RSS
 
 
 

TIRILOLOK News Detail

  Share on Facebook
   
  - TIRILOLOK.COM, 21-05-2013
  SEMUEL HAUTEAS:PROGRAM SARJANA PELOPOR PEMBANGUNAN PERDESAAN JADI UNGGULAN
  Kupang, tirilolok.com - Kepala Bidang Pemuda dan Olah Raga Dinas PPO NTT Semuel Hauteas dalam Sosialisasi Program Sarjana Pelopor Pembangunan Perdesaan-PSP3 di aula Hotel Romyta Kupang Selasa (21/02 13) mengatakan, Program Sarjana Pelopor Pembangunan Perdesaan menjadi salah satu Program Unggulan di Indonesia.

Menurut dia, Program unggulan Pemerintah Republik Indonesia tersebut, mulai diluncurkan pada tahun 1989 dibawah Koordinasi Kementrian dan Kebudayaan namun pada tahun 2009 Program tersebut dirasa belum memberikan dampak yang cukup bermutu, sehingga dilakukan langkah revitalisasi, untuk menyentuh seluruh Wilayah Indonesia, dari Papua hingga Aceh lalu diramu dan diubah nama menjadi Program Sarjana Pelopor Pembangunan Perdesaan.

“ Program ini dibagi dalam beberapa Zona dan NTT masuk dalam Zona 4 bersama Bali dan Nusa Tenggara Barat”, ujar Hauteas.

Menurut dia, Peserta PSP3 dari NTB dan Bali sebanyak 17 dan dari NTT telah dikirim ke Bali sebanyak 11 orang dan NTB 16 orang sejak 2 tahun terakhir. “Dengan demikian Peserta SP3 yang masuk ke NTT hanya 17 orang bertugas di Kabupaten Kupang, sementara yang dikirim ke luar NTT sebanyak 27 orang”, katanya.

Ia menjelaskan, para peserta SP3 dari NTT tahun 2013 sedang dalam Proses rekrutmen dan jika tidak berhalangan, mereka yang lolos seleksi akan dikirim ke 5 Provinsi diantaranya Papua, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utarat dan Sumatera Utara.

Menurut Sem Hauteas, para sarjana yang sedang diseleksi terdiri dari Sarjana Pendidikan, Ekonomi, Sarjana Hukum, Perikanan dan Pertanian.

Kris Pelokila Sekretaris Lembaga Pengabdian Masyarakat Undana mengatakan, Program ini diluncurkan Pemerintah atas keprihatinan terhadap berbagai persoalan bangsa antara lain pendidikan, Kesehatan, Ekonomi dan berbagai persoalan lainnya, sehingga diharapkan dengan kehadiran Peserta SP3, tidak ada lagi orang yang tidak bekerja, tidak sehat dan terdidik. “ Hal ini harus menjadi motivasi bagi peserta SP3 untuk mendorong Pembangunan di Desa”, kata Pellokila.

Dalam sesi Tanya jawab salah satu calon Peserta Program SP3 Serly Saefatu meminta penjelasan dari Para Nara Sumber bagaimana nasib Peserta Program tersebut jika di tengah Kontrak terpaksa menikah. Terhadap hal ini Semuel Hauteas dan Kris Pelokila mengatakan, salah satu Item Kontraknya menyatakan selama 2 tahun massa Kontrak para peserta tidak boleh menikah, tetapi jika terjadi maka peserta tersebut tidak akan diputuskan Kontraknya asal yang bersangkutan tidak meninggalkan tugas.

Hal ini dibuktikan dengan salah satu peserta dari NTB yang telah menikah tetapi terus bekerja sesuai kontrak. Hadir pada saat Sosialisasi itu Peserta SP3 dari NTB dan Bali yang bertugas di Kabupaten Kupang masing-masing desa Nitneo dan Kelurahan Batakte, serta para calon Peserta SP3 dari NTT. (VN-02)
   
 
Sound:
footer2.jpg