Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 07-10-2009 | 00:17:24
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘BIARKAN FIRMANNYA MENGUASAI HIDUPMU’
(Lukas 11:27-28, Sabtu, 10 Oktober 2009)

Bila kita diminta untuk membiarkan firman Yesus menguasai hidp kita, ini berarti firmanNya belum sepenuhnya ataupun tidak sama sekali dibiarkan menguasai hidup kita; kita belum menghidupi firmanNya yang kita dengar, kita terima. Seandainya kita telah menjalankannya dalam hidup, menampakkannya dalam relasi kita dengan yang lain pasti ceritera hidup ini akan lain. Karena keselamatan kita tidak ditentukan oleh apakah kita mendengarkan atau tidak apa yang difirmankanNya kepada kita tetapi bergantung dari apakah kita melakukan atau menghidupi apa yang kita dengar atau tidak. Mendengar tanpa melakukannya mematikan daya magis apa yang didengar. Melakukan tanpa mengikutsertakan seluruh hati dan hidup, ini sebuah keterpaksaan. Bila kita sungguh beriman, kata-kata di atas adalah satu keharusan untuk dijalankan, satu komitmen yang mesti dipenuhi dan dibaharui terus menerus. Hanya saja, kita baru sampai pada tahap mendengar. Kita cenderung mendengar sekedar mengelabui pembicara pahadal hati kita tidak diikutsertakan di sana. Ceritera hidup ini akan berubah bila kita bersedia beralih dari sikap mendengar kepada kesediaan menjalankan-menghidupi apa yang kita dengar, di sini kesejatian kita disaksikan.

Kebahagiaan dan keselamatan kekal adalah impian setiap orang beriman, tetapi suasana ini mesti diperjuangkan bahkan perjuangan untuk meraihnya sudah harus dimulai seiring dengan usaha kita menjawabi kebutuhan keseharian kita. Kebahagiaan dan keselamatan kekal bukan satu penentuan akhir tetapi sesuatu yang sudah harus ditentukan sekarang dan di sini, dalam keseharian kita berha-dapan dengan firman yang hampir tiap hari kita dengarkan. Saat sekaranglah yang menen-tukan di mana tempat kita kelak. Ini berarti, yang menentukan di mana tempat kita kelak bukanlah Allah yang kita imani melainkan diri kita sendiri. Seperti seorang penulis, kitalah penulis-penulis kisah hidup kita sendiri tentang hidup sesudah hidup di dunia ini berakhir. Karena itu Yesus mengingatkan bahwa mendengarkan saja belum cukup, percaya saja belum berarti, punya hubungan dengan Dia saja bukan jaminan, apa yang kita dengar-kita imani harus kita hayati dan kita hidupi. Hal ini dikatakan Yesus karena kita cenderung melihat hubungan darah dan berhenti pada proses mendengar-percaya tanpa tindak lanjut. Kita percaya akan Tuhan yang menerbitkan matahari dan menurunkan hujan untuk siapa saja tetapi dalam praktek perhatian, pelayanan dan cinta kita masih menciptakan begitu banyak kotak tak kelihatan yang memisahkan dan memper-tajam perbedaan. Kita beriman akan Yesus; jalan kebenaran dan hidup tetapi keseharian kita menunjukkan bahwa kita belum mampu menjadi jalan pulang bagi mereka yang tersesat bahkan kita semakin membingungkan mereka, kita tidak berani menentang ketidakadilan dan ketidakbenaran bahkan kita sendiri menjadi salah satu mata rantai lingkaran hitam ini, kehadiran kita bukannya memberi semangat hidup bagi sesama melainkan di mana kita hadir di sana sesama kehi-langan daya juangnya. Di sini maksud Yesus jelas iman kita mesti mempengaruhi hidup kita dan hidup kita mesti menjadi bukti apa yang kita imani. Keselamatan sama sekali tidak punya relasi dengan hubungan darah, keselamatan tiap pribadi ada di tangannya sendiri karena itu ketika dikatakan berbahagialah ibu yang telah menyusui Engkau, Yesus dengan tegas mengatakan bahwa yang berhak memperoleh kebahagiaan adalah mereka yang mendengar dan menghidupi sabdaNya. Bila anda ingin masuk dalam kelompok orang yang bahagia, dengarkan dan hidupi apa yang disabdakanNya. Inilah jalan mengubah kisah hidup kita.

Bahwa kita percaya akan Tuhan, satu kenyataan yang sulit dibantah tetapi apakah kepercayaan kita itu mempengaruhi seluruh kata, laku dan hidup kita masih sangat disangsikan. Seandainya iman kita telah menjadi hidup kita, kisah hidup kita pasti lain. Ini tidak berarti impian kita tidak lagi punya peluang menjadi kenyataan. Harapan kita masih tetap hidup, kita masih punya peluang. Hanya apakah kita bersedia membiarkan iman kita mempengaruhi hidup kita? Mende-ngar saja belum cukup, punya relasi dengan Yesus bukan jaminan, percaya saja belum banyak berarti, hidup ini akan lebih bermakna dan kebahagian bukan satu impian kosong bila iman kita menjiwai seluruh hidup kita dan hidup kita menjadi bukti iman yang kita miliki. Inilah satu bentuk pewartaan yang hidup dan hidup yang punya nilai pewartaan.

“Kalau firmanNya mempengaruhi hidup kita, ceritera hidup ini pasti lain”
[ back ]
footer2.jpg