RSS
 
 
 

TIRILOLOK News Detail

  Share on Facebook
   
  - TIRILOLOK.COM, 21-12-2009
  ORANGTUA SISWA SDN KUANINO KELUHKAN PUNGUTAN
 

Salah satu orangtua siswa SDN Kuanino, Cornelis Kiik kepada wartawwan di kediamannya mengeluhkan pungutan sebesar 100 ribu rupiah yang dilakukan  SDN Kuanino. Menurut Cornelis, sekolah melakukan pungutan sebesar 100.000 rupiah peranak tanpa sepengetahuan orangtua siswa.

Kepala SD Negri Kuanino Kota Kupang, Silpa Loa ketika dikonfirmasi atas pungutan tersebut di ruang kerjanya, Senin 14 Desember, mengatakan, banyak kekurangan dialami sekolah tersebut meski telah ditetapkan sebagai Sekolah Rintisan Standar Internaional sehingga sekolah melakukan pungutan. Menurut Silpa Loa, pungutan yang diminta dari orangtua siswa sebesar 100.000 rupiah per kepala keluarga bukan persiswa.

Ditanya apakah sudah dibicarakan bersama orangtua siswa, Silpa Loa mengatakan, sebelum pungutan dilakukan pihaknya sudah terlebih dahulu membicarakan hal itu dengan orangtua siswa melalui Komite Sekolah dan telah mendapat persetujuan. Silpa Loa sempat kaget karena kedatangan orangtua disertai dua wartawan, namun Silpa Loa bersedia melanjutkan penjelasannya, setelah disampaikan bahwa kehadiran wartawan untuk membantu mengekspose semua kendala dan persoalan yang dihadapi sekolah yang baru ditetapkan Pemkot sebagai Sekolah Rintisan Standar Internasional pada 2008.

Lebih jauh Silpa Loa menjelaskan, pilihan itu dilakukan karena SD yang dibangun di atas lahan berstatus Hak Pakai yang diserahkan Korem 161 Wirasakti Kupang itu tidak dilengkapi dengan infrastruktur pendukung seperti  ruang kelas, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, pagar keliling dan berbagai persoalan lainnya.

Terkait kekurangan ruang kelas Silpa Loa menjelaskan, pihaknya terpaksa menjadikan gudang sebagai salah satu ruang tempat siswa kelas VB (baca: 5B-Red) menerima pelajaran. Sedangkan mengenai pagar keliling sekolah, Silpa mengatakan, pihaknya terpaksa memungut dari orangtua siswa, untuk mengamankan kompleks sekolah dari kemungkinan anak-anak muda sekitar kompleks menjadikan kompleks sekolah sebagai tempat mangkal alias pacaran.

Atas penjelasan ini,  orangtua siswa Cornelis Kiik menyatakan demi kebutuhan anak-anaknya ia mau menyumbang. Cornelis juga minta maaf, sebab ia tidak mengetahui adanya pertemuan komtite sebab ia tidak berada di Kupang. (VN_02)

   
 
Sound:
footer2.jpg