimana menggunakan yang ada pada kita untuk membangun relasi dengan sesama, menjadi jembatan untuk mempertemukan kita dengan sesama bukan untuk memisahkan kita dari mereka. Yang kita miliki mestinya meng-gerakkan hati kita untuk mengulurkan tangan kasih kepada mereka sehingga yang mengumpulkan banyak tidak berkelimpahan dan yang mengumpulkan sedikit tidak berkekurangan. Ini hanya mungkin bila kita punya kesediaan untuk berkorban. Ada mental hidup bersama bukan semangat untuk mengumpulkan. Kedua, keterikatan pada apa yang kita miliki, orientasi pada materi dan kekayaan bisa membuat kita kehilangan segala, kita bisa tidur di atas kekayaan yang gelisah. Di sini kita diingatkan untuk tidak takut dalam berbuat baik karena kebaikan bukan sepotong roti yang akan habis bila dibagi, kebaikan yang siap dibagi akan berubah menjadi sumber air yang tidak pernah akan mengering walaupun seribu satu tangan menimba darinya. Dan kebaikan yang anda lakukan membuat anda tidak akan mati setiap saat orang membicarakan kebaikan anda walaupun anda sendiri sudah tiada. Ketiga, mungkin saja kita sedang berpikir tentang nasib mereka yang kaya tetapi jangan pikir selamat dahulu karena kekayaan bukan terbatas pada materi yang kita miliki saja tetapi seluruh diri kita. Boleh jadi dari sudut materi, kita bukan orang-orang kaya tetapi dari segi fisik dan psikis kita sungguh sangat kaya. Kita punya fisik yang bagus, otak yang encer, telinga bagai radar, mata seekor rajawali, hati yang peka dan psikis yang sehat tetapi apakah semuanya ini kita gunakan secara baik ataukah dengan segala yang kita miliki kita berusaha memiskinkan sesama, menjadikan diri kita sebagai dewa-dewa kecil yang patut disembah?

Menjadi kaya bukan sesuatu yang buruk, bagaimana memperolehnya dan menggunakannya yang dapat menjadikan kita buruk. Tuhan tidak melarang kita menjadi kaya tetapi Dia menghendaki agar dengan apa yang kita miliki nasib ma-lang sesama bisa ditolong. Kekayaan dan usaha mendapatkannya telah melebarkan jurang antara kita dengan kita, kita dengan mereka. Kekayaan bisa menjadikan kita dermawan, bisa juga memberanikan kita untuk berlaku tidak adil terhadap sesama, menggoyahkan sendi-sendi kesetiaan, meruntuhkan pilar-pilar kasih, melenyapkan kesabaran, mengikis kelembutan dan membutakan mata kita terhadap kehadiran sesama. Sebagai pengikut-pengikut Kristus, kita dipanggil dan diingatkan untuk berhati-hati dengan apa yang kita miliki dan apa yang tidak kita punya. Masihkah kita memliki seberkas kasih untuk membagi apa yang kita miliki kepada mereka yang sangat membutuhkannya?

“Yang kita miliki mesti menjadi jembatan yang dapat mempertemukan dan mempersatukan kita dengan kita”.
[ back ]
footer2.jpg